Rabu, 16 September 2009

Pasal 11 - Natur Gelap Wahyu-Wahyu Muhammad

Kita memulai pengujian kritis terhadap Islam dengan pribadi Muhammmad serta wahyu-yang ia sampaikan. Inilah awal dari segalanya. Jika menginginkan sebuah pengujian yang akurat terhadap roh Islam maka kita harus memulai dari fondasinya, kita harus menguji benihnya. Muhammad adalah pendiri Islam dan dipercaya oleh orang Muslim sebagai satu-satunya instrumen manusia yang “menerima” perkataan-perkataan Qur’an secara langsung dari Allah. Pasal ini akan mengulas natur dari pengalaman-pengalaman spiritual Muhammad yang mengawali karirnya sebagai seorang “nabi” dan melahirkan agama yang kini sedang menjadi perhatian dunia.

KELAHIRAN QUR’AN
Orang Muslim percaya ketika Muhammad menerima wahyu-wahyu yang kemudian dikompilasi menjadi Qur’an, ia menerimanya kata per kata, secara langsung dari Allah. Maka, Allah dipandang sebagai pengarang Qur’an yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, dalam membaca Qur’an seakan-akan Allah sendirilah yang sedang berbicara secara langsung kepada pembaca pertama. Muhammad semata-mata hanya dianggap sebagai seorang utusan, atau Rasul Allah (rasul-Allah). Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang teolog Muslim, ”Sang nabi hanya bersikap pasif – bahkan tidak sadar: kitab ini bukan miliknya, juga bukan buah pikirannya, bukan bahasanya, juga bukan gayanya: kesemuanya itu adalah milik Allah, dan nabi hanyalah sebuah pena untuk menulis.1 Ini berbeda dengan pandangan Kristen mengenai natur inspirasi Alkitab. Menurut orang Kristen, Tuhan benar-benar menginspirasi para penulis Kitab Suci untuk menuangkan pikiran-pikiran dan perkataan-perkataan-Nya, namun setiap penulis juga memasukkan gaya dan kepribadian mereka masing-masing ke dalam naskah Kitab Suci. Tuhan menggunakan agen-agen manusia sebagai alat/bejana-Nya, tetapi secara literal Ia tidak mengesampingkan/meniadakan kemanusiaan mereka. Seperti yang akan kita lihat, ini bukanlah ciri wahyu-wahyu Muhammad.
Karen Armstrong, seorang penulis populer dan sangat bersimpati pada Islam dan Muhammad menuliskan peristiwa pertemuan pertama Muhammad dengan yang dipercaya oleh orang Muslim sebagai “malaikat” Gabriel (Jibril) di gua Hira:
“Muhammad terbangun dari tidurnya di dalam gua dan merasa dirinya diliputi oleh sebuah kehadiran ilahi yang menakutkan. Kemudian ia menjelaskan pengalaman yang tidak terlukiskan ini dengan mengatakan bahwa sesosok malaikat telah membungkusnya dengan sebuah dekapan yang mengerikan sampai-sampai ia merasa nafasnya ditarik keluar dari tubuhnya. Malaikat itu kemudian memberikan padanya sebuah perintah pendek: ‘iqra!’ ‘Bacalah!’ Muhammad memprotesnya karena ia tidak dapat membaca; ia bukanlah seorang kahin, salah seorang dari nabi-nabi besar Arab. Tetapi katanya, malaikat itu mendekapnya lagi, sampai ia merasa bahwa ia sudah tidak kuat lagi, ia mendapati bahwa perkataan-perkataan ilahi yang kemudian menjadi kitab suci itu terlontar dari mulutnya”.2

Kekeliruan Armstrong adalah karena ia tidak menyebutkan bahwa sebenarnya tidak sampai kali yang ketiga “malaikat” itu mencekik Muhammad, memerintahkannya untuk membaca, dan kemudian akhirnya ia melakukannya. Peristiwa ini sangat kontras dengan natur peristiwa-peristiwa ilahi dan penampakkan-penampakkan malaikat yang dicatat di dalam Alkitab, dimana para malaikat (atau Tuhan sendiri) hampir selalu memulai percakapannya dengan kata-kata yang menenteramkan, “Jangan takut!”. (Kejadian 15:1, 26:24, 46:3, Daniel 8:15-19, 10:12,19, Matius 28:5,10, Lukas 1:13, Lukas 1:26-31, 2:10, Wahyu 1:17).
Mestinya kita tidak terkejut jika kemudian kita menemukan bahwa setelah pengalaman Muhammad yang menakutkan dan keji dengan roh itu di dalam gua, ia sangat percaya bahwa ia dirasuk setan. Muhammad menjadi sangat ketakutan dan bahkan ia ingin bunuh diri. Berdasarkan biografi awal Muhammad oleh Ibn Ishaq yang sangat terkenal itu, yang diterjemahkan oleh Guillame, sirat-rasul, kita bisa baca:
“Lalu saya (Muhammad) membacanya, dan ia (Gabriel) pergi dari saya. Dan saya terbangun dari tidur, dan sekan-akan kata-kata itu tertulis dalam hati saya...Kini tidak satupun dari ciptaan-ciptaan Tuhan yang lebih membenci saya daripada penyair atau seorang yang dirasuk: saya bahkan tidak sanggup memandang mereka. Pikirku, “Celakalah aku karena telah dirasuk – tidak seorang Quraysh (suku dan kerabat Muhammad) pun boleh berkata tentang hal ini mengenai saya! Saya akan pergi ke puncak gunung dan menjatuhkan diri ke bawah supaya saya mati dan mendapat ketenangan”. Lalu saya pergi untuk berbuat demikian dan ketika saya sudah setengah jalan di gunung itu, saya mendengar suara dari surga yang berkata “Wahai Muhammad! Engkau adalah rasul Allah dan aku adalah Gabriel”. 3

Penyebutan “penyair atau dirasuk” berasal dari anggapan orang-orang Arab pada jaman Muhammad bahwa para penyair menciptakan puisi-puisi mereka berdasarkan inspirasi yang mereka dapatkan dari roh-roh jahat. At-Tabari, salah-seorang sejarawan Islam mula-mula yang sangat dihormati mengatakan, “Orang Arab pada jaman pra Islam percaya pada puisi-puisi karya roh jahat, dan mereka beranggapan bahwa sebuah puisi yang masyur diinspirasikan langsung oleh roh-roh jahat...” 4
Setelah pengalaman yang mengerikan itu, Muhammad kembali kepada Khadijah istrinya. Muhammad masih sangat ketakutan karena peristiwa itu:
“Lalu Rasul Allah kembali dengan inspirasi, otot-otot lehernya terpelintir karena ketakutan hingga ia bertemu dengan Khadija dan berkata, “Tutupi aku! Tutupi aku!” Mereka mnyelimutinya sampai ketakutannya sirna lalu ia berkata, “O Khadija, ada apa dengan saya?” Kemudian ia menceritakan pada istrinya segala sesuatu yang telah terjadi dan berkata, “Saya takut sesuatu akan terjadi pada saya”. 5

Tetapi bukan hanya Muhammad yang beranggapan bahwa roh-roh jahat adalah sumber semua wahyunya, namun banyak orang pada jaman Muhammad juga percaya bahwa pengalaman-pengalamannya dalam menerima wahyu adalah pengalaman demonis dan bahwa ia dirasuk setan. Qur’an mencatat tuduhan-tuduhan berikut terhadap Muhammad:

“Kemudian mereka berpaling daripadanya dan berkata: Dia adalah seorang yang menerima ajaran (dari orang lain) lagi pula seorang yang kerasukan!” Sura 44:14 (Yusuf Ali).

“Dan mereka berkata: ‘apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair yang kerasukan?” Sura 37:36 (Yusuf Ali).

Nampaknya adalah penting bagi Allah untuk membela Muhammad dan menanggapi kritik-kritik yang ditujukan terhadap Muhammad dalam Qur’an itu sendiri:
“Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang gaib. Dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan Setan yang terkutuk”. Sura 81:22-25.

“Dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam”. Sura 69:41-43.

Maka kemudian tidaklah mengejutkan jika setelah membaca komentar-komentar yang ditujukan terhadap Muhammad oleh orang-orang sejamannya, juga setelah mempelajari natur dari pengalaman-pengalaman pemahyuan Muhammad, banyak sarjana yang menjadi yakin bahwa Muhammad menderita epilepsi dan juga sekaligus kerasukan Setan.6 Setelah mendiskusikan beberapa manifestasi spesifik dari pengalaman-pengalaman Muhammad, John Gilcrest, seorang penulis Kristen dari Afrika Selatan dan seorang pakar Islam, menyimpulkan analisanya mengenai berbagai fenomena fisik yang menyertai pengalaman-pengalaman pewahyuan Muhammad sebagai berikut:
“Penting diperhatikan bahwa seseorang dapat mengalami jenis kejang yang berbeda yang hampir mirip dengan epilepsi. Dalam masa pelayanan Yesus seorang anak laki-laki yang ‘menderita epilepsi’ pernah dibawa kepada-Nya (Matius 17:15) dan ia mengalami gangguan-gangguan ekstrim epilepsi (kadang ia terjatuh, menggelepar, dan tidak dapat berbicara). Namun tidak diragukan lagi bahwa epilepsi seperti ini bukanlah jenis biasa tetapi bersifat demonis, dan ada tiga catatan mengenai insiden itu (dalam Matius 17, Markus 9, dan Lukas 9) yang menceritakan bagaiamana Yesus mengusir roh jahat itu keluar dari anak itu, dan Yesus menyembuhkannya. Tanpa bermaksud menghakimi Muhammad, hendaknya disimpulkan bahwa orang yang terikat pengaruh-pengaruh okultis akan mengalami kejang-kejang mirip dengan epilepsi yang akan terjadi selang beberapa waktu, alih-alih menyebabkan kehilangan ingatan, akan mempunyai dampak sebaliknya dan meninggalkan kesan-kesan yang kuat dalam benak penderita. Di seluruh dunia, para misionaris menjumpai kasus-kasus yang persis sama dengan kasus diatas. Sampai dengan hari ini. Fenomena seperti ini bukanlah hal yang asing bagi para mistikus ekstatis Timur dan seringkali diceritakan.” (7).

Jadi, sementara Rasul Petrus menggambarkan pengalaman para penulis naskah-naskah Alkitab dengan menyebut mereka sebagai orang-orang yang “menjadi jurubicara Tuhan” dan bahwa mereka “digerakkan oleh Roh Kudus” (2 Petrus 1:21), pengalaman Muhammad lebih bersifat langsung, ekstatis dan gelap. Penting diperhatikan bahwa tidak satupun nabi-nabi dalam Alkitab yang pernah mempertanyakan sumber dari wahyu-wahyu yang mereka terima. Pengalaman Muhammad jauh lebih mirip dengan pengalaman seorang spiritis atau orang yang menjadi pengantara/medium roh-roh jahat daripada pengalaman nabi-nabi dalam Alkitab.

FENOMENA ANEH LAINNYA
Pengalaman spiritual Muhammad yang menakutkan tidak berakhir dengan contoh-contoh di atas. Pada kesempatan lain, Muhammad “disihir”, yang diyakininya pada waktu itu ia sedang berhubungan seksual dengan istri-istrinya, sedangkan sesungguhnya ia sedang tidak melakukan hal itu. Guillame mencatat ada seorang sarjana Muslim mengatakan bahwa mantra yang menguasai Muhammad menyihirnya selama setahun. Episode kehidupan Muhammad didokumentasikan dengan baik dalam tradisi-tradisi sakral Islam.
“Berkatalah Aisha (salah seorang istri Muhammad): ‘Sihir telah menguasai Rasul Allah sehingga ia mengira ia telah berhubungan badan dengan istri-istrinya padahal ia tidak melakukannya’”. 8

Potongan kisah hidup Muhammad yang aneh ini semestinya cukup memberi jeda (untuk berpikir/meragukan) kepada setiap orang yang percaya bahwa Muhammad adalah nabi Tuhan sejati – bahwa ia bukanlah nabi yang terbesar dari semua nabi, sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang Muslim. Kita hanya dapat menyimpulkan bahwa saat mengalami keadaan delusi seperti itu, sesungguhnya Muhammad benar-benar dirasuk Setan atau juga sekaligus tengah sakit parah. Berdasarkan penampakkan-penampakkan okultis yang mendasari awal pengalaman-pengalaman “pewahyuan” Muhammad, tidaklah sulit untuk menyimpulkan apakah seseorang mengalami pengalaman spiritual yang benar. Sudah barang tentu kontras yang terlihat disini terasa begitu tajam saat kita melihat kehidupan Yesus, yang sama sekali tidak dikuasai oleh bentuk-bentuk pengaruh kekuatan demonis apapun, melainkan Yesus telah membebaskan banyak orang dari keterikatan/penindasan oleh roh-roh jahat.


KESIMPULAN
Sebagai penilaian akhir, kita melihat bahwa wahyu-wahyu Muhammad – yang merupakan benih bagi perkembangan Islam, dimulai di tengah-tengah perjumpaan yang gelap dan keji dengan sesosok makluk spiritual di gua Hira. Kita juga telah melihat bahwa hidup Muhammad terdiri dari periode-periode dengan pengalaman-pengalaman delusi yang serius atau juga keterikatan/penindasan spiritual yang nyata. Dimensi kehidupan Muhammad inilah yang harus diperhatikan saat kita mengembangkan tema yang lebih besar dalam buku ini. Juga, ketika berupaya menguji sumber spiritual utama Islam, penting bagi kita untuk tidak hanya memperhatikan natur gelap dari benih awal yang daripadanya Islam berkembang, tetapi lebih daripada itu visinya yang utama mengenai masa depan – yaitu “buahnya” yang sangat matang. Wahyu-wahyu demonis dan bertentangan dengan Alkitab yang dimulai di gua Hira mencapai kulminasinya dengan membunuh semua orang Yahudi, Kristen dan non-Muslim di seluruh dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar