Rabu, 16 September 2009

Komentar

“Dengan pikiran seorang sarjana dan hati seorang pendoa syafaat, Joel Richardson telah mengemukakan sebuah gambaran yang menggugah rasa ingin tahu kita akan “peperangan akhir jaman” yang akan datang. Saat Islam militan bangkit dengan angkara murka, dan dengan dukungan suatu roh yang anti-semitis, pada saat itu akan bangkit pula sekelompok orang yang rela memberikan hidup mereka bagi Injil Yesus Kristus. Menggemparkan...Mencerahkan...dan merupakan sebuah penyadaran untuk semua orang percaya yang tulus hati”.
– James W. Goll, Pendiri Encounters Network
Penulis The Seer, The Lost Art of Intercession and Praying for Israel’s Destiny

“Joel Richardson telah menyampaikan sebuah konsep yang cerdas, patut dipikirkan, penuh belas kasih dan berdasarkan Firman Tuhan; berkenaan dengan anti paralel teologis yang menakjubkan, antara eskatologi Islam radikal dan iman Alkitabiah. Ia sangat menekankan bahwa hal ini bukan suatu kebetulan humanistis semata. Namun, Joel juga bukan seorang yang bereaksi secara berlebihan, juga bukan seorang radikal paranoid.

Daftar Isi

KOMENTAR
DAFTAR ISI

Ucapan Terimakasih
Pendahuluan

Bagian Satu: Pendahuluan Untuk Eskatologi dan Doktrin Islam
Pasal 1 : Mengapa Buku Ini? Kesadaran Akan kebangkitan Islam
Pasal 2 : Teks-teks Suci Dalam Islam
Pasal 3 : Eskatologi Islam
Pasal 4 : Sang Mahdi: Mesias Yang Dinantikan Dalam Islam
Pasal 5 : Perbandingan Anti Kristus Alkitab dengan Sang Mahdi
Pasal 6 : Yesus Muslim
Pasal 7 : Perbandingan Antara Nabi Palsu Dan Yesus Muslim
Pasal 8 : Dajjal: Anti Kristus versi Islam
Pasal 9 : Perbandingan Antara Yesus Alkitab Dan Dajjal
Pasal 10: Kembalinya Kerajaan Anti Kristus Islam
Pasal 11: Natur Gelap Wahyu-wahyu Muhammad
Pasal 12: Roh Antikristus Dalam Islam
Pasal 13: Kebencian Kuno Islam Terhadap Orang Yahudi
Pasal 14: Kemartiran Akhir Jaman dan Praktek Pemenggalan Kepala Dalam Islam
Pasal 15: Jihad Dan Tujuan Islam Untuk Mendominasi Dunia
Pasal 16: Memahami Ketidakjujuran dan Penipuan Dalam Islam
Pasal 17: Penyesatan Besar, Teror, dan Harga Pertobatan Islam
Pasal 18: Kesimpulan Perbandingan-perbandingan Antara Narasi Islam Dan Alkitab
Mengenai Akhir Jaman


Bagian Dua: Kelanjutan Analisa
Pasal 19: Problem-problem Potensial Mengenai Tesis
Pasal 20: Pemikiran-pemikiran Selanjutnya

Bagian Tiga: Bagaimana Kita Harus Meresponinya?
Pasal 21: Merespon Dengan Doa
Pasal 22: Merespon Dengan Menjangkau
Pasal 23: Mempersiapkan Diri Untuk Kesyahidan

Tambahan
Daftar Pustaka
Catatan Kaki

Ucapan Terimakasih

TERIMAKASIH UNTUK ISTRIKU

Saya sangat berterimakasih untuk istriku yang cantik dan kukasihi. Saya tidak dapat melakukan semua ini tanpa dirimu – kau sudah tahu itu – namun saya juga ingin semua orang mengetahuinya. Kau layak mendapatkan banyak hal. Aku mencintaimu.


DAN UNTUK BANYAK ORANG LAINNYA

Saya ingin berterimakasih pada teman baik saya Adam karena dengan berani ia menolak untuk menerima status quo. Engkau meneguhkan dan menginspirasi saya untuk menggali di tempat-tempat yang hanya dijalani sedikit orang. Saya ingin berterimakasih pada Wes dan Jane atas pertolongan dan dukungan kalian. Kalian adalah pasangan yang menakjubkan. Terimakasih Robert Livingston dan Ralph Stice, untuk persahaban kalian dan juga dukungan kalian pada saya dalam menjalani seluruh proses ini. Kalian benar-benar nabi sejati. Untuk sang Profesor konservatif dari Chicago, (kau tahu kaulah orangnya) karena kaulah yang pertama-tama memberikan waktu bagiku untuk mengerjakan seluruh proses ini – engkau adalah pelopor sejati dan juga sangat bermurah hati. Juga terimakasih dan sekaligus permohonan maaf untuk J. Hall yang menjadi pembaca pertama dan mengomentari versi awal yang masih kacau balau. Terimakasih yang mendalam untuk Jochen Katz dari Answering-Islam.org untuk kontribusinya yang kokoh dalam memaparkan dialog Kristen-Muslim dan untuk menempatkan versi online buku ini di AI. Terimakasih untuk kesabaranmu dan kemurahan hatimu. Untuk semua orang yang telah menolong memperbaiki pemahaman-pemahaman saya yang kebablasan dan tidak habis-habisnya, kesalahan-kesalahan cetak, kekeliruan, dan sebagainya: James dari AI, Marc, saudara Katolik saya dari Timur Tengah dan terutama untuk Keith, saudaraku yang “setia” karena ia tidak hanya memformat versi online buku ini namun juga mengoreksi banyak kesalahan yang kemudian bermunculan. Terimakasih saya yang mendalam dari lubuk hati untuk anda semua yang telah memberikan dukungan anda untuk buku ini. Jumlah dan kualitas orang-orang yang telah melakukannya sangat mengharukan saya. Dan akhirnya, walau bukanlah yang terkecil, terimakasih untuk rekan bisnis saya Bob karena telah menjadi sahabat rohani dan mendampingi saya setiap hari, dan karena telah mendengarkan saya yang mengoceh tak hentinya tentang topik-topik gelap seperti itu. Dan untuk semua orang lain yang telah mendukung saya dan meneguhkan saya, kiranya semua itu dikembalikan pada kalian berlipat kali ganda!

Pendahuluan

SEBUAH CATATAN DARI PENULIS

Ketika menulis buku ini, saya menemukan bahwa saya berada dalam posisi yang sulit oleh karena banyak alasan. Di satu sisi, saya ingin berbagi dengan anda sedikit hal mengenai saya – pengalaman saya dalam dialog antar agama Kristen/Muslim dan kisah tentang bagaimana sampai saya menulis buku ini. Di sisi yang lain, dengan alasan yang kuat, saya bertekad bukan hanya menggunakan nama samaran namun juga sesedikit mungkin memberikan informasi tentang pribadi saya.

Dalam suatu hari, saya menerima banyak e-mail dari sahabat-sahabat Muslim dari seluruh penjuru dunia. Umumnya e-mail yang saya terima memiliki kesan yang baik dan memuat informasi pribadi, juga potongan-potongan diskusi teologis yang tidak berkesudahan yang biasa kami lakukan. Ini sangat menyenangkan saya dan saya sangat menikmati dan menghargai persahabatan-persahabatan ini. Sayangnya, tidak semua e-mail yang saya terima menyenangkan atau bersahabat. Contohnya, e-mail yang saya terima berikut ini bukan hanya ancaman mati, e-mail ini jugalah yang menyebabkan saya mulai lebih bijaksana dalam interaksi saya dengan orang-orang Muslim dalam konteks dialog antar agama. (Bagian-bagian dalam kurung saya tambahkan untuk kejelasan):

Pasal 1 - Mengapa Menulis Buku Seperti Ini?

KESADARAN AKAN KEBANGKITAN ISLAM

Tiuplah sangkakala di Sion dan kumandangkanlah tanda peringatan di atas gunung kudus-Ku! Biarlah gemetar seluruh penduduk negeri, karena sedang datang hari YAHWEH, sebab, ia sudah dekat.
Suatu hari kegelapan, suatu hari kesuraman, awan-awan dan kegelapan bagaikan suasana fajar pagi yang menyebar di gunung-gunung. Suatu bangsa yang besar dan kuat, tidak pernah ada yang menyerupai dia dari dahulu dan sesudahnya, dan tidak akan ada lagi sepanjang masa turun-temurun.
Yoel 2:1,2

Pada masa kini saya percaya ada berbagai isu yang ditekankan oleh Tuhan kepada pihak Barat, khususnya kepada Gereja Kristen di negara-negara Barat. Namun yang menyedihkan, di antara sedikit orang yang tampaknya mendengar bunyi sangkakala dari surga, lebih sedikit lagi yang memahami arti suara itu. Setiap hari banyak tanda-tanda yang secara literal menghiasi halaman muka surat kabar. Tetapi tampaknya hanya sedikit orang yang memahami pesan dari tanda-tanda itu. Saya berharap buku ini memberi kontribusi yang akan membuka mata banyak orang mengenai waktu-waktu yang mendekat secara cepat. Harapan dan doa saya adalah supaya buku ini menambahkan pengertian bagi mereka yang memiliki roh yang sudah waspada dan memiliki ketajaman.

Pasal 2 - Teks-Teks Suci Dalam Islam

Penyelidikan kita pertama-tama harus dimulai dengan perkenalan singkat mengenai teks-teks suci dalam Islam. Tujuannya di sini adalah untuk memperkenalkan pembaca dengan teks-teks suci Islam, sehingga mereka bisa memahami posisi teks-teks suci ini dalam struktur otoritas Islam. Banyak referensi yang dipakai dalam buku ini berasal dari berbagai teks suci itu.

Qur’an
Buku suci pertama dan paling terkenal dalam Islam adalah Qur’an. Qur’an merupakan kitab suci Islam yang seluruhnya disampaikan oleh Muhammad, pendiri dan “Nabi” Islam. Secara literal Qur’an dalam bahasa Arab berarti “pembacaan” atau “bacaan”. Qur’an terdiri dari 114 pasal yang disebut Surah. Di sepanjang buku ini, ketika sebuah pasal dalam Qur’an dibacakan, akan dimulai dengan kata “Surah,” diikuti dengan bab, ayat, dan terjemahannya.
Qur’an dapat dipandang sebagai Alkitabnya Islam, mengingat kitab ini merupakan kitab suci Islam yang terutama. Meski demikian, Qur’an bukanlah satu-satunya sumber sakral atau bahkan bukan satu-satunya tradisi suci yang diinspirasikan dalam Islam. Meskipun Qur’an merupakan satu-satunya teks dalam Islam yang dipercaya sebagai kata-kata literal Allah, tetapi masih ada teks yang sama pentingnya bagi semua Muslim, yang disebut Sunah.

Pasal 3 - Eskatologi Islam

Kebanyakan buku eskatologi Islamiah terutama terdiri dari usaha para penulis untuk mengumpulkan, menghimpun, dan menyampaikan Hadis yang paling dapat dipercaya, dan berbagai tradisi berkaitan dengan akhir jaman. Di atas semua itu, kebanyakan buku eskatologi Islam juga berisi tentang penjelasan dari pengarang. Karena saya bukan ahli Hadis (dan tidak bercita-cita menjadi ahli Hadis), dan karena saya tidak ingin untuk hanya memaparkan interpretasi saya pribadi mengenai apa yang diajarkan Islam tentang akhir jaman, maka saya dengan seksama akan menggunakan tradisi Islam atau penjelasan yang telah banyak ditulis oleh para pengarang dan akademisi Islam mengenai subjek ini. Dengan demikian, kebanyakan isi buku ini akan dipenuhi oleh kutipan-kutipan dan referensi.

Pada umumnya, penelitian eskatologi Islam terbagi menjadi dua kategori, yaitu Kiamat Kecil dan Kiamat Besar. Kiamat kecil terkadang disamakan dengan apa yang disebut Yesus dengan “munculnya penyakit,” yang dipercaya merupakan tanda-tanda awal Kiamat Besar. Pada tingkat tertentu hal ini benar. Perbedaannya adalah bahwa banyak tanda-tanda Kiamat Kecil terjadi bersamaan dengan Kiamat Besar. Oleh karena itu, Kiamat Kecil tidak bisa selalu dianggap sebagai tanda-tanda awal, namun lebih sebagai tanda-tanda secara keseluruhan (tanda-tanda yang lebih kecil). Beberapa tanda Kiamat Kecil cukup menarik, tetapi untuk tujuan penelitian ini, kita tidak akan mempelajarinya lebih jauh. Kita akan langsung membahas tentang Kiamat Besar.

Pasal 5 - Perbandingan ANTI KRISTUS ALKITAB dengan SANG MAHDI

Anti Kristus
Kebanyakan orang yang bahkan belum pernah membaca Alkitab telah mendengar sosok manusia yang biasa disebut “Anti Kristus.” Secara sederhana, menurut Alkitab, Anti Kristus akan menjadi tokoh utama di bumi pada hari-hari terakhir. Menariknya, bahwa dalam Alkitab, nama Anti Kristus sebenarnya hanya disebutkan satu kali secara spesifik (1 Yoh 2:18). Untuk nama-nama lainnya, terdapat beberapa nama referensi bagi Anti Kristus, yang bisa ditemukan di seluruh Alkitab. Beberapa nama yang menunjuk kepada Anti Kristus adalah: “binatang” (Wahyu 13:4), “pembinasa keji” (Mat 24:15), “yang membinasakan” (Dan 9:27), “manusia pendosa”, “manusia durhaka”, “manusia yang binasa” (2 Tes 2), “tanduk kecil” (Dan 7:8), “orang Asyur” (Mikah 5:5, Yes 10:5, 14:25), “penindas”, “raja Babilonia” (Yes 14), dan bahkan “Gog” (Yeh 38:1, Why 20:7) yang misterius. Ada beberapa nama lain dalam Alkitab yang juga dipakai untuk menunjuk pada Anti Kristus.
Namun yang lebih penting daripada nama-nama yang tidak umum ini adalah, siapakah sesungguhnya Anti Kristus itu? Dalam pasal ini, kami akan mengulas beberapa gambaran utama dan tindakan-tindakan yang dilakukan Anti Kristus berdasarkan Alkitab. Penelitian kami juga akan terfokus pada beberapa persamaan khusus antara Anti Kristus dan Sang Mahdi.

Pasal 4 - Sang Mahdi: Mesias Yang Dinantikan Dalam Islam

Di antara Kiamat Besar, hal yang paling dinantikan dan merupakan tanda utama adalah penantian Muslim akan kedatangan seorang manusia yang dikenal sebagai, “Sang Mahdi.” Dalam bahasa Arab, al-Mahdi berarti “Yang dibimbing.”1 Dalam Muslim Shi’a, ia juga dikenal sebagai Sahib Al-Zaman atau Al-Mahdi al-Muntadhar, artinya: “Penguasa Jaman” dan “Yang Dinanti-nantikan.” Sang Mahdi adalah manusia utama dalam Kiamat Besar. Hal ini dikonfirmasi oleh Ibn Kathir, akademisi Muslim termasyur pada abad VIII:
Setelah tanda-tanda yang lebih kecil (lesser signs), dan Saatnya telah kelihatan dan semakin meningkat, yaitu ketika umat manusia mencapai titik penderitaan terbesar. Kemudian Mahdi yang dinanti-nantikan akan datang; Dia adalah tanda pertama yang begitu jelas waktu kedatangannya.2

Kedatangan Mahdi merupakan elemen pusat yang diagung-agungkan dalam semua cerita akhir jaman Islam. Begitu pentingnya kedatangan Mahdi bagi eskatologi Islam, sehingga beberapa cendekiawan Muslim bahkan tidak menyebutkan “Kiamat Kecil”, akan tetapi menyebut mereka sebagai “tanda-tanda yang datang bersamaan dengan Sang Mahdi.”3 Meskipun ada beberapa perbedaan keyakinan antara sekte Suni dan Shi’a, dan kendati beberapa kelompok dalam Suni menolak perbedaan itu sama sekali; keyakinan umum mengenai Sang Mahdi bukanlah isu satu aliran saja, tetapi diterima oleh kebanyakan Muslim di seluruh dunia. Menurut Shaykh Muhammad Hisham Kabbani, ketua Islamic Supreme Council of America:

Pasal 6 - Yesus Muslim

Setelah kemunculan atau “kebangkitan” Sang Mahdi, peristiwa terpenting kedua dalam Kiamat Besar adalah kedatangan kembali Yesus Kristus. Orang-orang Kristen yang mengasihi Yesus menjadi bersemangat dengan adanya prospek bahwa bahkan orang Muslim mencari-cari dan menanti-nantikan kedatangan-Nya kembali. Sayangnya, kepercayaan Islam mengenai kedatangan Yesus dan apa yang Ia lakukan ketika kembali, sangatlah berbeda dengan apa yang dipercaya orang Kristen mengenai kedatangan Yesus.

Hal pertama yang perlu dipahami oleh orang Kristen mengenai kepercayaan Islam tentang Yesus adalah, Muslim menolak gagasan bahwa Yesus ialah dan akan selalu menjadi Putera Tuhan. Menurut Islam, Yesus bukanlah sosok yang diceritakan dalam Alkitab, yaitu Tuhan dalam daging. Kedua, dalam kepercayaan Islam, Yesus tidak pernah mati di kayu salib demi dosa-dosa manusia. Secara khusus Qur’an menyangkali bahwa Yesus disalibkan atau mengalami kematian. Muslim percaya setelah Allah secara ajaib melepaskan Yesus dari kematian, Dia diangkat ke surga dengan cara yang sama dengan cerita Alkitab tentang Elia. Sejak saat itu, Muslim percaya, Yesus tinggal bersama Allah dan menunggu kesempatan-Nya untuk kembali ke bumi guna menyelesaikan pelayanannya dan melengkapi kehidupannya. Dengan demikian, dalam pemikiran Islam, Yesus sama sekali bukanlah “juruselamat”.