Sementara Islam memimpikan hari dimana orang Kristen dan Yahudi akan bertobat kepada Islam secara massal, ada perbedaan dalam narasi mengenai akhir jaman di dalam ajaran Islam mengenai akhir dari orang Kristen dan Yahudi. Dalam versi hari kiamat menurut Islam, kita melihat bahwa semua orang Kristen akan memeluk Islam, jika tidak mereka akan dibunuh. Tentu saja, jika kita memperhatikan gambaran akhir ini, sangat mungkin untuk mengatakan bahwa Islam mempunyai ketertarikan dengan orang Kristen atau Kekristenan. Namun ketika kita menganalisa pengajaran dan tradisi Islam mengenai orang Yahudi, kita akan sangat merinding ketika melihat bahwa satu-satunya takdir/akhir bagi orang Yahudi menurut Islam adalah pembantaian total dan absolut. Dalam tradisi-tradisi Islam kita melihat sebuah kebencian yang sangat gelap dan persisten terhadap orang Yahudi yang hampir sama dengan ideologi yang diekspresikan oleh Naziisme. Ideologi kebencian ini sepenuhnya didukung dan dipupuk dalam keseluruhan Qur’an dan tradisi-tradisi Islam. Sebagai contoh, berkenaan dengan orang Yahudi Qur’an berkata:
“Dan Kami telah timbulkan kebencian dan permusuhan diantara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan”. Sura 5:64
Ayat ini memperjelas bahwa akan ada “permusuhan dan kebencian” terhadap orang Yahudi sampai akhir jaman. Maka berakhirlah klaim yang menyatakan bahwa penghinaan Qur’an terhadap orang Yahudi hanyalah terbatas pada insiden-insiden historis tertentu dalam karir Muhammad sebagai nabi. Qur’an tidak hanya menggambarkan orang Yahudi sebagai orang-orang yang memulai perang dan menyebabkan banyak penderitaan di muka bumi, tetapi juga secara literal mengklaim bahwa Allah sangat jijik dengan orang Yahudi, sehingga Ia mengutuki mereka dan secara literal mengubah banyak diantara mereka menjadi “monyet dan babi”, menempatkan mereka pada tempat yang terendah diantara umat manusia:
“Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: ‘Jadilah kamu kera yang hina”. Sura 1:166.
“...orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, diantara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi, dan (orang yang) menyembah thaghut?’ Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus”. Sura 5:50
“Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: ‘Jadilah kamu kera yang hina”. Sura 2:65
Diantara banyak orang yang anti-semitis dan Muslim yang vokal, ayat-ayat ini sangat digemari. Walid Shoebat adalah seorang mantan Muslim yang dibesarkan di wilayah Palestina. Ia teringat suatu peristiwa di masa kanak-kanak saat sekolahnya mengadakan perjalanan wisata ke kebun binatang di Yerusalem, Walid mengenang, “Guru Islam kami mengatakan, ‘gorilla ini dulunya adalah seorang Yahudi’”. Kini saat saya memikirkannya, inilah sesungguhnya yang diajarkan oleh Nazi – dalam bentuk yang sangat keji. Hal ini juga yang diajarkan di seluruh Timur Tengah.1 Sebagaimana Nazi menyatakan bahwa orang-orang Yahudi adalah “kutu-kutu kecil” yang lebih rendah dari manusia, untuk membenarkan perlakukan mereka yang tidak manusiawi terhadap orang Yahudi; demikian juga Muslim mengikuti tuntunan Qur’an dengan tidak memanusiakan ras Yahudi.
Sekarang dalam poin ini, para apologis Muslim akan segera berargumen bahwa walaupun di dalam Qur’an ada banyak ayat yang berbicara mengenai orang Yahudi dengan bahasa yang keji, namun masih ada ayat-ayat lain yang berbicara mengenai orang-orang Yahudi dengan bahasa yang positif. Walaupun hal itu benar, namun hal itu pun bisa menyesatkan. Dalam bukunya yang sangat informatif, Islam dan Orang-orang Yahudi, Mark A.Gabriel, Ph.D, seorang mantan Imam Muslim dan Profesor sejarah Islam di Universitas Al Azhar yang ternama di Kairo, memaparkan kecenderungan Islam yang salah terhadap orang Yahudi. Gabriel menjelaskan bahwa menurut teologi Islam, ayat-ayat dalam Qur’an yang kelihatannya “ramah” terhadap orang Yahudi dipahami sebagai ayat-ayat yang telah dibatalkan (mansukh) oleh ayat-ayat yang kemudian diwahyukan kepada Muhammad dalam karir kenabiannya. Ini didasarkan pada gagasan tentang wahyu progresif dalam Islam yang mengatakan, jika ada ayat-ayat yang nampaknya saling berkontradiksi, maka wahyu-wahyu terbaru yang diberikan kepada Muhammad akan membatalkan atau meniadakan wahyu-wahyu terdahulu. Ini adalah doktrin Islam yang sangat dipahami dan yang paling banyak dianut; doktrin ini disebut: nasikh.2 Banyak ayat dalam Qur’an bahkan memuat sebuah daftar di bagian belakang yang berisi ayat-ayat yang lebih tua dan ayat-ayat yang baru agar orang dapat mengetahui ayat-ayat mana yang telah dibatalkan dan ayat-ayat mana yang dipertahankan. Oleh karena ayat-ayat yang menunjukkan kekerasan dan permusuhan terhadap orang Yahudi adalah ayat-ayat yang baru, maka ayat-ayat itu membatalkan ayat-ayat yang mengekspresikan damai. Hal ini sangat jelas dipahami di seluruh dunia Islam.
Saat kita menjajaki pertumbuhan dan perkembangan anti-semitisme dalam Islam, kita akan menjadi sangat sedih karena hal itu tidak hanya terbatas dalam Qur’an, melainkan lebih daripada itu pembantaian akhir orang-orang Yahudi juga mendapat dukungan penuh dalam Hadith. Kami telah mengutip tradisi ini lebih dari sekali, tapi kami akan mengutipnya sekali lagi untuk terakhir kali:
“(Berkatalah Muhammad:) Hari kiamat tidak akan datang kecuali orang Muslim memerangi orang Yahudi dan orang Muslim akan membunuh mereka sampai orang Yahudi akan menyembunyikan diri di balik sebuah batu atau sebatang pohon dan berkata: ‘Muslim, atau hamba Allah, ada seorang Yahudi di belakangku; datang dan bunuhlah dia’; tetapi pohon Gharghad tidak akan berkata, karena itu adalah pohon Yahudi”. – penekanan oleh penulis 3
Kepercayaan apokaliptik mengenai perang di masa depan terhadap Israel dan pembunuhan semua orang Yahudi adalah kepercayaan yang sangat dipegang oleh kebanyakan Muslim. Kita juga harus ingat bahwa tradisi-tradisi dan ayat-ayat yang anti-semitis di dalam Qur’an telah berusia lebih dari seribu tahun. Tradisi sakral Islam berkenaan dengan pembantaian akhir terhadap semua orang Yahudi tidak dapat dikenakan pada konflik yang terjadi saat ini dengan Negara Israel. Walaupun banyak orang pada masa kini berusaha menyalahkan kebencian Muslim pada orang Yahudi semata-mata karena Zionisme dan tuduhan penindasan dan penganiayaan terhadap orang Palestina yang dianggap “mirip Nazi”, hal itu sama sekali tidak dapat menjadi alasan. Kebencian Islam terhadap orang Yahudi telah eksis sejak Islam dilahirkan. Itu bukanlah sebuah fenomena baru. Dan tidak dapat disangkali lagi, hari ini Islam dan dunia Muslim adalah satu-satunya kekuatan dalam dunia yang sangat anti-Semitis. Terutama Palestina, yang menggunakan alasan apokaliptis sebagai dasar atas banyak aksi mereka terhadap Israel dan orang Yahudi dewasa ini. Walaupun pada kenyataannya, alasan ini merupakan salah satu faktor utama yang mengompori konflik yang terus-menerus di Israel saat ini, alasan ini juga seringkali merupakan faktor yang dilupakan oleh para pengamat sekuler yang berusaha menilai konflik yang ada saat ini berdasarkan ekuivalensi moral. Kutipan-kutipan berikut ini merupakan terjemahan dari bagian-bagian ceramah tahun-tahun belakangan ini, yang disampaikan oleh Sheikh Ibrahim Madhi, Imam resmi diangkat oleh otoritas Palestina. Perhatikanlah adanya penggunaan ayat-ayat dan tradisi-tradisi yang telah kita diskusikan sebelumnya, yang biasa digunakan untuk membenarkan dan mendukung kebencian terhadap orang Yahudi:
“Kami bangsa Palestina, takdir kami dari Allah adalah untuk menjadi barisan terdepan dalam perang melawan orang Yahudi hingga kebangkitan orang mati, seperti yang dikatakan oleh nabi Muhammad: “Kebangkitan orang mati tidak akan tiba hingga kamu memerangi orang Yahudi dan membunuh mereka...” Kami orang-orang Palestina adalah barisan terdepan dari upaya ini dan dalam kampanye ini, apakah kami menginginkannya atau tidak...”
“Wahai, saudara-saudara Arab kami...Wahai, saudara-saudara Muslim kami...Janganlah meninggalkan bangsa Palestina sendirian dalam perang melawan Yahudi...Bahkan telah ditetapkan atas kami untuk menjadi barisan terdepan...Yerusalem, Palestina dan Al Aqso (Temple Mount), tanah yang telah diberkati Allah dan daerah-daerah di sekelilingnya akan tetap menjadi pusat pergumulan antara Kebenaran dan Kesesatan, antara Yahudi dan non-Yahudi di tanah suci ini, walau ada banyak kesepakatan telah ditanda-tangani, walau banyak risalah dan perjanjian telah diratifikasi. Karena Kebenaran ada dalam Qur’an, seperti yang telah disahkan oleh perkataan nabi Muhammad, bahwa perang yang telah ditentukan itu akan terjadi di Yerusalem dan sekitarnya: ‘Kebangkitan orang mati tidak akan terjadi hingga kamu memerangi orang Yahudi...”
“Peperangan dengan orang Yahudi benar-benar akan tiba...tidak diragukan lagi, kepastian kemenangan Muslim akan datang, dan nabi telah mengatakannya di lebih dari satu hadith; dan Hari Kebangkitan tidak akan datang tanpa kemenangan orang-orang beriman (Muslim) atas keturunan monyet-monyet dan babi-babi (Yahudi) dan dengan penghapusan mereka”.4
Oh Allah, terimalah para martir kami di langit yang tertinggi...
Oh Allah, tunjukkanlah pada orang Yahudi hari yang gelap...
Oh Allah, hapuskanlah orang Yahudi dan para pendukungnya...
Oh Allah, kibarkanlah bendera jihad di seluruh negeri... 5
Maka, saat dunia sangat menanti-nantikan dan percaya akan datangnya masa dimana orang Yahudi dan orang Palestina hidup berdampingan dalam damai; para imam, pihak otoritas agama bangsa Palestina, memberikan dukungan dan persetujuan penuh pada kepemimpinan politik yang tidak henti-hentinya menabuh genderang “perang terakhir”, pembantaian akhir terhadap orang Yahudi.
KEBENCIAN KUNO SETAN TERHADAP ORANG YAHUDI
Apabila kita membandingkan roh yang kita lihat dalam Islam dengan roh yang kita lihat termanifestasi di bawah pemerintahan Antikristus dan Nabi palsu, ada kebencian kuno yang sama terhadap orang Yahudi dalam kedua roh itu. Itu adalah kebencian kuno yang berasal dari Setan sendiri. Sejak hari pertama Tuhan menyatakan kasih-Nya kepada orang Yahudi, Setan telah memusuhi mereka. Kendaraan-kendaraan utama yang digunakannya untuk memerangi orang Yahudi adalah beberapa kekaisaran besar dunia. Mereka adalah kekaisaran-kekaisaran “binatang” yang telah kita diskusikan di pasal 10. Di sepanjang Alkitab, kita membaca mengenai usaha-usaha Satan untuk menghapuskan atau menganiaya orang-orang Yahudi:
1.Melalui Firaun, penguasa Mesir, ketika ia memerintahkan untuk membunuh semua anak laki-laki Ibrani (Kel.1:5-22).
2.Melalui Salmaneser, penguasa Asyur, ketika ia menaklukkan kerajaan Utara Israel dan membuang serta menyerakkan 10 dari 12 suku Israel ke pembuangan (2Raj 17:5-6)
3.Melalui Nebukadnezar, penguasa Babilonia, ketika ia menyerang Yerusalem, ibukota kerajaan Selatan Yudea, dan membawa sisa orang Yahudi ke pembuangan (1Raj 24:10-16)
4.Melalui Haman, orang yang ditunjuk sebagai pejabat yang berwenang atas Medo/Kerajaan Persia, ketika ia berusaha membunuh semua orang Yahudi yang ada di kerajaan itu (Ester 3:9)
5.Melalui Antiokhus Epiphanes, penguasa Yunani atas Syria, ketika ia menaklukkan Yerusalem, seperti yang digambarkan oleh sejarahwan Josephus sebagai penaklukkan berdarah dalam sejarah Israel (Daniel 8:23-25; 1 Makabe 1-6). 6
6.Melalui Titus, kaisar Romawi, yang menyerang dan menaklukkan Yerusalem, membunuh lebih dari 1,1 juta orang Yahudi, dan memperbudak lebih dari 97.000 orang. (Perang-perang Yahudi, VI, ix, 3).
7.Melalui berbagai kerajaan Islam dan Kristen, yang tidak dapat kami sebutkan namanya. Bahkan kekristenan (yang sesat sekalipun) juga tidak dapat dikatakan tidak bersalah dalam sejarah bangsa Yahudi yang penuh darah.
8.Melalui Adolf Hitler, yang membunuh sekitar 6 juta orang Yahudi selama perang dunia II.
9.Dan pada akhirnya melalui Antikristus dan Nabi palsu dan kerajaan mereka di masa depan, yang telah dengan jelas dinubuatkan oleh nabi Zakharia dan Yehezkiel; yang akan menyerang Yerusalem dan membunuh dua per tiga dari penduduk/bangsa Israel. (Zakharia 13:8-9; Yehezkiel 38).
Pada titik ini orang yang waras harus berhenti dan bertanya: Apa lagi yang dapat menjelaskan sejarah suatu bangsa semacam itu, yang terus-menerus penuh darah dan menyakitkan, selain dari sebuah kebencian yang tidak manusiawi dan demonis? Siapakah yang sanggup memulai serangan yang gelap dan terus-menerus terhadap sebuah bangsa yang jumlahnya hanya 1 persen, karena itu hanya merupakan bagian yang sangat kecil dari populasi dunia – tidak peduli dimanapun mereka tinggal? Siapa lagi kalau bukan Iblis itu sendiri? Sejarah bangsa Yahudi sendiri adalah bukti untuk membuka pikiran kita bahwa Setan eksis dan bahwa ia membenci orang-orang yang dikasihi Tuhan dan yang disebut Tuhan sebagai “biji mata-Nya” (Zakh 2:8)
“Buku ini penting untuk mengetahui penggenapan nubuat Alkitab mengenai akhir jaman pada masa kita dan memahami peranan yang dimainkan Islam di dalamnya” Pastor Reza F. Safa, Mantan Muslim Radikal
Halaman
- Beranda
- WHY WOMEN CONVERT ISLAM
- ISMAIL SAUDARAKU
- SON OF HAMAS
- E-BOOK ISLAM
- WHY WE LEFT ISLAM
- KEBENARAN MUHAMMAD
- KABAR SUKACITA
- INILAH ISMAEL
- PRESTASI WARISAN MUHAMMAD
- WHY I AM NOT A MUSLIM
- Memahami Hati Tuhan Bagi Kaum Kedar
- Islam dalam Terang Sejarah
- Islam dan Yahudi
- Buku Saku Islam
- WHY I AM NOT A MUSLIM
- The Challenge of Islam
- Secrets of the Koran
- Secrets Behind The Burqa
- JESUS and Muhammad
- CHRIST, MUHAMMAD and I
Rabu, 16 September 2009
Pasal 14 - Kemartiran Akhir Zaman dan Praktek Pemenggalan Dalam Islam
Jika pasal sebelumnya membahas tentang konsentrasi kebencian dan roh membunuh yang dimiliki Islam terhadap orang Yahudi, pasal ini akan mengupas kemartiran dan penganiayaan secara umum yang akan dialami oleh siapa pun yang menjadi pengikut Yesus atau yang menolak menjadi Muslim menjelang akhir jaman.
PEMENGGALAN KEPALA PADA AKHIR JAMAN
Dalam kitab Wahyu pasal 20, Rasul Yohanes melihat sekelompok orang tertentu. Yohanes memberikan pada kita sinopsis yang singkat mengenai apa yang dilihatnya. Secara spesifik ia menggambarkan para martir akhir jaman yang akan datang:
Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Tuhan; yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun.
Wahyu 20:4
Saya telah merenungkan ayat ini berkali-kali. Alkitab berkata bahwa pada akhir jaman, pemenggalan akan menjadi metode khusus yang digunakan terhadap para martir. Mereka akan dibunuh terutama karena “kesaksian mereka tentang Yesus dan karena firman Tuhan”. Ini adalah suatu gambaran yang aneh untuk dibayangkan. Apakah Alkitab sedang mengatakan bahwa di seluruh dunia akan ada kebangkitan guillotine di setiap alun-alun kota? Sebenarnya menurut Alkitab, apa yang mengakibatkan sehingga muncul standar yang dipakai dunia untuk menggunakan pemenggalan kepala sebagai sarana menganiaya orang Kristen? Ketika saya berusaha membayangkan natur dari akhir jaman dan seperti apa akhir jaman itu nantinya, seringkali saya bertanya-tanya soal ayat ini. Ada juga ayat-ayat lain yang mirip dengan ayat tersebut diatas. Ayat-ayat itu juga berbicara mengenai penganiayaan yang akan datang dan sebuah kecenderungan global yaitu menghukum mati orang-orang Kristen oleh karena imannya kepada Yesus:
Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku.
Matius 24:9
Disini Yesus memperingatkan murid-muridNya bahwa mereka akan dibenci dan pasti akan dibunuh sebagai akibat mereka diidentifikasikan dengan-Nya. Namun kemudian ada sebuah ekspansi profetis atas nubuat ini. Yesus mengatakan bahwa, “kamu akan dibenci oleh semua bangsa oleh karena Aku”. Secara spesifik Yesus menubuatkan sebuah elemen global berkenaan dengan penganiayaan yang akan datang terhadap orang Kristen. Ayat berikut ini memberikan pemahaman lebih lanjut pada kita:
"Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Tuhan. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya, kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu."
Yohanes 16:1
Dalam ayat yang diambil dari Injil Yohanes ini, Yesus secara khusus berbicara pada para murid di luar konteks akhir jaman yang sangat ketat. Pertama-tama Ia memperingatkan para murid bahwa pada hari-hari yang akan datang, mereka akan menyaksikan bagaimana para pengikut Yesus akan diusir dari sinagoga. Nubuat ini tergenapi setelah terjadinya peristiwa yang kemudian dikenal dengan pemberontakan Bar Kochba pada 132-135 M. Dalam pemberontakan Bar Kochba itulah terjadinya pemisahan final antara gereja dan sinagoga. Bar Kochba adalah Mesias Yahudi yang palsu. Ia didukung dan disemangati oleh pihak otoritas para rabi yang paling tinggi kedudukannya pada waktu itu, yang dikenal sebagai Rabbi Akiva. Akibat adanya dukungan Akiva, Bar Kochba kemudian dipandang sebagai Mesias di mata orang Yahudi. Ketika Bar Kochba memimpin orang Yahudi memberontak terhadap Roma, orang Yahudi yang tidak berpartisipasi dalam pemberontakan itu dipandang sebagai pengkhianat bangsa Yahudi. Orang-orang Yahudi yang adalah pengikut Yesus, sebelum terjadinya pemberontakan itu secara reguler berpartisipasi dalam ibadah-ibadah di sinagoga, tidak dapat mendukung sebuah pemberontakan yang dipimpin oleh seorang yang mereka yakini adalah Mesias yang palsu. Sebagai akibatnya, orang-orang Yahudi yang adalah pengikut Yesus dikeluarkan dari sinagoga secara massal dan nubuat Yesus digenapi pada abad kedua.
Tetapi pada bagian kedua dari ayat ini, Yesus berbicara mengenai akhir jaman. “Pada kenyataannya”, Yesus melanjutkan kata-kata-Nya, ”akan tiba harinya ketika para penganiayamu akan melakukan yang lebih daripada sekadar mengusir kamu dari sinagoga; mereka benar-benar akan membunuhmu.” Namun aspek yang paling membingungkan dan membuat penasaran dari ayat ini adalah bagian selanjutnya dari pernyataan Yesus. Ia mengatakan bahwa mereka yang akan membunuh kamu akan berpikir bahwa mereka melakukannya sebagai ibadah kepada Tuhan. Bagian inilah kuncinya. Bagaimana mungkin ada orang di jaman ini yang secara literal berpikir bahwa Tuhan menuntut pembunuhan atas manusia lain hanya karena mereka mempunyai kepercayaan yang berbeda? Itu adalah sebuah konsep yang sangat asing bagi sebagian besar cara berpikir dunia Barat modern. Namun, itu bukanlah sebuah konsep yang asing dalam sejarah. Baik Islam maupun Kristen – Katolik maupun Protestan- , keduanya bersalah dalam hal ini, karena telah membunuh orang-orang yang dianggap sebagai bidat dari satu-satunya agama yang benar. Jihad, Perang Salib, Inkuisisi – semua itu cocok dengan kriteria pembunuhan bagi dan dalam nama Tuhan. Satu hal yang pasti, ada sebuah unsur penting dalam sebuah penumpahan darah seperti itu, yaitu adanya keyakinan yang kuat bahwa Tuhan ada pada satu pihak dan Ia memerintahkan eksekusi semacam itu. Sangat sulit mumbayangkan ada sistem kepercayaan atau filsafat di bumi ini yang sanggup melaksanakan hal seperti itu selain daripada sebuah agama dunia yang kokoh berdiri. Sementara rejim totaliter tentu saja sanggup melakukan hal seperti itu, ayat ini secara spesifik mengatakan bahwa pihak-pihak yang melakukan eksekusi macam ini meyakini bahwa dengan melakukannya mereka sedang beribadah kepada Tuhan. Sistem yang melaksanakan eksekusi seperti itu adalah sebuah sistem keagamaan yang memandang dirinya sebagai penatalayan dari sebentuk pemerintahan global yang ilahi. Ia memandang dirinya sebagai satu-satunya organisasi atau komunitas milik Tuhan di bumi ini. Hanyalah skenario seperti itu yang dapat bertanggung-jawab terhadap tindakan-tindakan yang kita baca dalam ayat itu.
Maka sebagai kesimpulannya, ketika kita memperbandingkan ketiga ayat itu, kita mempunyai sebuah gambaran yang spesifik mengenai seperti apa penganiayaan dan kemartiran di akhir jaman nantinya. Pertama-tama, sifatnya global. Kedua, diperlukan adanya suatu sistem kepercayaan yang memandang dirinya sendiri sebagai pihak yang memiliki peran dalam pemerintahan di bumi dengan penunjukan ilahi. Ketiga, akan melakukan metode khusus yaitu pemenggalan kepala sebagai metode utama dalam mengeksekusi. Jadi kita memiliki sebuah agama global yang mengganggap dirinya sebagai sebuah sistem di bumi dengan penunjukan ilahi, yang disahkan oleh Tuhan, untuk memenggal semua orang yang menolak untuk bergabung. Seperti yang akan kita lihat, berdasarkan terminologi sistem keagamaan yang eksis di dunia saat ini, hanyalah agama Islam yang memenuhi semua kriteria tersebut diatas.
BERITA-BERITA MENGENAI PEMENGGALAN
Saat buku ini ditulis, pada akhir tahun 2004, di Irak, Arab Saudi dan beberapa negara lainnya, ada berita-berita mengenai orang-orang asing dan orang Kristen yang setiap minggu dipenggal kepalanya oleh Islam radikal. Hal ini menimbulkan perdebatan yang panas berkenaan dengan apakah praktek semacam itu benar-benar “islami” ataukah hanya praktek biadab beberapa orang radikal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang murni. Pernyataan-pernyataan publik yang umumnya dikemukakan oleh media Barat adalah pernyataan-pernyataan biasa yang mengutuk insiden semacam itu dan bahwa hal itu tidak ada hubungannya dengan “Islam sejati”. Dalam banyak kasus, media Barat melahap habis penyangkalan-penyangkalan ini dan menerbitkannya tanpa banyak bertanya. Tetapi jika kita mengacu tidak hanya tradisi dan sejarah Islam, tetapi juga “kabar burung yang kita dengar di jalan” berkenaan dengan perasaan orang-orang Muslim yang selalu menyuarakan pendapat mereka setiap hari melalui internet dan kelompok-kelompok chatting, maka kita akan mendapatkan realitas yang sangat berbeda. Pesan Islam tersebar luas di internet mendebat sah tidaknya tindakan-tindakan semacam itu ketika peristiwa itu telah menjadi berita utama di media. Sebuah artikel dari Berita CBS yang berjudul, Budaya pemenggalan Kepala di Arab Saudi, tanggal 27 Juni 2004, juga mengutip beberapa “pembicaraan” di internet:
“Dan dalam forum-forum internet islami, yang umumnya digunakan oleh kelompok-kelompok radikal, pemenggalan telah menjadi topik yang populer beberapa minggu belakangan ini, dengan banyaknya partisipan yang menggambarkannya sebagai cara yang “termudah” untuk membunuh seorang Amerika atau seorang Saudi dari keluarga yang berpengaruh”. 1
Satu-satunya kesalahan yang dilakukan CBS adalah mengasumsikan bahwa pada umumnya para partisipan yang menggunakan forum-forum semacam itu adalah benar-benar “radikal”. Saya telah berpartisipasi dalam sejumlah “komunitas” islami semacam itu dan telah bersahabat dengan banyak orang Muslim melalui kelompok-kelompok semacam itu. Kebanyakan forum-forum itu sekarang ada di Amerika dan Kanada dan banyak yang merupakan mantan Kristen. Sementara penulis artikel CBS itu berasumsi bahwa individu-individu yang terlibat dalam percakapan itu semuanya adalah orang-orang radikal oleh karena natur biadab dari diskusi-diskusi semacam itu. Menurut saya banyak diantara mereka yang semata-mata hanya bersungguh-sungguh dalam imannya sebagai seorang Muslim, sama halnya dengan saya yang bersungguh-sungguh dengan iman Kristen saya. Sementara beberapa anggota kelompok-kelompok diskusi itu nampaknya jijik dan malu dengan adanya praktek pemenggalan yang muncul baru-baru ini, kebanyakan orang nampaknya jauh lebih memfokuskan diri pada masalah-masalah doktrinal seperti apakah pemenggalan-pemenggalan itu telah dilakukan dengan tepat atau tidak, apakah korban-korbannya dianggap sebagai musuh atau orang yang tidak bersalah, dan sebagainya. Sam Hamod, yang adalah mantan direktur Pusat Islam di Washington D.C, saat diberi kesempatan untuk mengomentari masalah ini, dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Washington Times tidak mengutuk pemenggalan-pemenggalan itu, tetapi menegaskan bahwa orang-orang yang melakukan pemenggalan-pemenggalan di Irak dan dimanapun juga tidak melakukannya dengan benar:
“Anda tidak dapat melakukan seperti yang dibuat orang-orang idiot itu di TV. Yang seharusnya dilakukan adalah menggorok leher orang itu, bukan memutuskan kepalanya dari batang lehernya”. 2
PEMENGGALAN KEPALA DALAM ISLAM: TELADAN MUHAMMAD
Pemenggalan kepala dalam Islam sama sekali bukanlah fenomena yang baru. Oleh karena kejijikan yang amat sangat dari banyak orang di seluruh dunia Barat berkenaan dengan praktek yang dilakukan oleh Muslim radikal di Irak dan dimanapun, banyak orang Muslim moderat dan para apologis Muslim telah berulangkali mengklaim bahwa pemenggalan kepala bukanlah praktek yang resmi dalam Islam. Mereka mengklaim hal itu sebagai penyimpangan dari ajaran-ajaran dasar Islam. Klaim ini dibuat untuk menciptakan citra Islam yang lebih baik di mata dunia Barat. Sayangnya, klaim-klaim ini dibuat dengan mengabaikan sejarah Islam atau juga dibuat dengan niat yang kuat untuk menipu. Sesungguhnya, seperti yang akan kita lihat, pemenggalan adalah warisan utama Islam. Pemenggalan tidak hanya diperintahkan sebagai sebuah metode spesifik untuk membunuh musuh seseorang di dalam Qur’an, tetapi seperti yang akan kita lihat, pemenggalan juga adalah metode pembunuhan yang sangat disukai Muhammad dan banyak pengikutnya.
Ketika Muhammad memulai karirnya yang penuh kekerasan dan agresi, gerombolan pejuang Muslimnya masih sangat kecil. Karavan-karavan yang melakukan perjalanan pergi pulang dari Mekkah dan Damaskus menjadi sasaran empuk Muhammad. Oleh karena penduduk Mekkah menggantungkan hidup mereka pada karavan-karavan itu, mereka merasa sangat terganggu setelah mengalami beberapa serangan dari Muhammad dan gerombolan perampoknya. Akhirnya, para pria dari suku Quraish datang dari Mekkah untuk menyerang Muhammad dan orang-orangnya. Pertempuran ini, yang kemudian terkenal sebagai Perang Badr, menghasilkan kemenangan atas Quraish yang tidak disangka-sangka oleh Muhammad dan pasukannya yang belum berpengalaman. Abba Hakam adalah salah seorang korban perang.
“Aba Hakam terluka sangat parah tetapi masih hidup ketika Abdullah, pelayan Muhammad, berlari padanya dan menaruh kakinya di leher Aba Hakam, memegang janggutnya dan mulai menghina pria yang sudah terluka parah itu; pria yang digelari rakyatnya sebagai “Bapa yang Berhikmat”. Abdullah memenggal kepala Abba Hakam dan membawanya kepada tuannya. “Kepala musuh Allah!” teriak Muhammad dengan sukacita ; - “Allah! Tidak ada Tuhan selain Dia!” – “Ya, tidak ada yang lain!” sahut Abdullah, sambil melemparkan kepala itu ke kaki nabi. “Ini sangat menyenangkan saya;” teriak Muhammad hampir-hampir tidak dapat menahan kegembiraannya, ”lebih daripada unta yang terbaik di seluruh Arabia”. 3
penekanan oleh penulis.
Sedihnya, nafsu terhadap darah yang dimiliki Muhammad dan para pengikutnya semakin bertambah sejak peristiwa ini. Pada 627 M, Muhammad sendiri mengatur apa yang sejujurnya merupakan sebuah pembantaian massal. Muhammad dan pasukannya mengepung perkampungan Yahudi di Quraizah. Setelah 25 hari, perkampungan itu menyerah, berharap Muhammad akan bermurah hati pada mereka. Namun Muhammad memerintahkan tentara-tentaranya untuk menggali beberapa parit dan memasukkan dengan paksa sekitar 600-900 orang kedalamnya. Di tangan tentara-tentara Muhammad, mereka semua dipenggal. Parit-parit itu menjadi kuburan massal. Berdasarkan Sirat Rasul karya Ibn Ishaq, yang merupakan biografi Muhammad, yang mula-mula dan sangat diakui, kita dapat membaca peristiwa yang mengerikan itu:
“Lalu mereka (Qurayza) menyerah dan nabi menawan mereka di Medina...Kemudian nabi pergi ke pasar Medina (yang masih ada sampai hari ini) dan menggali parit-parit disana. Lalu ia memanggil mereka dan memenggal kepala mereka di dalam parit-parit itu saat mereka dibawa kepadanya secara berkelompok. ...Mereka semua berjumlah 600-700, walau ada yang memperkirakan sekitar 800 atau 900 orang...Ini berlanjut sampai nabi menghabisi mereka semua”. 4
Nampaknya, setelah pembantaian besar-besaran ini, sesuatu muncul dalam diri Muhammad. Enam ratus hingga sembilan ratusan pria Quraizah yang telah dipenggal seakan belum cukup. Tak lama setelah insiden ini, Muhammad memenggal lebih dari 400 orang Yahudi. Muhammad bersekutu dengan 2 kelompok suku, orang Khazraj dan orang Aus. Orang Khazraj bertugas memenggal 400 orang Yahudi tetapi orang Aus berdiri mendampingi. Ketika Muhammad melihat bahwa ada kegembiraan di wajah orang Khazraj ketika memenggal semua orang Yahudi sedangkan orang Aus hanya berdiri di sisi, ia memerintahkan agar ke-12 orang yang tersisa dipenggal oleh orang Aus:
“Abu ‘Ubayda berkata pada saya atas perintah Abu ‘Amir orang Medina, ketika nabi (Muhammad) mendapatkan yang lebih baik dari anak-anak laki-laki Qurayza ia menangkap sekitar empat ratus orang Yahudi yang adalah sekutu Aus terhadap Khazraj, dan memerintahkan supaya mereka dipenggal. Oleh karena itu Khazraj mulai memenggal kepala mereka dengan sangat puas. Rasul melihat bahwa wajah orang Khazraj menunjukkan kegembiraan mereka, tapi tidak ada indikasi seperti itu pada orang Aus, dan...ketika ia melihat hanya tersisa dua belas orang saja ia menyerahkan mereka kepada orang Aus, menyerahkan satu Yahudi untuk dibunuh oleh dua orang Aus, dan berkata, ‘Begini-beginilah memukulinya dan begini-beginilah menghabisinya”. 5
Kemudian, ada lagi peristiwa pemenggalan yang terjadi atas perintah Muhammad ketika ia kembali memasuki kota Mekkah dengan 10.000 tentaranya, ia memanggil para pejuang dalam pasukannya dari Medina dan bertanya pada mereka, “Apakah kamu melihat tentara-tentara dari Quraysh (dari Mekkah)? Pergilah dan bantai mereka”. Mark A. Gabriel menjelaskan arti kata yang digunakan Muhammad untuk membantai dalam bahasa Arab:
“Kata dalam bahasa arab yang digunakan untuk membantai menggambarkan seorang petani yang menuai panennya dengan sebuah sabit besar. Dengan kata lain, Muhammad mengatakan pada mereka untuk “Memenggal kepala mereka dari tubuh mereka seperti kamu memotong buah dari dahan-dahan pohon”. 6
Jadi inilah awal segalanya: dengan Muhammad. Tapi tentu saja ini bukan sebuah akhir. Ingatlah bahwa apapun yang dikatakan atau dilakukan Muhammad, itu dianggap sama otoritas dan inspirasinya dengan Qur’an itu sendiri. Tindakan-tindakan Muhammadlah yang mendiktekan contoh hidup yang telah ditetapkan Allah sebagai kehendak-Nya bagi semua Muslim:
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku”. Sura 3:31
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasullullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat..” Sura 33:21.
Dengan membantai orang-orang dari perkampungan Yahudi dengan cara seperti ini, Muhammad memberikan teladan mengenai apa yang telah ditetapkan Allah dan bahkan memerintahkan semua Muslim yang setia untuk mengikutinya.
PEMENGGALAN KEPALA DIANTARA PARA PENGIKUT MUHAMMAD
Abu Bakr, sahabat karib dan penerus Muhammad, diangkat menjadi Kalifah Islam pertama yang “dituntun dengan benar” setelah kematian Muhammad. Jenderal dari Abu Bakr adalah Khalid bin al-Walid al-Makhzumi yang juga bertempur di bawah kepemimpinan Muhammad. Di bawah pimpinan Muhammad, Khalid bertempur dengan sangat efektif sehingga ia mendapatkan gelar, Pedang Allah.
Atas perintah Abu Bakr, pada 633-634 M, Khalid menyebarkan undangan kepada orang-orang Arabia untuk memeluk Islam. “Undangan” ini sebenarnya tidak lebih dari ancaman perang dan kematian bagi mereka yang menolak untuk bertobat dan tunduk kepada pemerintahan Islam. Undangan itu sebenarnya berbunyi demikian:
“Dalam nama Allah, Yang Pengasih dan Pemurah. Dari Khalid bin al-Walid kepada gubernur-gubernur Persia. Peluklah Islam maka kamu akan selamat. Jika tidak, buatlah perjanjian dengan saya dan bayarlah pajak Jizyah. Atau, saya telah membawa kepadamu orang-orang yang mencintai kematian sama seperti kamu suka minum anggur”. 7
Setelah “undangan” untuk memeluk Islam ini disampaikan, banyak orang yang menolak untuk memeluk agama Islam. Diantara mereka adalah kelompok orang-orang Persia dan orang-orang Kristen dari Ullays di sungai Efrat. Khalid menyerang mereka pada tahun 633 M. Pertempuran itu begitu sengit sehingga Khalid bersumpah kepada Allah dalam peperangan itu bahwa jika ia dapat mengalahkan mereka, ia akan membuat kanal yang dialiri darah di sekeliling kampung mereka. Ia memerintahkan agar semua yang sudah dikalahkan ditawan hidup-hidup. Tawanan itu sangatlah banyak sehingga diperlukan satu setengah hari untuk memenggal kepala mereka. Namun, darah mereka sangat kental dan pasukan Khalid akhirnya harus memberi air ke dalam kanal supaya menjadi merah, jika tidak maka sumpah Khalid tidak akan tergenapi. Abu Jafar Muhammad ibn Jarir At-Tabari, sejarahwan dan teolog Islam mula-mula, mencatat peristiwa ini demikian:
“Khalid berkata,”O Allah, jika Engkau melepaskan bahu mereka kepada kami, saya akan mewajibkan diri kepada-Mu untuk tidak meninggalkan seorangpun diantara mereka yang dapat kami kalahkan sampai saya membuat kanal mereka dialiri darah mereka”. Lalu Allah mengalahkan mereka bagi orang Muslim, dan menyerahkan bahu mereka pada orang Muslim. Kemudian Khalid memerintahkan utusannya untuk mengatakan pada pasukannya, “Tangkap! Tangkap! Jangan bunuh siapapun kecuali ia tetap melawan”. Kemudian pasukan itu menggiring para tawanan secara berbondong-bondong. Khalid telah menunjuk orang-orang tertentu untuk memenggal kepala mereka di dalam kanal. Ia berbuat demikian pada mereka selama satu setengah hari. Pasukannya mengejar mereka keesokan harinya dan juga hari berikutnya, sampai mereka tiba di Nahrayn dan sekitarnya dari segala arah, dari Ullays. Dan Khalid memenggal kepala mereka”. 8
Beberapa bawahan Khalid menyampaikan padanya:
“Sekalipun engkau harus membunuh semua penduduk dunia, darah mereka tetap tidak akan mengalir...Oleh karena itu berilah air diatasnya, maka engkau akan memenuhi sumpahmu”. Khalid telah menghalangi air dari kanal. Kini Khalid mengembalikannya, sehingga air itu mengalir bercampur darah. Untuk mengingat hari itu, hingga hari ini kanal itu dikenal dengan Kanal Darah”. 9
Amir Taheri, seorang jurnalis kelahiran Iran, dalam sebuah artikel di New York Post, tanggal 14 Mei 2004 yang berjudul “Pemotongan Kepala”, mendaftarkan beberapa insiden lain di sepanjang sejarah praktek pemenggalan kepala yang dilakukan Islam:
“Pada 680 M, cucu laki-laki kesayangan nabi, Hussein bin Ali, dipenggal kepalanya di Karbala, pusat Irak, oleh tentara-tentara Kalif Yazid. Kepala yang bersimbah darah itu diletakkan di atas nampan perak dan dikirimkan ke Damaskus, ibukota Yazid, sebelum dikirim ke Kairo untuk diinspeksi oleh Gubernur Mesir. Tentara-tentara Kalif juga memenggal kepala ke-71 orang laki-laki yang menyertai Hussein, termasuk seorang bayi laki-laki berusia satu tahun barnama Ali-Asghar”. 10
Maka pola yang telah ditetapkan dan prinsip yang telah dicontohkan Muhammad ini kembali dan menimpa keluarganya. Pada akhirnya kisah-kisah pemenggalan kepala memenuhi sejarah Islam. Andrew Botom, editor The Legacy of Jihad memaparkan bahwa pada akhir abad ke-15:
“Babur, pendiri kekaisaran Mughal, yang dihormati sebagai teladan yang sempurna tentang toleransi Muslim oleh para ahli sejarah revisionis, mencatat peristiwa berikut ini dalam otobiografinya “Baburnama”, mengenai para tawanan sebuah perang jihad: ‘Mereka yang ditawan hidup-hidup (karena menyerah) diperintahkan untuk dipenggal, dan setelah itu sebuah menara yang terbuat dari kepala-kepala mereka didirikan di kamp tersebut”. 11
Taheri kemudian beralih ke jaman yang sedikit lebih modern:
“Pada tahun 1842 orang Muslim Afghanistan mengalahkan pasukan Inggris di Kabul dan memenggal lebih dari 2000 laki-laki, wanita dan anak-anak. Kepala-kepala mereka dipancangkan di tiang-tiang di sekeliling kota sebagai dekorasi”.12
Praktek ini terus berlanjut selama tahun 1980-an di Afghanistan, dimana diperkirakan sekitar 3000 tentara Soviet dipenggal oleh para pejuang Afghanistan. Praktek pemenggalan juga adalah praktek yang umum dilakukan selama revolusi Iran:
“Pada 1992, para mullah mengirimkan seorang ‘spesialis’ untuk memenggal kepala Shapour Bakhtiar, perdana menteri terakhir dari Shah Iran, di pinggiran kota Paris. Ketika kabar itu tersiar, Hashemi Rafsanjani yang kemudian menjadi presiden Republik Islam Iran bersyukur kepada Allah di depan publik karena telah mengijinkan ‘pemenggalan kepala si ular”. 13
Taheri bahkan menceritakan tentang seorang ‘spesialis’ pemenggalan berkebangsaan Algeria, yang dijuluki Momo, yang direkrut oleh sebuah kelompok Islam yaitu GIA, yang bertujuan secara khusus untuk memenggal kepala orang:
“Pada 1996 di Ben-Talha, daerah pinggiran ibukota Algiers, Momo memecahkan rekor memenggal 86 kepala dalam semalam, termasuk lebih dari selusin kepala anak-anak. Sebagai penghargaan atas teladan kebajikannya, GIA mengirimnya ke Mekkah untuk berziarah. Terakhir kali kami mendapatkan keterangan, Momo masih berkeliaran di suatu tempat di Algeria”. 14
Taheri kemudian menceritakan situasi di Pakistan ketika:
“Kelompok-kelompok Sunni dan Shiah yang bermusuhan mempunyai kebiasaan saling mengirim kepala dari masing-masing aktivis melalui kiriman khusus. Diperkirakan ada lebih dari 400 kepala telah dipenggal dan diposkan sejak 1990”.15
Dan dewasa ini, kita melihat dahsyatnya pemenggalan kepala di pulau Kalimantan, di Indonesia, dimana orang Muslim menggunakan cara ini untuk mengusir mayoritas orang Kristen keluar dari pulau itu. Hampir separuh orang Kristen telah meninggalkan pulau itu.
Dan di balik semua contoh yang mengerikan ini ada juga pemerintah yang memberlakukan pemenggalan kepala setiap minggu yaitu di Arab Saudi. Pemenggalan itu dilakukan setelah sembahyang Jumat tepat di luar mesjid-mesjid:
“Pemerintah Saudi memenggal kepala 52 laki-laki dan 1 wanita tahun lalu atas tuduhan kejahatan seperti pembunuhan, homoseksualitas, perampokan bersenjata dan perdagangan obat terlarang...Si terpidana dibawa ke tempat peradilan dengan tangan terikat, dan dipaksa berlutut di hadapan algojo yang mengayunkan sebilah pedang besar dengan diiringi teriakan massa “Allahu akbar!” yang berarti “Allah Maha Besar!”.16
Allahu akbar juga diteriakkan oleh para pembunuh Nicholas Berg, seorang kontraktor Yahudi-Amerika, dan Kim-Sun-il, seorang penerjemah Korea dan seorang Kristen Injil, yang memimpikan suatu hari akan menjadi seorang misionaris untuk orang Muslim. Impiannya itu terwujud dan berakhir saat itu juga...
Sementara jelaslah sudah apa yang diajarkan oleh sejarah Islam, kita juga perlu memperhatikan apa yang dikatakan oleh para sarjana Islam dan kitab sucinya mengenai hal ini.
NILAI HIDUP SEORANG NON-MUSLIM
Ketika seorang “ekstrimis” Muslim melakukan suatu tindakan yang mengerikan atas nama Islam, kebanyakan orang Muslim yang saya kenal akan segera memberikan pernyataan, “Itu bukan Islam! Islam tidak boleh dihakimi melalui tingkah-laku segelintir orang, namun harus dipelajari agar dapat melihat apa yang sesungguhnya diajarkan Islam”. Itu cukup adil. Maka pertanyaannya adalah: Apakah sesungguhnya yang diajarkan oleh Islam mengenai pembunuhan terhadap orang-orang non-Muslim?
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah bahwa menurut hukum Islam, untuk semua tujuan praktis, orang Muslim diijinkan untuk membunuh non-Muslim. Ini didasarkan atas hukum Qisas. Pada dasarnya Qisas adalah hukum timbal balik. Itu adalah “mata ganti mata” menurut versi Islam. Sebagai contoh, Qisas menyatakan bahwa jika seorang Muslim membunuh sesama Muslim, maka orang Muslim itu harus dieksekusi. Yang mengherankan adalah, hukum ini tidak berlaku pada orang Muslim yang membunuh non-Muslim. Pengajaran ini terdapat dalam sebuah Hadith dari Sahih Bukhari:
“Berkisahlah Ash-Sha’bi: Abu Juhaifa berkata, “Saya bertanya kepada Ali”, Apakah (yang tertulis) pada selembar kertas itu? Ali menjawab, Itu soal Diyya (uang darah sebagai kompensasi yang harus dibayarkan si pembunuh kepada kerabat si korban), tebusan untuk membebaskan tawanan dari tangan para musuhnya, dan hukum yang mengatakan bahwa tidak ada Muslim yang boleh dibunuh dalam Qisas (kesamaan penghukuman) karena membunuh (seorang kafir).17
penekanan oleh penulis
Sudah tentu dalam beberapa kasus, hukuman-hukuman lain seperti pemenjaraan atau denda dapat dikenakan pada si pembunuh. Tapi sedihnya, kenyataan menunjukkan bahwa, dalam kebudayaan yang tidak memandang hidup seorang non-Muslim sama nilainya dengan seorang Muslim, pembunuhan atas non-Muslim seringkali dipandang sebelah mata. Jika anda membuka situs Voice of the Martyrs di www.persecution.org, atau Barnabas Fund di www.barnabasfund.org, anda dapat membaca ratusan kisah yang diperbaharui setiap hari, mengenai orang-orang Kristen yang dizalimi atau bahkan dibunuh tanpa adanya tuntutan hukum terhadap orang-orang Muslim yang melakukan pembunuhan itu. Pernyataan di bawah ini adalah contoh yang sempurna mengenai mentalitas yang sering saya jumpai ketika berbincang dengan banyak orang Muslim dari Timur Tengah. Pernyataan ini dimuat di sebuah kelompok diskusi antar agama di internet. Perhatikanlah sikap yang nampak berkenaan dengan pembunuhan non-Muslim (kafir):
“Orang-orang kafir telah menyerang negara-negara Muslim dan membunuh orang Muslim sejak semula...padahal kami tidak melakukan apa-apa. Contohnya, orang Israel menyerang Muslim dari Palestina karena masalah tanah dan karena mereka membenci orang Arab/Muslim...kami membela mereka bagi Allah. Kami berusaha menyebarkan Islam, satu-satunya perkataan Allah yang benar. Mereka menolaknya, oleh karena itu kami diijinkan untuk membunuh mereka. Tidaklah diharamkan unutk membunuh orang kafir. Sudah tentu kami ingin agar insya Allah (oleh kehendak Allah) hidup damai dengan mereka dan insya Allah mengajarkan pada mereka agama yang indah ini”. 18
Apakah anda melihat mentalitas bengkok yang terekspresi dalam komentar di atas? “Agama yang indah ini” mengijinkan pembunuhan atas orang-orang yang tidak menganutnya???
PANDANGAN QUR’AN MENGENAI PEMBUNUHAN ORANG KAFIR
Ayat-ayat Qur’an yang seringkali dikutip oleh orang-orang Barat untuk menunjukkan sifat bengis agama Islam adalah ayat yang dikenal di dalam dan di luar Islam sebagai “ayat pedang”:
“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyirikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Sura 9:5
Setiap kali ayat ini dikutip, selalu ada Muslim yang menyatakan bahwa ayat ini tidak dapat diterapkan di jaman sekarang. Walau saya akan merasa sangat senang mendengarnya (jika memang demikian), namun pertanyaan yang sebenarnya harus diajukan adalah: Bagaimana para sarjana dan guru-guru Islam menafsirkan ayat ini? Apakah menurut mereka ayat ini masih dapat diaplikasikan pada masa kini? Pada umumya mayoritas sarjana klasik dan modern Muslim akan mengiyakan. Ingatlah bahwa konsep tingkah-laku semua Muslim didikte oleh Qur’an dan Sunnah (perkataan, tindakan dan sikap Muhammad). Dari penjelasan Ibn Kathir, sarjana terkenal abad ke-8, kita dapat mengetahui penafsiran Islam yang sebenarnya mengenai ayat ini. Kathir memulainya dengan memberikan kutipan-kutipan yang dapat mendukung penafsirannya, yang diambil dari beberapa sarjana/narator Muslim Hadith yang mula-mula, seperti: Mujahid, Amr bin Shu’ayb, Muhammad bin Ishaq, As-Suddi dan Abdur-Rahman. Kathir kemudian menjelaskan arti ayat tersebut:
“Ke-4 bulan yang disebut dalam ayat ini adalah 4 bulan masa anugerah yang disebutkan pada ayat sebelumnya: ‘maka berjalanlah kamu di muka bumi selama 4 bulan”. Allah kemudian berkata, ‘apabila sudah habis bulan-bulan itu,’ artinya, pada akhir dari keempat bulan yang dilarang (Allah) bagi kamu untuk memerangi para penyembah berhala, orang-orang Muslim harus, ‘berperang dan membunuh para penyembah berhala dimanapun kamu menemukan mereka’. ‘Dimanapun kamu menemukan mereka’ berarti, di muka bumi secara umum...Allah mengatakan disini, untuk mengeksekusi sebahagian dan sebahagiannya lagi ditawan. ‘Kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian’, artinya, janganlah menunggu sampai kamu menemukan mereka, tetapi cari dan kepunglah mereka di wilayah-wilayah mereka dan benteng-benteng mereka, kumpulkanlah mata-mata terhadap mereka di berbagai jalan dan jalur sehingga apa yang lebar akan terlihat sempit bagi mereka. Dengan demikian, mereka tidak punya pilihan lain, selain mati atau memeluk Islam...Abu Bakr (sahabat dekat dan penerus Muhammad setelah kematian nabi) menggunakan ayat ini dan juga beberapa ayat terhormat lainnya sebagai dasar untuk memerangi mereka yang menolak untuk membayar pajak amal yang diwajibkan. Ayat ini mengijinkan kita untuk memerangi seseorang kecuali, dan hingga mereka memeluk Islam dan menjalankan kewajiban-kewajiban dan peraturan-peraturannya”. 19
Ini sama sekali tidak memberikan ruang untuk berdebat. Ibn Kathir dengan jelas sekali mengemukakannya. Kita lihat bahwa orang-orang Muslim diijinkan bahkan diperintahkan untuk memerangi orang yang tidak beriman (Mushrikun) dan bahkan mencari mereka dimanapun mereka berada untuk memaksa mereka bertobat kepada Islam atau menerima kematian. Sekali lagi harus diperhatikan bahwa Kathir bukanlah seorang Muslim yang “ekstrimis” namun bisa jadi ia adalah salah satu dari sarjana-sarjana Islam yang sangat diakui secara universal.
Ayat lain dalam Qur’an yang juga berkaitan dengan diskusi kita mengenai ayat “pemenggalan” yang keji adalah:
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang tidak beriman (di medan perang) kamu dapat memancung batang leher mereka”. Sura 47:4 (Khalifa)
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir, penggallah kepala mereka”. Sura 47:4 (Rodwell)
Ibn Kathir menjelaskan tujuan dari ayat ini adalah untuk:
“(Menuntun) orang-orang beriman mengenai apa yang harus mereka lakukan dalam peperangan mereka melawan para penyembah berhala. Allah berkata, ‘Maka, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang tidak beriman (dalam peperangan), pancunglah batang leher mereka’, yang berarti, ketika kamu berperang melawan mereka, tebaslah dengan sepenuh hati kepala mereka dengan pedangmu. ‘Sampai kamu sungguh-sungguh telah mangalahkan mereka,’ artinya, kamu telah membunuh dan benar-benar menghancurkan mereka. Ini berkenaan dengan tawanan-tawanan perang yang telah kamu tangkap”. 20
Jadi ketika kita melihat ayat-ayat itu, kita mendapati bahwa orang Muslim diperintahkan untuk memenggal (atau setidaknya “menebas leher”) orang-orang non-Muslim yang mereka perangi. Sheik Omar Bakri Muhammad, hakim pengadilan Syariah (hukum Islam) di Inggris, yang juga adalah Sekjen Liga Dunia Islam dan juru bicara Front Islam Internasional, mempunyai pendapat yang sedikit berbeda:
“Jadi apa keputusannya? Penghukuman terhadap mereka yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan berjuang untuk mebuat kekacauan negeri hanyalah ini, yaitu mereka harus dibunuh atau disalibkan atau tangan dan kaki mereka harus dipenggal pada sisi yang berlawanan atau mereka harus dpenjarakan. Ini akan sangat memalukan mereka di dalam dunia ini, dan di akhirat mereka akan mendapatkan siksaan yang berat”. 21
Setelah meneliti contoh teks-teks islami dan juga pendapat para sarjana, juru bicara dan kaum awam Muslim, kita mendapati bahwa Islam tidak hanya memerintahkan pembunuhan terhadap non-Muslim, namun juga mendukung sebuah kebudayaan dimana membunuh non-Muslim telah menjadi sebuah praktek yang dapat diterima. Namun sebelum kita mengakhiri diskusi ini, ada satu lagi tradisi spesifik yang tentu akan terlaksana jika pribadi Mahdi benar-benar menjadi sebuah kenyataan.
ANCAMAN MATI BAGI MEREKA YANG MENGHINA
OTORITAS KALIFAH
Peran kepemimpinan seorang Kalif di dalam Islam adalah sebuah konsep yang sangat kuat. Seorang Kalifah dipandang baik sebagai penerus/pengganti Muhammad dan juga pemimpin semua orang Muslim. Kalifah terakhir yang diterima oleh Sunni dan Shiah yang dipilih secara sah adalah Ali, sepupu dan menantu Muhammad. Ali wafat pada tahun 661 M. Sejak saat itu, ada banyak Kalifah lainnya yang berkuasa, tetapi tak satupun mempunyai pengaruh yang universal seperti yang dimiliki ke-4 Kalifah pertama. Orang Muslim telah menanti-nantikan pemulihan kekalifahan untuk mengembalikan kesatuan dan kepemimpinan kepada Islam di seluruh dunia. Seperti yang telah kita lihat, Mahdi diharapkan untuk memenuhi peran itu. Dalam sebuah Hadith Sahih Muslim, kita membaca tentang penghukuman bagi mereka yang menolak otoritas Kalifah:
“Barangsiapa ingin dilepaskan dari api neraka dan masuk ke dalam taman firdaus harus mati dalam iman kepada Allah dan Hari Kiamat...Dia yang bersumpah bersekutu dengan Kalif harus memberikan padanya ikrar dari tangannya dan ketulusan hatinya (yaitu tunduk kepadanya secara lahiriah dan batiniah). Ia harus menaatinya dengan segala kesanggupannya. Jika ada orang yang maju, membantah otoritas (Kalif)nya, mereka (orang-orang Muslim) harus memenggal kepalanya”.22
penekanan oleh penulis
Pemerintah Arab Saudi menganut pandangan yang demikian. Dalam situs resmi Departemen Urusan-urusan Islam Arab Saudi (IAD), kita menemukan pernyataan yang sama:
“Nabi yang mulia berkata: ‘Adalah kewajiban seorang Muslim mendengar dan menaati (otoritas Kalifah), baik dia suka atau tidak...Orang yang telah bersumpah untuk bersekutu dengan seorang pemimpin (Imam) dan telah menyerahkan tangan dan hatinya kepadanya, harus menaatinya dengan segenap kemampuannya. Jika ada orang yang menentang dan menyaingi otoritas dari pemimpin (Imam) itu, si penentang itu harus dipenggal”.23
penekanan oleh penulis
Berdasarkan huukum Islam, siapapun yang tidak mengakui otoritas Kalif yang telah ditetapkan, haruslah dipenggal.
KESIMPULAN
Kini marilah kita mengulas beberapa hal yang sudah didiskusikan. Pertama, kita telah melihat bahwa akhir jaman seperti yang digambarkan oleh Alkitab adalah suatu masa dimana orang-orang Kristen akan dianiaya dan dibunuh oleh karena iman mereka. Menurut Alkitab, metode spesifik yang digunakan untuk membunuh orang Kristen adalah pemenggalan, sehingga mereka menjadi martir. Seperti yang telah kami gambarkan dengan jelas, tidak dapat disangkal lagi bahwa pemenggalan adalah tradisi yang berkembang di sepanjang sejarah Islam. Islam sendiri telah mendokumentasikan secara menyeluruh kenyataan bahwa Muhammad dan para penerusnya mempraktekkan pemenggalan kepala sebagai metode spesifik untuk membunuh “musuh-musuh Islam”. Praktek ini terus berlanjut dalam beberapa periode Islam hingga pada hari ini. Qur’an sendiri sesungguhnya menganjurkan pemenggalan, atau setidaknya, “menebas leher” dari “para penyembah berhala” dan siapapun yang menjadi “tawanan perang”. Kami mencatat beberapa contoh pemenggalan terhadap para “tawanan perang” yang baru-baru ini diberitakan di Irak dan di berbagai tempat lainnya. Hukuman mati juga dijatuhkan atas mereka yang tidak mau tunduk atau setuju dengan otoritas Kalifah. Maka sangatlah adil untuk berasumsi bahwa dalam visi Islam mengenai akhir jaman, jika seorang Kalifah, terutama Mahdi muncul dan menerima gagasan bahwa semua orang Kristen, Yahudi, bangsa Israel, dan siapapun yang mendukung mereka dianggap sebagai “musuh-musuh Islam”, maka secara universal adalah sah bahkan diwajibkan bagi semua Muslim untuk “memerangi” dan “menebas leher” semua orang Kristen, Yahudi, atau orang Barat, dan sebagainya; dan juga siapapun yang menentang otoritas Kalifah.
Maka sekali lagi, praktek dan pengajaran Islam sepenuhnya menggenapi gambaran kekuatan yang akan berkuasa dan mendominasi dunia menurut skenario Alkitab tentang akhir jaman. Setelah melihat teks-teks Islam yang mempunyai natur membunuh, dan juga penafsiran Islam terhadap teks-teks itu, penting bagi kita untuk melihat realita bagaimana mentalitas seperti itu diwujudkan dalam pikiran seorang Muslim awam dari Timur Tengah. Berikut ini adalah sebuah posting dari dewan pesan internet islami/antar agama. Ini adalah jenis posting yang terlalu umum untuk forum-forum semacam itu. Kita mengakhiri pasal ini dengan pemikiran-pemikiran seorang Muslim berkenaan dengan pembunuhan Daniel Pearl, seorang jurnalis Amerika yang telah dibantai:
“Pertama-tama, Pearl adalah seorang Yahudi, seorang Munafik, seorang mata-mata, dan seorang kafir. Janganlah tertipu oleh orang-orang seperti itu. Kebencian mereka terhadap Islam dapat terlihat dari mulut mereka, dan apa yang ada dalam hati mereka lebih buruk lagi. Saya tidak dapat melihat pembantaian sebagai hal yang keji...Dalam Islam, kami...bahkan tidak diperbolehkan menyiksa orang kafir – kami hanya menggorok lehernya, dan sudah dibuktikan bahwa jika anda telah memotong titik tertentu di leher, maka mereka tidak akan merasa sakit...dan ingatlah ketika kami orang-orang Muslim menangkap seorang Muslim yang munafik, kami akan melakukan hal yang sama padanya, kami membantainya. Apa yang anda pikirkan mengenai seorang Yahudi yang kotor, seorang munafik yang bodoh, seorang agen ganda, dan seorang kafir? Kami melakukan hal yang sama padanya. Walhamdulilah (Syukur kepada Allah). Dan ingatlah Rasul (Muhammad) membantai sejumlah besar orang Yahudi dalam sebuah peperangan; ciptaan yang terbaik melakukan hal ini, karena orang-orang Yahudi menikam nabi Muhammad dari belakang. Dan jika menurut anda ini adalah perbuatan yang keji, Insyaallah (saya berharap dengan kehendak Allah), anda masih bisa tetap hidup ketika Mahdi datang karena anda akan melihat banyak kepala orang Yahudi/munafiqqin (munafik) berserakan di lantai”.
PEMENGGALAN KEPALA PADA AKHIR JAMAN
Dalam kitab Wahyu pasal 20, Rasul Yohanes melihat sekelompok orang tertentu. Yohanes memberikan pada kita sinopsis yang singkat mengenai apa yang dilihatnya. Secara spesifik ia menggambarkan para martir akhir jaman yang akan datang:
Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Tuhan; yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun.
Wahyu 20:4
Saya telah merenungkan ayat ini berkali-kali. Alkitab berkata bahwa pada akhir jaman, pemenggalan akan menjadi metode khusus yang digunakan terhadap para martir. Mereka akan dibunuh terutama karena “kesaksian mereka tentang Yesus dan karena firman Tuhan”. Ini adalah suatu gambaran yang aneh untuk dibayangkan. Apakah Alkitab sedang mengatakan bahwa di seluruh dunia akan ada kebangkitan guillotine di setiap alun-alun kota? Sebenarnya menurut Alkitab, apa yang mengakibatkan sehingga muncul standar yang dipakai dunia untuk menggunakan pemenggalan kepala sebagai sarana menganiaya orang Kristen? Ketika saya berusaha membayangkan natur dari akhir jaman dan seperti apa akhir jaman itu nantinya, seringkali saya bertanya-tanya soal ayat ini. Ada juga ayat-ayat lain yang mirip dengan ayat tersebut diatas. Ayat-ayat itu juga berbicara mengenai penganiayaan yang akan datang dan sebuah kecenderungan global yaitu menghukum mati orang-orang Kristen oleh karena imannya kepada Yesus:
Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku.
Matius 24:9
Disini Yesus memperingatkan murid-muridNya bahwa mereka akan dibenci dan pasti akan dibunuh sebagai akibat mereka diidentifikasikan dengan-Nya. Namun kemudian ada sebuah ekspansi profetis atas nubuat ini. Yesus mengatakan bahwa, “kamu akan dibenci oleh semua bangsa oleh karena Aku”. Secara spesifik Yesus menubuatkan sebuah elemen global berkenaan dengan penganiayaan yang akan datang terhadap orang Kristen. Ayat berikut ini memberikan pemahaman lebih lanjut pada kita:
"Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Tuhan. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya, kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu."
Yohanes 16:1
Dalam ayat yang diambil dari Injil Yohanes ini, Yesus secara khusus berbicara pada para murid di luar konteks akhir jaman yang sangat ketat. Pertama-tama Ia memperingatkan para murid bahwa pada hari-hari yang akan datang, mereka akan menyaksikan bagaimana para pengikut Yesus akan diusir dari sinagoga. Nubuat ini tergenapi setelah terjadinya peristiwa yang kemudian dikenal dengan pemberontakan Bar Kochba pada 132-135 M. Dalam pemberontakan Bar Kochba itulah terjadinya pemisahan final antara gereja dan sinagoga. Bar Kochba adalah Mesias Yahudi yang palsu. Ia didukung dan disemangati oleh pihak otoritas para rabi yang paling tinggi kedudukannya pada waktu itu, yang dikenal sebagai Rabbi Akiva. Akibat adanya dukungan Akiva, Bar Kochba kemudian dipandang sebagai Mesias di mata orang Yahudi. Ketika Bar Kochba memimpin orang Yahudi memberontak terhadap Roma, orang Yahudi yang tidak berpartisipasi dalam pemberontakan itu dipandang sebagai pengkhianat bangsa Yahudi. Orang-orang Yahudi yang adalah pengikut Yesus, sebelum terjadinya pemberontakan itu secara reguler berpartisipasi dalam ibadah-ibadah di sinagoga, tidak dapat mendukung sebuah pemberontakan yang dipimpin oleh seorang yang mereka yakini adalah Mesias yang palsu. Sebagai akibatnya, orang-orang Yahudi yang adalah pengikut Yesus dikeluarkan dari sinagoga secara massal dan nubuat Yesus digenapi pada abad kedua.
Tetapi pada bagian kedua dari ayat ini, Yesus berbicara mengenai akhir jaman. “Pada kenyataannya”, Yesus melanjutkan kata-kata-Nya, ”akan tiba harinya ketika para penganiayamu akan melakukan yang lebih daripada sekadar mengusir kamu dari sinagoga; mereka benar-benar akan membunuhmu.” Namun aspek yang paling membingungkan dan membuat penasaran dari ayat ini adalah bagian selanjutnya dari pernyataan Yesus. Ia mengatakan bahwa mereka yang akan membunuh kamu akan berpikir bahwa mereka melakukannya sebagai ibadah kepada Tuhan. Bagian inilah kuncinya. Bagaimana mungkin ada orang di jaman ini yang secara literal berpikir bahwa Tuhan menuntut pembunuhan atas manusia lain hanya karena mereka mempunyai kepercayaan yang berbeda? Itu adalah sebuah konsep yang sangat asing bagi sebagian besar cara berpikir dunia Barat modern. Namun, itu bukanlah sebuah konsep yang asing dalam sejarah. Baik Islam maupun Kristen – Katolik maupun Protestan- , keduanya bersalah dalam hal ini, karena telah membunuh orang-orang yang dianggap sebagai bidat dari satu-satunya agama yang benar. Jihad, Perang Salib, Inkuisisi – semua itu cocok dengan kriteria pembunuhan bagi dan dalam nama Tuhan. Satu hal yang pasti, ada sebuah unsur penting dalam sebuah penumpahan darah seperti itu, yaitu adanya keyakinan yang kuat bahwa Tuhan ada pada satu pihak dan Ia memerintahkan eksekusi semacam itu. Sangat sulit mumbayangkan ada sistem kepercayaan atau filsafat di bumi ini yang sanggup melaksanakan hal seperti itu selain daripada sebuah agama dunia yang kokoh berdiri. Sementara rejim totaliter tentu saja sanggup melakukan hal seperti itu, ayat ini secara spesifik mengatakan bahwa pihak-pihak yang melakukan eksekusi macam ini meyakini bahwa dengan melakukannya mereka sedang beribadah kepada Tuhan. Sistem yang melaksanakan eksekusi seperti itu adalah sebuah sistem keagamaan yang memandang dirinya sebagai penatalayan dari sebentuk pemerintahan global yang ilahi. Ia memandang dirinya sebagai satu-satunya organisasi atau komunitas milik Tuhan di bumi ini. Hanyalah skenario seperti itu yang dapat bertanggung-jawab terhadap tindakan-tindakan yang kita baca dalam ayat itu.
Maka sebagai kesimpulannya, ketika kita memperbandingkan ketiga ayat itu, kita mempunyai sebuah gambaran yang spesifik mengenai seperti apa penganiayaan dan kemartiran di akhir jaman nantinya. Pertama-tama, sifatnya global. Kedua, diperlukan adanya suatu sistem kepercayaan yang memandang dirinya sendiri sebagai pihak yang memiliki peran dalam pemerintahan di bumi dengan penunjukan ilahi. Ketiga, akan melakukan metode khusus yaitu pemenggalan kepala sebagai metode utama dalam mengeksekusi. Jadi kita memiliki sebuah agama global yang mengganggap dirinya sebagai sebuah sistem di bumi dengan penunjukan ilahi, yang disahkan oleh Tuhan, untuk memenggal semua orang yang menolak untuk bergabung. Seperti yang akan kita lihat, berdasarkan terminologi sistem keagamaan yang eksis di dunia saat ini, hanyalah agama Islam yang memenuhi semua kriteria tersebut diatas.
BERITA-BERITA MENGENAI PEMENGGALAN
Saat buku ini ditulis, pada akhir tahun 2004, di Irak, Arab Saudi dan beberapa negara lainnya, ada berita-berita mengenai orang-orang asing dan orang Kristen yang setiap minggu dipenggal kepalanya oleh Islam radikal. Hal ini menimbulkan perdebatan yang panas berkenaan dengan apakah praktek semacam itu benar-benar “islami” ataukah hanya praktek biadab beberapa orang radikal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang murni. Pernyataan-pernyataan publik yang umumnya dikemukakan oleh media Barat adalah pernyataan-pernyataan biasa yang mengutuk insiden semacam itu dan bahwa hal itu tidak ada hubungannya dengan “Islam sejati”. Dalam banyak kasus, media Barat melahap habis penyangkalan-penyangkalan ini dan menerbitkannya tanpa banyak bertanya. Tetapi jika kita mengacu tidak hanya tradisi dan sejarah Islam, tetapi juga “kabar burung yang kita dengar di jalan” berkenaan dengan perasaan orang-orang Muslim yang selalu menyuarakan pendapat mereka setiap hari melalui internet dan kelompok-kelompok chatting, maka kita akan mendapatkan realitas yang sangat berbeda. Pesan Islam tersebar luas di internet mendebat sah tidaknya tindakan-tindakan semacam itu ketika peristiwa itu telah menjadi berita utama di media. Sebuah artikel dari Berita CBS yang berjudul, Budaya pemenggalan Kepala di Arab Saudi, tanggal 27 Juni 2004, juga mengutip beberapa “pembicaraan” di internet:
“Dan dalam forum-forum internet islami, yang umumnya digunakan oleh kelompok-kelompok radikal, pemenggalan telah menjadi topik yang populer beberapa minggu belakangan ini, dengan banyaknya partisipan yang menggambarkannya sebagai cara yang “termudah” untuk membunuh seorang Amerika atau seorang Saudi dari keluarga yang berpengaruh”. 1
Satu-satunya kesalahan yang dilakukan CBS adalah mengasumsikan bahwa pada umumnya para partisipan yang menggunakan forum-forum semacam itu adalah benar-benar “radikal”. Saya telah berpartisipasi dalam sejumlah “komunitas” islami semacam itu dan telah bersahabat dengan banyak orang Muslim melalui kelompok-kelompok semacam itu. Kebanyakan forum-forum itu sekarang ada di Amerika dan Kanada dan banyak yang merupakan mantan Kristen. Sementara penulis artikel CBS itu berasumsi bahwa individu-individu yang terlibat dalam percakapan itu semuanya adalah orang-orang radikal oleh karena natur biadab dari diskusi-diskusi semacam itu. Menurut saya banyak diantara mereka yang semata-mata hanya bersungguh-sungguh dalam imannya sebagai seorang Muslim, sama halnya dengan saya yang bersungguh-sungguh dengan iman Kristen saya. Sementara beberapa anggota kelompok-kelompok diskusi itu nampaknya jijik dan malu dengan adanya praktek pemenggalan yang muncul baru-baru ini, kebanyakan orang nampaknya jauh lebih memfokuskan diri pada masalah-masalah doktrinal seperti apakah pemenggalan-pemenggalan itu telah dilakukan dengan tepat atau tidak, apakah korban-korbannya dianggap sebagai musuh atau orang yang tidak bersalah, dan sebagainya. Sam Hamod, yang adalah mantan direktur Pusat Islam di Washington D.C, saat diberi kesempatan untuk mengomentari masalah ini, dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Washington Times tidak mengutuk pemenggalan-pemenggalan itu, tetapi menegaskan bahwa orang-orang yang melakukan pemenggalan-pemenggalan di Irak dan dimanapun juga tidak melakukannya dengan benar:
“Anda tidak dapat melakukan seperti yang dibuat orang-orang idiot itu di TV. Yang seharusnya dilakukan adalah menggorok leher orang itu, bukan memutuskan kepalanya dari batang lehernya”. 2
PEMENGGALAN KEPALA DALAM ISLAM: TELADAN MUHAMMAD
Pemenggalan kepala dalam Islam sama sekali bukanlah fenomena yang baru. Oleh karena kejijikan yang amat sangat dari banyak orang di seluruh dunia Barat berkenaan dengan praktek yang dilakukan oleh Muslim radikal di Irak dan dimanapun, banyak orang Muslim moderat dan para apologis Muslim telah berulangkali mengklaim bahwa pemenggalan kepala bukanlah praktek yang resmi dalam Islam. Mereka mengklaim hal itu sebagai penyimpangan dari ajaran-ajaran dasar Islam. Klaim ini dibuat untuk menciptakan citra Islam yang lebih baik di mata dunia Barat. Sayangnya, klaim-klaim ini dibuat dengan mengabaikan sejarah Islam atau juga dibuat dengan niat yang kuat untuk menipu. Sesungguhnya, seperti yang akan kita lihat, pemenggalan adalah warisan utama Islam. Pemenggalan tidak hanya diperintahkan sebagai sebuah metode spesifik untuk membunuh musuh seseorang di dalam Qur’an, tetapi seperti yang akan kita lihat, pemenggalan juga adalah metode pembunuhan yang sangat disukai Muhammad dan banyak pengikutnya.
Ketika Muhammad memulai karirnya yang penuh kekerasan dan agresi, gerombolan pejuang Muslimnya masih sangat kecil. Karavan-karavan yang melakukan perjalanan pergi pulang dari Mekkah dan Damaskus menjadi sasaran empuk Muhammad. Oleh karena penduduk Mekkah menggantungkan hidup mereka pada karavan-karavan itu, mereka merasa sangat terganggu setelah mengalami beberapa serangan dari Muhammad dan gerombolan perampoknya. Akhirnya, para pria dari suku Quraish datang dari Mekkah untuk menyerang Muhammad dan orang-orangnya. Pertempuran ini, yang kemudian terkenal sebagai Perang Badr, menghasilkan kemenangan atas Quraish yang tidak disangka-sangka oleh Muhammad dan pasukannya yang belum berpengalaman. Abba Hakam adalah salah seorang korban perang.
“Aba Hakam terluka sangat parah tetapi masih hidup ketika Abdullah, pelayan Muhammad, berlari padanya dan menaruh kakinya di leher Aba Hakam, memegang janggutnya dan mulai menghina pria yang sudah terluka parah itu; pria yang digelari rakyatnya sebagai “Bapa yang Berhikmat”. Abdullah memenggal kepala Abba Hakam dan membawanya kepada tuannya. “Kepala musuh Allah!” teriak Muhammad dengan sukacita ; - “Allah! Tidak ada Tuhan selain Dia!” – “Ya, tidak ada yang lain!” sahut Abdullah, sambil melemparkan kepala itu ke kaki nabi. “Ini sangat menyenangkan saya;” teriak Muhammad hampir-hampir tidak dapat menahan kegembiraannya, ”lebih daripada unta yang terbaik di seluruh Arabia”. 3
penekanan oleh penulis.
Sedihnya, nafsu terhadap darah yang dimiliki Muhammad dan para pengikutnya semakin bertambah sejak peristiwa ini. Pada 627 M, Muhammad sendiri mengatur apa yang sejujurnya merupakan sebuah pembantaian massal. Muhammad dan pasukannya mengepung perkampungan Yahudi di Quraizah. Setelah 25 hari, perkampungan itu menyerah, berharap Muhammad akan bermurah hati pada mereka. Namun Muhammad memerintahkan tentara-tentaranya untuk menggali beberapa parit dan memasukkan dengan paksa sekitar 600-900 orang kedalamnya. Di tangan tentara-tentara Muhammad, mereka semua dipenggal. Parit-parit itu menjadi kuburan massal. Berdasarkan Sirat Rasul karya Ibn Ishaq, yang merupakan biografi Muhammad, yang mula-mula dan sangat diakui, kita dapat membaca peristiwa yang mengerikan itu:
“Lalu mereka (Qurayza) menyerah dan nabi menawan mereka di Medina...Kemudian nabi pergi ke pasar Medina (yang masih ada sampai hari ini) dan menggali parit-parit disana. Lalu ia memanggil mereka dan memenggal kepala mereka di dalam parit-parit itu saat mereka dibawa kepadanya secara berkelompok. ...Mereka semua berjumlah 600-700, walau ada yang memperkirakan sekitar 800 atau 900 orang...Ini berlanjut sampai nabi menghabisi mereka semua”. 4
Nampaknya, setelah pembantaian besar-besaran ini, sesuatu muncul dalam diri Muhammad. Enam ratus hingga sembilan ratusan pria Quraizah yang telah dipenggal seakan belum cukup. Tak lama setelah insiden ini, Muhammad memenggal lebih dari 400 orang Yahudi. Muhammad bersekutu dengan 2 kelompok suku, orang Khazraj dan orang Aus. Orang Khazraj bertugas memenggal 400 orang Yahudi tetapi orang Aus berdiri mendampingi. Ketika Muhammad melihat bahwa ada kegembiraan di wajah orang Khazraj ketika memenggal semua orang Yahudi sedangkan orang Aus hanya berdiri di sisi, ia memerintahkan agar ke-12 orang yang tersisa dipenggal oleh orang Aus:
“Abu ‘Ubayda berkata pada saya atas perintah Abu ‘Amir orang Medina, ketika nabi (Muhammad) mendapatkan yang lebih baik dari anak-anak laki-laki Qurayza ia menangkap sekitar empat ratus orang Yahudi yang adalah sekutu Aus terhadap Khazraj, dan memerintahkan supaya mereka dipenggal. Oleh karena itu Khazraj mulai memenggal kepala mereka dengan sangat puas. Rasul melihat bahwa wajah orang Khazraj menunjukkan kegembiraan mereka, tapi tidak ada indikasi seperti itu pada orang Aus, dan...ketika ia melihat hanya tersisa dua belas orang saja ia menyerahkan mereka kepada orang Aus, menyerahkan satu Yahudi untuk dibunuh oleh dua orang Aus, dan berkata, ‘Begini-beginilah memukulinya dan begini-beginilah menghabisinya”. 5
Kemudian, ada lagi peristiwa pemenggalan yang terjadi atas perintah Muhammad ketika ia kembali memasuki kota Mekkah dengan 10.000 tentaranya, ia memanggil para pejuang dalam pasukannya dari Medina dan bertanya pada mereka, “Apakah kamu melihat tentara-tentara dari Quraysh (dari Mekkah)? Pergilah dan bantai mereka”. Mark A. Gabriel menjelaskan arti kata yang digunakan Muhammad untuk membantai dalam bahasa Arab:
“Kata dalam bahasa arab yang digunakan untuk membantai menggambarkan seorang petani yang menuai panennya dengan sebuah sabit besar. Dengan kata lain, Muhammad mengatakan pada mereka untuk “Memenggal kepala mereka dari tubuh mereka seperti kamu memotong buah dari dahan-dahan pohon”. 6
Jadi inilah awal segalanya: dengan Muhammad. Tapi tentu saja ini bukan sebuah akhir. Ingatlah bahwa apapun yang dikatakan atau dilakukan Muhammad, itu dianggap sama otoritas dan inspirasinya dengan Qur’an itu sendiri. Tindakan-tindakan Muhammadlah yang mendiktekan contoh hidup yang telah ditetapkan Allah sebagai kehendak-Nya bagi semua Muslim:
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku”. Sura 3:31
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasullullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat..” Sura 33:21.
Dengan membantai orang-orang dari perkampungan Yahudi dengan cara seperti ini, Muhammad memberikan teladan mengenai apa yang telah ditetapkan Allah dan bahkan memerintahkan semua Muslim yang setia untuk mengikutinya.
PEMENGGALAN KEPALA DIANTARA PARA PENGIKUT MUHAMMAD
Abu Bakr, sahabat karib dan penerus Muhammad, diangkat menjadi Kalifah Islam pertama yang “dituntun dengan benar” setelah kematian Muhammad. Jenderal dari Abu Bakr adalah Khalid bin al-Walid al-Makhzumi yang juga bertempur di bawah kepemimpinan Muhammad. Di bawah pimpinan Muhammad, Khalid bertempur dengan sangat efektif sehingga ia mendapatkan gelar, Pedang Allah.
Atas perintah Abu Bakr, pada 633-634 M, Khalid menyebarkan undangan kepada orang-orang Arabia untuk memeluk Islam. “Undangan” ini sebenarnya tidak lebih dari ancaman perang dan kematian bagi mereka yang menolak untuk bertobat dan tunduk kepada pemerintahan Islam. Undangan itu sebenarnya berbunyi demikian:
“Dalam nama Allah, Yang Pengasih dan Pemurah. Dari Khalid bin al-Walid kepada gubernur-gubernur Persia. Peluklah Islam maka kamu akan selamat. Jika tidak, buatlah perjanjian dengan saya dan bayarlah pajak Jizyah. Atau, saya telah membawa kepadamu orang-orang yang mencintai kematian sama seperti kamu suka minum anggur”. 7
Setelah “undangan” untuk memeluk Islam ini disampaikan, banyak orang yang menolak untuk memeluk agama Islam. Diantara mereka adalah kelompok orang-orang Persia dan orang-orang Kristen dari Ullays di sungai Efrat. Khalid menyerang mereka pada tahun 633 M. Pertempuran itu begitu sengit sehingga Khalid bersumpah kepada Allah dalam peperangan itu bahwa jika ia dapat mengalahkan mereka, ia akan membuat kanal yang dialiri darah di sekeliling kampung mereka. Ia memerintahkan agar semua yang sudah dikalahkan ditawan hidup-hidup. Tawanan itu sangatlah banyak sehingga diperlukan satu setengah hari untuk memenggal kepala mereka. Namun, darah mereka sangat kental dan pasukan Khalid akhirnya harus memberi air ke dalam kanal supaya menjadi merah, jika tidak maka sumpah Khalid tidak akan tergenapi. Abu Jafar Muhammad ibn Jarir At-Tabari, sejarahwan dan teolog Islam mula-mula, mencatat peristiwa ini demikian:
“Khalid berkata,”O Allah, jika Engkau melepaskan bahu mereka kepada kami, saya akan mewajibkan diri kepada-Mu untuk tidak meninggalkan seorangpun diantara mereka yang dapat kami kalahkan sampai saya membuat kanal mereka dialiri darah mereka”. Lalu Allah mengalahkan mereka bagi orang Muslim, dan menyerahkan bahu mereka pada orang Muslim. Kemudian Khalid memerintahkan utusannya untuk mengatakan pada pasukannya, “Tangkap! Tangkap! Jangan bunuh siapapun kecuali ia tetap melawan”. Kemudian pasukan itu menggiring para tawanan secara berbondong-bondong. Khalid telah menunjuk orang-orang tertentu untuk memenggal kepala mereka di dalam kanal. Ia berbuat demikian pada mereka selama satu setengah hari. Pasukannya mengejar mereka keesokan harinya dan juga hari berikutnya, sampai mereka tiba di Nahrayn dan sekitarnya dari segala arah, dari Ullays. Dan Khalid memenggal kepala mereka”. 8
Beberapa bawahan Khalid menyampaikan padanya:
“Sekalipun engkau harus membunuh semua penduduk dunia, darah mereka tetap tidak akan mengalir...Oleh karena itu berilah air diatasnya, maka engkau akan memenuhi sumpahmu”. Khalid telah menghalangi air dari kanal. Kini Khalid mengembalikannya, sehingga air itu mengalir bercampur darah. Untuk mengingat hari itu, hingga hari ini kanal itu dikenal dengan Kanal Darah”. 9
Amir Taheri, seorang jurnalis kelahiran Iran, dalam sebuah artikel di New York Post, tanggal 14 Mei 2004 yang berjudul “Pemotongan Kepala”, mendaftarkan beberapa insiden lain di sepanjang sejarah praktek pemenggalan kepala yang dilakukan Islam:
“Pada 680 M, cucu laki-laki kesayangan nabi, Hussein bin Ali, dipenggal kepalanya di Karbala, pusat Irak, oleh tentara-tentara Kalif Yazid. Kepala yang bersimbah darah itu diletakkan di atas nampan perak dan dikirimkan ke Damaskus, ibukota Yazid, sebelum dikirim ke Kairo untuk diinspeksi oleh Gubernur Mesir. Tentara-tentara Kalif juga memenggal kepala ke-71 orang laki-laki yang menyertai Hussein, termasuk seorang bayi laki-laki berusia satu tahun barnama Ali-Asghar”. 10
Maka pola yang telah ditetapkan dan prinsip yang telah dicontohkan Muhammad ini kembali dan menimpa keluarganya. Pada akhirnya kisah-kisah pemenggalan kepala memenuhi sejarah Islam. Andrew Botom, editor The Legacy of Jihad memaparkan bahwa pada akhir abad ke-15:
“Babur, pendiri kekaisaran Mughal, yang dihormati sebagai teladan yang sempurna tentang toleransi Muslim oleh para ahli sejarah revisionis, mencatat peristiwa berikut ini dalam otobiografinya “Baburnama”, mengenai para tawanan sebuah perang jihad: ‘Mereka yang ditawan hidup-hidup (karena menyerah) diperintahkan untuk dipenggal, dan setelah itu sebuah menara yang terbuat dari kepala-kepala mereka didirikan di kamp tersebut”. 11
Taheri kemudian beralih ke jaman yang sedikit lebih modern:
“Pada tahun 1842 orang Muslim Afghanistan mengalahkan pasukan Inggris di Kabul dan memenggal lebih dari 2000 laki-laki, wanita dan anak-anak. Kepala-kepala mereka dipancangkan di tiang-tiang di sekeliling kota sebagai dekorasi”.12
Praktek ini terus berlanjut selama tahun 1980-an di Afghanistan, dimana diperkirakan sekitar 3000 tentara Soviet dipenggal oleh para pejuang Afghanistan. Praktek pemenggalan juga adalah praktek yang umum dilakukan selama revolusi Iran:
“Pada 1992, para mullah mengirimkan seorang ‘spesialis’ untuk memenggal kepala Shapour Bakhtiar, perdana menteri terakhir dari Shah Iran, di pinggiran kota Paris. Ketika kabar itu tersiar, Hashemi Rafsanjani yang kemudian menjadi presiden Republik Islam Iran bersyukur kepada Allah di depan publik karena telah mengijinkan ‘pemenggalan kepala si ular”. 13
Taheri bahkan menceritakan tentang seorang ‘spesialis’ pemenggalan berkebangsaan Algeria, yang dijuluki Momo, yang direkrut oleh sebuah kelompok Islam yaitu GIA, yang bertujuan secara khusus untuk memenggal kepala orang:
“Pada 1996 di Ben-Talha, daerah pinggiran ibukota Algiers, Momo memecahkan rekor memenggal 86 kepala dalam semalam, termasuk lebih dari selusin kepala anak-anak. Sebagai penghargaan atas teladan kebajikannya, GIA mengirimnya ke Mekkah untuk berziarah. Terakhir kali kami mendapatkan keterangan, Momo masih berkeliaran di suatu tempat di Algeria”. 14
Taheri kemudian menceritakan situasi di Pakistan ketika:
“Kelompok-kelompok Sunni dan Shiah yang bermusuhan mempunyai kebiasaan saling mengirim kepala dari masing-masing aktivis melalui kiriman khusus. Diperkirakan ada lebih dari 400 kepala telah dipenggal dan diposkan sejak 1990”.15
Dan dewasa ini, kita melihat dahsyatnya pemenggalan kepala di pulau Kalimantan, di Indonesia, dimana orang Muslim menggunakan cara ini untuk mengusir mayoritas orang Kristen keluar dari pulau itu. Hampir separuh orang Kristen telah meninggalkan pulau itu.
Dan di balik semua contoh yang mengerikan ini ada juga pemerintah yang memberlakukan pemenggalan kepala setiap minggu yaitu di Arab Saudi. Pemenggalan itu dilakukan setelah sembahyang Jumat tepat di luar mesjid-mesjid:
“Pemerintah Saudi memenggal kepala 52 laki-laki dan 1 wanita tahun lalu atas tuduhan kejahatan seperti pembunuhan, homoseksualitas, perampokan bersenjata dan perdagangan obat terlarang...Si terpidana dibawa ke tempat peradilan dengan tangan terikat, dan dipaksa berlutut di hadapan algojo yang mengayunkan sebilah pedang besar dengan diiringi teriakan massa “Allahu akbar!” yang berarti “Allah Maha Besar!”.16
Allahu akbar juga diteriakkan oleh para pembunuh Nicholas Berg, seorang kontraktor Yahudi-Amerika, dan Kim-Sun-il, seorang penerjemah Korea dan seorang Kristen Injil, yang memimpikan suatu hari akan menjadi seorang misionaris untuk orang Muslim. Impiannya itu terwujud dan berakhir saat itu juga...
Sementara jelaslah sudah apa yang diajarkan oleh sejarah Islam, kita juga perlu memperhatikan apa yang dikatakan oleh para sarjana Islam dan kitab sucinya mengenai hal ini.
NILAI HIDUP SEORANG NON-MUSLIM
Ketika seorang “ekstrimis” Muslim melakukan suatu tindakan yang mengerikan atas nama Islam, kebanyakan orang Muslim yang saya kenal akan segera memberikan pernyataan, “Itu bukan Islam! Islam tidak boleh dihakimi melalui tingkah-laku segelintir orang, namun harus dipelajari agar dapat melihat apa yang sesungguhnya diajarkan Islam”. Itu cukup adil. Maka pertanyaannya adalah: Apakah sesungguhnya yang diajarkan oleh Islam mengenai pembunuhan terhadap orang-orang non-Muslim?
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah bahwa menurut hukum Islam, untuk semua tujuan praktis, orang Muslim diijinkan untuk membunuh non-Muslim. Ini didasarkan atas hukum Qisas. Pada dasarnya Qisas adalah hukum timbal balik. Itu adalah “mata ganti mata” menurut versi Islam. Sebagai contoh, Qisas menyatakan bahwa jika seorang Muslim membunuh sesama Muslim, maka orang Muslim itu harus dieksekusi. Yang mengherankan adalah, hukum ini tidak berlaku pada orang Muslim yang membunuh non-Muslim. Pengajaran ini terdapat dalam sebuah Hadith dari Sahih Bukhari:
“Berkisahlah Ash-Sha’bi: Abu Juhaifa berkata, “Saya bertanya kepada Ali”, Apakah (yang tertulis) pada selembar kertas itu? Ali menjawab, Itu soal Diyya (uang darah sebagai kompensasi yang harus dibayarkan si pembunuh kepada kerabat si korban), tebusan untuk membebaskan tawanan dari tangan para musuhnya, dan hukum yang mengatakan bahwa tidak ada Muslim yang boleh dibunuh dalam Qisas (kesamaan penghukuman) karena membunuh (seorang kafir).17
penekanan oleh penulis
Sudah tentu dalam beberapa kasus, hukuman-hukuman lain seperti pemenjaraan atau denda dapat dikenakan pada si pembunuh. Tapi sedihnya, kenyataan menunjukkan bahwa, dalam kebudayaan yang tidak memandang hidup seorang non-Muslim sama nilainya dengan seorang Muslim, pembunuhan atas non-Muslim seringkali dipandang sebelah mata. Jika anda membuka situs Voice of the Martyrs di www.persecution.org, atau Barnabas Fund di www.barnabasfund.org, anda dapat membaca ratusan kisah yang diperbaharui setiap hari, mengenai orang-orang Kristen yang dizalimi atau bahkan dibunuh tanpa adanya tuntutan hukum terhadap orang-orang Muslim yang melakukan pembunuhan itu. Pernyataan di bawah ini adalah contoh yang sempurna mengenai mentalitas yang sering saya jumpai ketika berbincang dengan banyak orang Muslim dari Timur Tengah. Pernyataan ini dimuat di sebuah kelompok diskusi antar agama di internet. Perhatikanlah sikap yang nampak berkenaan dengan pembunuhan non-Muslim (kafir):
“Orang-orang kafir telah menyerang negara-negara Muslim dan membunuh orang Muslim sejak semula...padahal kami tidak melakukan apa-apa. Contohnya, orang Israel menyerang Muslim dari Palestina karena masalah tanah dan karena mereka membenci orang Arab/Muslim...kami membela mereka bagi Allah. Kami berusaha menyebarkan Islam, satu-satunya perkataan Allah yang benar. Mereka menolaknya, oleh karena itu kami diijinkan untuk membunuh mereka. Tidaklah diharamkan unutk membunuh orang kafir. Sudah tentu kami ingin agar insya Allah (oleh kehendak Allah) hidup damai dengan mereka dan insya Allah mengajarkan pada mereka agama yang indah ini”. 18
Apakah anda melihat mentalitas bengkok yang terekspresi dalam komentar di atas? “Agama yang indah ini” mengijinkan pembunuhan atas orang-orang yang tidak menganutnya???
PANDANGAN QUR’AN MENGENAI PEMBUNUHAN ORANG KAFIR
Ayat-ayat Qur’an yang seringkali dikutip oleh orang-orang Barat untuk menunjukkan sifat bengis agama Islam adalah ayat yang dikenal di dalam dan di luar Islam sebagai “ayat pedang”:
“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyirikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Sura 9:5
Setiap kali ayat ini dikutip, selalu ada Muslim yang menyatakan bahwa ayat ini tidak dapat diterapkan di jaman sekarang. Walau saya akan merasa sangat senang mendengarnya (jika memang demikian), namun pertanyaan yang sebenarnya harus diajukan adalah: Bagaimana para sarjana dan guru-guru Islam menafsirkan ayat ini? Apakah menurut mereka ayat ini masih dapat diaplikasikan pada masa kini? Pada umumya mayoritas sarjana klasik dan modern Muslim akan mengiyakan. Ingatlah bahwa konsep tingkah-laku semua Muslim didikte oleh Qur’an dan Sunnah (perkataan, tindakan dan sikap Muhammad). Dari penjelasan Ibn Kathir, sarjana terkenal abad ke-8, kita dapat mengetahui penafsiran Islam yang sebenarnya mengenai ayat ini. Kathir memulainya dengan memberikan kutipan-kutipan yang dapat mendukung penafsirannya, yang diambil dari beberapa sarjana/narator Muslim Hadith yang mula-mula, seperti: Mujahid, Amr bin Shu’ayb, Muhammad bin Ishaq, As-Suddi dan Abdur-Rahman. Kathir kemudian menjelaskan arti ayat tersebut:
“Ke-4 bulan yang disebut dalam ayat ini adalah 4 bulan masa anugerah yang disebutkan pada ayat sebelumnya: ‘maka berjalanlah kamu di muka bumi selama 4 bulan”. Allah kemudian berkata, ‘apabila sudah habis bulan-bulan itu,’ artinya, pada akhir dari keempat bulan yang dilarang (Allah) bagi kamu untuk memerangi para penyembah berhala, orang-orang Muslim harus, ‘berperang dan membunuh para penyembah berhala dimanapun kamu menemukan mereka’. ‘Dimanapun kamu menemukan mereka’ berarti, di muka bumi secara umum...Allah mengatakan disini, untuk mengeksekusi sebahagian dan sebahagiannya lagi ditawan. ‘Kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian’, artinya, janganlah menunggu sampai kamu menemukan mereka, tetapi cari dan kepunglah mereka di wilayah-wilayah mereka dan benteng-benteng mereka, kumpulkanlah mata-mata terhadap mereka di berbagai jalan dan jalur sehingga apa yang lebar akan terlihat sempit bagi mereka. Dengan demikian, mereka tidak punya pilihan lain, selain mati atau memeluk Islam...Abu Bakr (sahabat dekat dan penerus Muhammad setelah kematian nabi) menggunakan ayat ini dan juga beberapa ayat terhormat lainnya sebagai dasar untuk memerangi mereka yang menolak untuk membayar pajak amal yang diwajibkan. Ayat ini mengijinkan kita untuk memerangi seseorang kecuali, dan hingga mereka memeluk Islam dan menjalankan kewajiban-kewajiban dan peraturan-peraturannya”. 19
Ini sama sekali tidak memberikan ruang untuk berdebat. Ibn Kathir dengan jelas sekali mengemukakannya. Kita lihat bahwa orang-orang Muslim diijinkan bahkan diperintahkan untuk memerangi orang yang tidak beriman (Mushrikun) dan bahkan mencari mereka dimanapun mereka berada untuk memaksa mereka bertobat kepada Islam atau menerima kematian. Sekali lagi harus diperhatikan bahwa Kathir bukanlah seorang Muslim yang “ekstrimis” namun bisa jadi ia adalah salah satu dari sarjana-sarjana Islam yang sangat diakui secara universal.
Ayat lain dalam Qur’an yang juga berkaitan dengan diskusi kita mengenai ayat “pemenggalan” yang keji adalah:
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang tidak beriman (di medan perang) kamu dapat memancung batang leher mereka”. Sura 47:4 (Khalifa)
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir, penggallah kepala mereka”. Sura 47:4 (Rodwell)
Ibn Kathir menjelaskan tujuan dari ayat ini adalah untuk:
“(Menuntun) orang-orang beriman mengenai apa yang harus mereka lakukan dalam peperangan mereka melawan para penyembah berhala. Allah berkata, ‘Maka, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang tidak beriman (dalam peperangan), pancunglah batang leher mereka’, yang berarti, ketika kamu berperang melawan mereka, tebaslah dengan sepenuh hati kepala mereka dengan pedangmu. ‘Sampai kamu sungguh-sungguh telah mangalahkan mereka,’ artinya, kamu telah membunuh dan benar-benar menghancurkan mereka. Ini berkenaan dengan tawanan-tawanan perang yang telah kamu tangkap”. 20
Jadi ketika kita melihat ayat-ayat itu, kita mendapati bahwa orang Muslim diperintahkan untuk memenggal (atau setidaknya “menebas leher”) orang-orang non-Muslim yang mereka perangi. Sheik Omar Bakri Muhammad, hakim pengadilan Syariah (hukum Islam) di Inggris, yang juga adalah Sekjen Liga Dunia Islam dan juru bicara Front Islam Internasional, mempunyai pendapat yang sedikit berbeda:
“Jadi apa keputusannya? Penghukuman terhadap mereka yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan berjuang untuk mebuat kekacauan negeri hanyalah ini, yaitu mereka harus dibunuh atau disalibkan atau tangan dan kaki mereka harus dipenggal pada sisi yang berlawanan atau mereka harus dpenjarakan. Ini akan sangat memalukan mereka di dalam dunia ini, dan di akhirat mereka akan mendapatkan siksaan yang berat”. 21
Setelah meneliti contoh teks-teks islami dan juga pendapat para sarjana, juru bicara dan kaum awam Muslim, kita mendapati bahwa Islam tidak hanya memerintahkan pembunuhan terhadap non-Muslim, namun juga mendukung sebuah kebudayaan dimana membunuh non-Muslim telah menjadi sebuah praktek yang dapat diterima. Namun sebelum kita mengakhiri diskusi ini, ada satu lagi tradisi spesifik yang tentu akan terlaksana jika pribadi Mahdi benar-benar menjadi sebuah kenyataan.
ANCAMAN MATI BAGI MEREKA YANG MENGHINA
OTORITAS KALIFAH
Peran kepemimpinan seorang Kalif di dalam Islam adalah sebuah konsep yang sangat kuat. Seorang Kalifah dipandang baik sebagai penerus/pengganti Muhammad dan juga pemimpin semua orang Muslim. Kalifah terakhir yang diterima oleh Sunni dan Shiah yang dipilih secara sah adalah Ali, sepupu dan menantu Muhammad. Ali wafat pada tahun 661 M. Sejak saat itu, ada banyak Kalifah lainnya yang berkuasa, tetapi tak satupun mempunyai pengaruh yang universal seperti yang dimiliki ke-4 Kalifah pertama. Orang Muslim telah menanti-nantikan pemulihan kekalifahan untuk mengembalikan kesatuan dan kepemimpinan kepada Islam di seluruh dunia. Seperti yang telah kita lihat, Mahdi diharapkan untuk memenuhi peran itu. Dalam sebuah Hadith Sahih Muslim, kita membaca tentang penghukuman bagi mereka yang menolak otoritas Kalifah:
“Barangsiapa ingin dilepaskan dari api neraka dan masuk ke dalam taman firdaus harus mati dalam iman kepada Allah dan Hari Kiamat...Dia yang bersumpah bersekutu dengan Kalif harus memberikan padanya ikrar dari tangannya dan ketulusan hatinya (yaitu tunduk kepadanya secara lahiriah dan batiniah). Ia harus menaatinya dengan segala kesanggupannya. Jika ada orang yang maju, membantah otoritas (Kalif)nya, mereka (orang-orang Muslim) harus memenggal kepalanya”.22
penekanan oleh penulis
Pemerintah Arab Saudi menganut pandangan yang demikian. Dalam situs resmi Departemen Urusan-urusan Islam Arab Saudi (IAD), kita menemukan pernyataan yang sama:
“Nabi yang mulia berkata: ‘Adalah kewajiban seorang Muslim mendengar dan menaati (otoritas Kalifah), baik dia suka atau tidak...Orang yang telah bersumpah untuk bersekutu dengan seorang pemimpin (Imam) dan telah menyerahkan tangan dan hatinya kepadanya, harus menaatinya dengan segenap kemampuannya. Jika ada orang yang menentang dan menyaingi otoritas dari pemimpin (Imam) itu, si penentang itu harus dipenggal”.23
penekanan oleh penulis
Berdasarkan huukum Islam, siapapun yang tidak mengakui otoritas Kalif yang telah ditetapkan, haruslah dipenggal.
KESIMPULAN
Kini marilah kita mengulas beberapa hal yang sudah didiskusikan. Pertama, kita telah melihat bahwa akhir jaman seperti yang digambarkan oleh Alkitab adalah suatu masa dimana orang-orang Kristen akan dianiaya dan dibunuh oleh karena iman mereka. Menurut Alkitab, metode spesifik yang digunakan untuk membunuh orang Kristen adalah pemenggalan, sehingga mereka menjadi martir. Seperti yang telah kami gambarkan dengan jelas, tidak dapat disangkal lagi bahwa pemenggalan adalah tradisi yang berkembang di sepanjang sejarah Islam. Islam sendiri telah mendokumentasikan secara menyeluruh kenyataan bahwa Muhammad dan para penerusnya mempraktekkan pemenggalan kepala sebagai metode spesifik untuk membunuh “musuh-musuh Islam”. Praktek ini terus berlanjut dalam beberapa periode Islam hingga pada hari ini. Qur’an sendiri sesungguhnya menganjurkan pemenggalan, atau setidaknya, “menebas leher” dari “para penyembah berhala” dan siapapun yang menjadi “tawanan perang”. Kami mencatat beberapa contoh pemenggalan terhadap para “tawanan perang” yang baru-baru ini diberitakan di Irak dan di berbagai tempat lainnya. Hukuman mati juga dijatuhkan atas mereka yang tidak mau tunduk atau setuju dengan otoritas Kalifah. Maka sangatlah adil untuk berasumsi bahwa dalam visi Islam mengenai akhir jaman, jika seorang Kalifah, terutama Mahdi muncul dan menerima gagasan bahwa semua orang Kristen, Yahudi, bangsa Israel, dan siapapun yang mendukung mereka dianggap sebagai “musuh-musuh Islam”, maka secara universal adalah sah bahkan diwajibkan bagi semua Muslim untuk “memerangi” dan “menebas leher” semua orang Kristen, Yahudi, atau orang Barat, dan sebagainya; dan juga siapapun yang menentang otoritas Kalifah.
Maka sekali lagi, praktek dan pengajaran Islam sepenuhnya menggenapi gambaran kekuatan yang akan berkuasa dan mendominasi dunia menurut skenario Alkitab tentang akhir jaman. Setelah melihat teks-teks Islam yang mempunyai natur membunuh, dan juga penafsiran Islam terhadap teks-teks itu, penting bagi kita untuk melihat realita bagaimana mentalitas seperti itu diwujudkan dalam pikiran seorang Muslim awam dari Timur Tengah. Berikut ini adalah sebuah posting dari dewan pesan internet islami/antar agama. Ini adalah jenis posting yang terlalu umum untuk forum-forum semacam itu. Kita mengakhiri pasal ini dengan pemikiran-pemikiran seorang Muslim berkenaan dengan pembunuhan Daniel Pearl, seorang jurnalis Amerika yang telah dibantai:
“Pertama-tama, Pearl adalah seorang Yahudi, seorang Munafik, seorang mata-mata, dan seorang kafir. Janganlah tertipu oleh orang-orang seperti itu. Kebencian mereka terhadap Islam dapat terlihat dari mulut mereka, dan apa yang ada dalam hati mereka lebih buruk lagi. Saya tidak dapat melihat pembantaian sebagai hal yang keji...Dalam Islam, kami...bahkan tidak diperbolehkan menyiksa orang kafir – kami hanya menggorok lehernya, dan sudah dibuktikan bahwa jika anda telah memotong titik tertentu di leher, maka mereka tidak akan merasa sakit...dan ingatlah ketika kami orang-orang Muslim menangkap seorang Muslim yang munafik, kami akan melakukan hal yang sama padanya, kami membantainya. Apa yang anda pikirkan mengenai seorang Yahudi yang kotor, seorang munafik yang bodoh, seorang agen ganda, dan seorang kafir? Kami melakukan hal yang sama padanya. Walhamdulilah (Syukur kepada Allah). Dan ingatlah Rasul (Muhammad) membantai sejumlah besar orang Yahudi dalam sebuah peperangan; ciptaan yang terbaik melakukan hal ini, karena orang-orang Yahudi menikam nabi Muhammad dari belakang. Dan jika menurut anda ini adalah perbuatan yang keji, Insyaallah (saya berharap dengan kehendak Allah), anda masih bisa tetap hidup ketika Mahdi datang karena anda akan melihat banyak kepala orang Yahudi/munafiqqin (munafik) berserakan di lantai”.
Pasal 15 - Jihad dan Tujuan Islam Untuk Mendominasi Dunia
TUJUAN SETAN UNTUK MENDOMINASI DUNIA
Setan selalu bertujuan agar semua penduduk dunia menyembahnya dan bukannya menyembah Tuhan. Maka Setan mempunyai rencana jangka panjang yang sangat spesifik untuk membangkitkan sebuah gerakan penyembahan kepadanya, yang secara literal akan meliputi seluruh muka bumi. Orang-orang yang percaya kepada Alkitab mengetahui bahwa hal ini benar adanya. Melalui Antikristus dan nabi Palsunya, Alkitab berkata bahwa Setan sedikit lagi akan mencapai tujuannya sebelum kedatangan Yesus yang kedua kali.
Binatang yang kulihat itu serupa dengan macan tutul, dan kakinya seperti kaki beruang dan mulutnya seperti mulut singa. Dan naga Setan itu memberikan kepadanya kekuatannya, dan takhtanya dan kekuasaannya yang besar. Dan mereka menyembah naga (Setan) itu, karena ia memberikan kekuasaan kepada binatang (Antikristus) itu. Dan mereka menyembah binatang itu, sambil berkata: "Siapakah yang sama seperti binatang ini? Dan siapakah yang dapat berperang melawan dia?" Dan kepada binatang itu diberikan mulut, yang penuh kesombongan dan hujat; kepadanya diberikan juga kuasa untuk melakukannya empat puluh dua bulan lamanya. Lalu ia membuka mulutnya untuk menghujat Tuhan, menghujat nama-Nya dan kemah kediaman-Nya dan semua mereka yang diam di sorga. Dan ia diperkenankan untuk berperang melawan orang-orang kudus dan untuk mengalahkan mereka; dan kepadanya diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa. Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih. (Wahyu 13:2, 4-8)
penekanan dalam kurung oleh Penulis
Deskripsi gerakan penyembahan di masa yang akan datang ini, secara literal akan menyentuh “semua suku, bangsa, bahasa dan bangsa”. Alkitab mengajarkan bahwa di jaman ini, barangsiapa yang tidak menyembah satu-satunya Tuhan Yang Benar dan Putra-Nya Yesus Kristus, pada akhirnya akan ditipu sehingga menyembah Setan, roh yang tidak kelihatan dibalik tipuan gerakan penyembahan pada akhir jaman. Seperti yang telah kita lihat, kendaraan yang digunakan Setan untuk meluncurkan gerakan penyembahan terhadap dirinya adalah Antikristus dan “kerajaan Binatang”-nya, yang akan merupakan sebuah kekaisaran yang sangat berkuasa dengan mesin-mesin militer yang juga sama kuatnya. Nabi Daniel menggambarkan kekaisaran dan kekuatan militer ini sebagai “kekuatan yang sangat menakutkan dan mengerikan” yang “akan memangsa seluruh bumi”.
Kemudian aku melihat dalam penglihatan malam itu, tampak seekor binatang yang keempat, yang menakutkan dan mendahsyatkan, dan ia sangat kuat. Ia bergigi besar dari besi; ia melahap dan meremukkan, dan sisanya diinjak-injaknya dengan kakinya; ia berbeda dengan segala binatang yang terdahulu; lagipula ia bertanduk sepuluh. Maka demikianlah katanya: Binatang yang keempat itu ialah kerajaan yang keempat yang akan ada di bumi, yang akan berbeda dengan segala kerajaan dan akan menelan seluruh bumi, menginjak-injaknya dan meremukkannya.
Daniel 7:7,23
Maka, Alkitab memberikan pada kita sebuah gambaran yang jelas mengenai natur dari nyanyian akhir Setan sebelum Yesus membuangnya ke dalam lautan api untuk selamanya. Alkitab dengan jelas memperingatkan kita akan kedatangan kekaisaran Setan yang tujuannya tidak lain daripada mendominasi dunia secara total. Tuntutan dari kekaisaran ini akan lebih dari sekedar persekutuan dengan pemerintahannya, tetapi juga tunduk secara total dan menyembah pemimpinnya, sang Anti Kristus dan tentu saja si Jahat. Sekali lagi, barangsiapa tidak tunduk kepada sistem keagamaan yang brutal ini akan menjadi targetnya.
ISLAM DAN TUJUANNYA UNTUK MENDOMINASI DUNIA
Agar dapat memahami Islam secara tepat, kita harus mengerti bagaimana Islam memahami dirinya sendiri. Islam memandang dirinya sebagai satu-satunya agama yang benar – dan sesungguhnya merupakan satu-satunya agama yang pantas untuk dipraktekkan. Maka salah satu tujuan Islam adalah mendominasi dunia secara total. Tujuan besar Islam adalah menghapus apa saja yang dipandangnya sebagai sesat dan menggantikan penyembahan dari semua agama lain. Hingga tiba harinya dimana semua orang akan berkata, “tidak ada yang lain yang boleh disembah selain Allah”, maka Islam akan terus memerangi orang-orang dan bangsa-bangsa yang tidak beriman. Kita telah menguji secara menyeluruh visi Islam mengenai dominasi global melalui eskatologinya, tetapi konsep itu tidak hanya sekedar sebuah gagasan futuristik bahwa orang Muslim bermimpi indah menantikan Mahdi dan bahwa Yesus yang islami akan menggenapkannya bagi mereka. Teks-teks dan para sarjana Islam mengajarkan bahwa dominasi global harus diperjuangkan oleh semua Muslim setiap waktu. Perjuangan akan keberlangsungan Islam dan pada akhirnya dominasi dunia secara global disebut jihad. Sesungguhnya jihad (perjuangan) adalah persyaratan dasar bagi semua Muslim dimanapun. Jihad adalah sebuah komponen dalam Islam yang merupakan kewajiban absolut.
Nah, para apologis dan propagandis pasti akan segera berargumentasi bahwa jihad bukanlah soal perjuangan untuk mendominasi dunia. Beberapa dari mereka akan membuat pernyataan yang menyesatkan seperti “jihad hanyalah soal mengatasi kesengsaraan”. Atau mereka akan mengemukakan bahwa “jihad yang terbesar” adalah perjuangan melawan diri sendiri. Walaupun perjuangan batin ini juga merupakan sebuah aspek yang sah dalam jihad, janganlah anda tertipu. Jihad yang wajib diperjuangkan bagi semua Muslim terhadap kelemahan batin seseorang tidaklah memperkecil sentralitas tuntutan Islam terhadap semua Muslim untuk mengobarkan jihad terhadap dunia kafir hingga Islam menjadi penguasa. Ini juga meliputi bentuk-bentuk peperangan lainnya seperti dalam bidang-bidang intelektual maupun politik. Namun dalam bidang apapun seorang Muslim terlibat, ia tetap akan mempunyai pandangan yang sama, yaitu berjuang hingga akhirnya tercapailah dominasi global dan supremasi Islam secara universal.
JIHAD
Kata “Jihad” berasal dari akar kata dalam bahasa Arab J-H-D, yang berarti “perjuangan”. Ada 5 jenis jihad:
a.Jihad al-nafs (perjuangan melawan hawa nafsu dalam diri sendiri)
b.Jihad al-Shaitan (perjuangan melawan Setan)
c.Jihad al-kuffaar (perjuangan melawan orang-orang kafir)
d.Jihad al-munafiqeen (perjuangan melawan orang-orang munafik)
e.Jihad al-faasiqeen (perjuangan melawan orang-orang Muslim yang bertabiat tidak baik)
Seperti yang telah dikemukakan, seluruh bentuk jihad di atas wajib dilaksanakan oleh semua Muslim. Jika anda memperhatikan diskusi mengenai jihad di media, anda akan menemukan banyak artikel dan klaim dari orang-orang Muslim yang salah menafsirkan jihad sebagai sesuatu yang lain dari apa yang sebenarnya. Namun juga telah dikemukakan bahwa mereka yang menyangkali aspek sentral dari penampakan luar jihad dalam Islam, mereka bersikap tidak peduli dan juga sebenarnya berdusta. Pada kenyataannya, berdusta atau menyembunyikan atau salah menafsirkan natur Islam yang sebenarnya terhadap dunia yang tidak beriman (kepada Islam) sesungguhnya adalah bagian atau merupakan parsel dari metode Islam untuk melaksanakan jihad terhadap non-Muslim. Selanjutnya kita akan memperhatikan doktrin Islam mengenai berdusta di pasal yang berikutnya.
Dibalik semua iklan yang ramah, perkataan Islam yang penuh damai itu, Muhammad dengan jelas mengklaim bahwa tugasnya adalah untuk memerangi orang-orang kafir hingga mereka tunduk kepada Islam dan menjadi penyembah-penyembah Allah. Sejak jaman Muhammad, dominasi global telah menjadi tujuan Islam.
“Rasul Allah (Muhammad) berkata, ‘Saya telah diperintahkan untuk memerangi orang sampai mereka berkata: ‘Tiada yang lain yang harus disembah selain Allah”.1
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”. Sura 9:29
“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. Sura 9:123
Tidak usah dipertanyakan lagi, kita telah melihat bagaimana Muhammad menganjurkan penyebaran agamanya dengan cara kekerasan. Mungkin ada orang yang berargumen bahwa kekristenan juga bertujuan menyebarkan ajarannya di seluruh muka bumi. Walau hal itu memang benar adanya, kekristenan tidak bertujuan untuk memerangi mereka yang bukan Kristen, namun lebih menghadirkan berita Injil, atau “kabar baik” kepada semua orang. Kekristenan menghargai pilihan bebas dalam diri manusia, baik menerima atau menolak tawaran pengampunan dan penerimaan Tuhan atas hidup mereka. Seperti yang pernah dikatakan oleh seseorang, “penginjilan” (mengkotbahkan ajaran Kristen kepada orang-orang non-Kristen) hanyalah semata-mata seperti seorang pengemis yang mengatakan kepada pengemis-pengemis lainnya dimana makanan itu ada.
Sedangkan Yesus, dalam memanggil orang-orang percaya baru untuk mengikuti-Nya dan melayani Tuhan, membuat sebuah pernyataan yang indah:
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan."
Matius11:28-30
Muhammad memanggil para pengikutnya kepada sesuatu yang terus terang teramat sangat membebani. Dengan sebuah bujukan yang berlebihan, ia berkata:
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesutu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Sura 2:216
Sangatlah mudah untuk mendaftarkan beberapa halaman ayat-ayat dari Qur’an dan Hadith yang merefleksikan pola pikir jihad dan memerangi orang-orang kafir agar segera tercapai keberlanjutan Islam. Sangatlah sulit untuk mengeluarkan ayat-ayat ini dari konteksnya. Namun demikian, seperti yang telah saya katakan, banyak orang Muslim Barat yang akan terus mengklaim bahwa ayat-ayat Qur’an yang mengatakan bahwa jihad hanyalah soal mengatasi kelemahan atau merupakan perang untuk mempertahankan diri, dan sebagainya. Namun, seperti yang dikatakan oleh seorang komentator Muslim:
“Janganlah percaya kepada orang-orang Muslim moderat di media Barat yang mengatakan pada anda bahwa jihad berarti ‘mengatasi kelemahan.” 2
Atau seperti yang dikatakan oleh seorang pengarang dan pengajar Muslim yang terkenal, Muhammad Saeed al-Qahtani:
“Jihad adalah sebuah tindakan ibadah, salah satu bentuk ibadah yang tertinggi kepada Allah...Mereka berkata bahwa jihad hanyalah untuk membela diri. Kebohongan ini harus disingkapkan...” 3
Alih-alih terperangkap dalam sebuah debat kusir mengenai Islam, kita akan menguji pendapat-pendapat dari beberapa sarjana Muslim terkemuka di sepanjang sejarah Islam, juga para pemimpin dan perwakilan-perwakilan Islam di negara-negara Barat dewasa ini untuk melihat apa yang sesungguhnya diajarkan Islam.
PENDAPAT PARA SARJANA MENGENAI JIHAD
Ibn Kathir mengemukakan peran penting jihad ofensif dalam masa-masa awal Islam ketika ia mengomentari Sura 9:123 tersebut diatas:
“Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk memerangi orang-orang kafir, dalam wilayah terdekat dengan negara Islam, kemudian hingga wilayah-wilayah terjauh. Inilah sebabnya mengapa Utusan Allah mulai memerangi para penyembah berhala di jazirah Arab. Ketika ia selesai dengan mereka...Kemudian ia mulai memerangi para ahli Kitab (orang Yahudi dan Kristen). Setelah kematian Muhammad, penerusnya, sahabat, dan Kalifah, Abu Bakr, menjadi pemimpin...atas nama Nabi, Abu Bakr...mulai menyiapkan tentara-tentara Islam untuk memerangi orang-orang Roma yang menyembah salib, dan orang-orang Persia yang menyembah api. Melalui berkat dari misinya, Allah membuka daerah-daerah baginya dan menjatuhkan Kaisar dan Kisra dan orang-orang yang menaati mereka diantara hamba-hamba. Abu Bakr menghabiskan harta mereka demi Allah, seperti yang telah dinubuatkan oleh utusan Allah. Misi ini (dominasi dunia) berlanjut setelah Abu Bakr di tangan orang yang ditunjuk Abu Bakr untuk menjadi penggantinya...Umar bin al-Khattab. Melalu Umar, Allah menghina orang-orang kafir, menindas tiran dan orang-orang munafik, dan membuka bagian-bagian Timur dan Barat dunia. Harta benda dari berbagai negeri dibawa kepada Umar dari propinsi-propinsi yang dekat dan jauh, dan ia membaginya berdasarkan metode yang sah dan dapat diterima. Kemudian Umar wafat...kemudian, para Sahabat diantara orang Muslim ...bersepakat untuk memilih Uthman bin Affan...menggantikan Umar. Selama pemerintahan Uthman, Islam mengalami kejayaan dalam penyebarannya dan bukti Allah yang tidak terbantahkan didirikan di berbagai belahan dunia diatas leher para hamba. Islam muncul di belahan timur dan barat dunia dan firman Allah ditinggikan dan agama-Nya jelas kelihatan. Agama yang murni ini mencapai cita-citanya yang terdalam terhadap musuh-musuh Allah, dan apabila kaum Muslim telah menaklukkan sebuah komunitas, mereka kemudian akan berpindah ke komunitas berikutnya, dan berikutnya lagi, menghancurkan pelaku-pelaku tiran yang jahat. Mereka melakukan hal ini sebagai ketaatan terhadap perkataan Allah, ‘wahai kamu orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang ada di dekatmu”. 4
Jelaslah bahwa Muhammad, dan juga para penerusnya, Kalifah Abu Bakar, Kalifah Umar, dan Kalifah Uthman, mereka semua menyerang bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya secara ofensif dalam rangka menyebarkan Islam. Ini bukanlah seperti yang diklaim oleh para sejarahwan revisionis sebagai perang defensif. Ini adalah perang-perang ofensif yang bertujuan untuk memaksa korban-korbannya untuk tunduk kepada Islam atau “dihancurkan”.
Ibn Khaldun, seorang sejarahwan Islam yang terkenal pada abad ke-14 dan filsuf dalam karya kalsik ternama, the Muqaddimah memberikan pandangannya mengenai jihad:
“Dalam komunitas Islam, perang suci adalah kewajiban agama, karena universalitas dari misi (Muslim) dan (kewajiban untuk) mentobatkan semua orang kepada Islam baik dengan bujukan maupun dengan paksaan. Oleh karena itu, otoritas Kalifah (spiritual), bangsawan (pemerintah dan militer) disatukan dalam Islam, sehingga orang yang berwenang dapat mengabdikan kekuatan sepenuhnya dari kedua belah pihak pada saat yang sama”. 5
Dalam bukunya, “Yurisprudensi dalam Biografi Muhammad”, Dr. Muhammad Sa’id Ramadan al-Buti, seorang sarjana Mesir kenamaan dari Universitas Al-Azhar, menuliskan bahwa perang ofensiflah yang merupakan “perang suci termulia” di dalam Islam, dan bukan perang defensif:
“Perang suci (jihad Islam), seperti yang dikenal dalam yurisprudensi Islam, pada dasarnya adalah perang ofensif. Inilah tugas Muslim di segala usia ketika kekuatan militer yang dibutuhkan tersedia bagi mereka. Inilah fase dimana makna dari perang suci telah mencapai bentuk finalnya. Maka rasul Allah berkata: ‘Saya diperintahkan untuk memerangi orang sampai mereka percaya kepada Allah dan pesan-pesan-Nya...Konsep Perang Suci (jihad) dalam Islam tidak mempertimbangkan apakah itu merupakan perang defensif ataukah perang ofensif. Tujuannya adalah peninggian Perkataan Allah dan konstruksi masyarakat islami dan pendirian Kerajaan Allah di bumi dengan cara apapun. Cara yang digunakan adalah peperangan ofensif. Inilah puncaknya, Perang suci yang termulia”. 6
Berdasarkan ensiklopedia Islam, “perjuangan itu diwajibkan bahkan sekalipun orang-orang kafir tidak memulai peperangan”.7 Konsep jihad, di dalam Islam secara literal artinya menyerang orang-orang kafir dengan tujuan untuk mentobatkan mereka kepada Islam “dengan bujukan maupun dengan paksaan”, ”sekalipun mereka tidak memulai peperangan itu”.
DOMINASI GLOBAL
Dilahirkan pada tahun 1905, Mawlana Sayid Abul Ala Mawdudi, adalah seorang sarjana Islam dari India. Ceramah-ceramahnya (khutbah) dan tulisan-tulisannya diakui oleh dunia. Di dalam dunia Islam ia dipandang sebagai salah satu sarjana Islam yang terbesar. Inilah pendapatnya mengenai Islam dan dominasi global:
“Islam bukanlah agama yang normal seperti agama-agama lainnya di dunia, dan bangsa-bangsa Muslim tidaklah sperti bangsa-bangsa normal lainnya. Bangsa-bangsa Muslim sangat istimewa karena mereka mempunyai perintah dari Allah untuk memerintah seluruh bumi dan mengatasi semua bangsa di dunia”. 8
Mawdudi menjelaskan tujuan-tujuan dan sasaran Islam sebagai berikut:
“Islam adalah sebuah iman yang revolusioner yang datang untuk menghancurkan pemerintahan apapun yang didirikan oleh manusia. Islam berusaha untuk menjadikan kondisi sebuah bangsa lebih baik daripada bangsa yang lain. Islam tidak peduli soal tanah atau siapa yang memiliki tanah itu. Tujuan Islam adalah untuk memerintah seluruh dunia dan menundukkan semua umat manusia kepada iman di dalam Islam. Bangsa atau kuasa apapun yang menghalangi tercapainya tujuan itu, akan diperangi dan dihancurkan oleh Islam. Untuk mencapai tujuan itu, Islam dapat menggunakan semua kekuatan yang ada dan cara apapun yang dapat digunakan untuk melakukan revolusi di seluruh dunia. Inilah jihad”. 9
Kita telah melihat apa yang dikemukakan oleh beberapa sarjana terkemuka mengenai jihad dan tujuan Islam untuk dominasi global. Sudut pandang mereka sangatlah jalas. Namun apakah pendapat dari para pemimpin Muslim Barat yang lebih modern mengenai hal ini?
PENDAPAT KAUM MUSLIM MODERN BARAT MENGENAI
TUJUAN ISLAM UNTUK MENDOMINASI DUNIA
Aduallah al-Araby dalam bukunya The Islamization of America mengutip sebuah surat yang menakutkan dari seorang Uskup Agung Katolik kepada Paus. Dalam surat terbukanya kepada Paus, Uskup Agung Izmir (Smyrna), Turki, Pendeta Guiseppe Germano Barnardini, menceritakan sebuah pertemuan orang Kristen dan Muslim baru-baru ini yang bertujuan untuk mengadakan dialog antar agama. Sebuah kutipan dari suratnya menceritakan bahwa selama pertemuan itu, seorang otoritas Muslim berdiri dan berbicara dengan tenang dan meyakinkan:
“Terimakasih untuk hukum-hukum anda yang demokratis, kami akan menginvasi anda. Terimakasih untuk hukum-hukum agama kami, kami akan mendominasi anda”.10
Jika anda mengunjungi situs hampir semua mesjid di Amerika, secara beragam anda akan melihat sebuah hubungan dengan Dewan Hubungan-hubungan Amerika-Islam (CAIR). CAIR, adalah sebuah kelompok islami di Washington yang suka menampilkan dirinya sebagai sebuah kelompok hak-hak sipil Islam moderat. “Kami sama dengan orang Muslim NAACP”, kata jurubicara Ibrahim Hooper. “Sejak berdirinya pada tahun 1994, CAIR telah mengumpulkan banyak sumbangan, mengirim undangan ke Gedung Putih, dan dengar pendapat yang serius dengan pihak pemerintah”.11
Namun, menurut Omar Ahmed, Ketua dewan CAIR:
“Islam di Amerika tidak boleh disamakan dengan agama-agama lain, tapi harus menjadi dominan. Quran harus menjadi otoritas yang tertinggi di Amerika, dan Islam harus menjadi satu-satunya agama yang diterima di bumi”. 12
Ini adalah Omar Ahmed yang sama yang menyerang Pendeta Franklin Graham karena menyebut Islam “sebuah agama yang jahat”. Ahmed menanggapi Graham dengan sebuah pernyataan terbuka:
“Pelajarilah Islam dan Muslim lebih dalam lagi sebelum anda mengulangi pernyataan-pernyataan anda yang penuh kesalahan dan memecah-belah tentang salah satu dari tiga agama Abrahamis yang besar yaitu Yudaisme, Kekristenan dan Islam. Pernyataan-pernyataan semacam itu hanya menaburkan kecurigaan dan permusuhan diantara orang-orang Amerika. Sebagai seorang pemimpin agama semestinya anda berupaya membangun kembali dasar nasional kita daripada berusaha merobohkannya”.13
Boleh jadi Pendeta Graham lebih memahami doktrin totalitarian yang sebenarnya dalam Islam daripada Ahmed. Boleh jadi Pendeta Graham telah membaca pernyataan Ahmed mengenai tujuan Islam untuk mendominasi Amerika dan dunia luar ketika Ahmed mengeluarkan pernyataannya. Bagaimanapun, melalui kedua pernyataan ini, mudah sekali kita melihat lidah Ahmed yang bercabang, dan juga ada banyak Muslim yang seperti beliau. Ketika berbicara secara tertutup kepada orang Muslim, Ahmed mengatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang sah, yang bertujuan menaklukkan Amerika. Tetapi ketika berbicara kepada Media, ia berbicara soal “tiga agama besar Abrahamis”, dan kemudian ia menuduh Graham sebagai “pemecah-belah”.
Daniel Pipes, seorang sarjana militan Islam dan direktur Forum Timur Tengah, mengemukakan perihal aspirasi terbuka dari seorang Muslim Amerika ternama, untuk mengambil alih Amerika. Pipes memperkenalkan Ismail Al-Faruqi:
“Ismail Al-Faruqi adalah seorang imigran Palestina yang mendirikan Institut Internasional Pemikiran Islam dan selama bertahun-tahun mengajar di Univesitas Temple di Philadelphia. “Tidak ada yang lebih besar”, tulis Al-Faruqi pada awal 1980-an, “daripada benua (Amerika Utara) yang kaya, awet muda dan penuh semangat ini saat ia berpaling dari kehidupan lamanya yang jahat dan melangkah maju di bawah panji-panji Allahu Akbar (Allah Maha Besar)”. 14
Di Inggris dan di seluruh Eropa, kekuatan Islam telah jauh lebih maju daripada di Amerika. Oleh karena itu, dalam konteks seperti ini, kita melihat bagaimana pernyataan-pernyataan agresif semakin dikemukakan secara terbuka. Sejak awal 1989, orang-orang Eropa dikejutkan ketika melihat ribuan orang Muslim melakukan protes secara terbuka di jalan-jalan di Inggris, Perancis, Jerman, Belgia, dan Belanda sambil membawa poster-poster dengan slogan yang provokatif, “Islam-agama kami hari ini, agama kalian esok hari”.15
Tertanggal 15 Juni 1990, The Muslim Manifesto, yang diterbitkan oleh almarhum Dr.Kalim Siddiqui, yang waktu itu adalah ketua dari Institut Muslim, (sekarang Parlemen Muslim di Inggris Raya) pada halaman 16 paragraf 7 menyatakan:
“Jihad adalah persyaratan dasar dalam Islam. Hidup di Inggris atau memiliki kewarganegaraan Inggris melalui kelahiran atau naturalisasi tidak membebaskan orang Muslim dari kewajibannya (baik laki-laki maupun perempuan) untuk berpartisipasi dalam Jihad”.16
Dr. Siddiqui tidak mengecualikan Inggris dari tempat-tempat yang harus “diperangi dengan senjata”. Jihad wajib dilaksanakan dimana pun. Dan dengan berlalunya waktu, panggilan untuk berjihad di Eropa telah mengalami kemajuan hingga pada titik diproklamirkan secara terbuka di jalan-jalan oleh para pemimpin Muslim radikal. Dalam New York Times tanggal 26 April 2004 kita membaca:
“Panggilan berjihad muncul di jalanan di Eropa... Di sebuah kota di utara London, yang dulunya adalah kota industri, sekelompok kecil orang-orang muda Inggris...mengatakan bahwa mereka ingin melihat Perdana Menteri Tony Blair mati atau bersumpah dan bendera Islam dikibarkan di Downing Street No.10. Mereka menyatakan persekutuan dengan Osama bin Laden dan bertujuan untuk merobohkan demokrasi Barat untuk mendirikan sebuah negara Islam super di bawah hukum Syariah, seperti Afghanistan di bawah pemerintahan Taliban. Mereka menyebut para pembajak dalam peristiwa 11 September sebagai “Magnificent 19” dan mengganggap pemboman kereta di Madrid sebagai sebuah cara yang cerdik untuk menyerang Eropa. Pemimpin mereka, Sheik Omar Bakri Mohammad, mengemukakan kesetiaannya kepada Osama bin Laden. Jika Eropa tidak mengindahkan tawaran gencatan senjata Laden – memutuskan semua pasukan asing ditarik dari Irak dalam waktu tiga bulan – orang Muslim tidak akan dihalangi dari menyerang negara-negara Barat yang mereka diami, ujar Sheik. ”Semua Muslim di Barat diwajibkan,” katanya, untuk ‘menjadi pedangnya’ dalam sebuah perang yang baru. Orang Eropa perhatikanlah, ditambahkan Sheik, ‘Adalah bodoh memerangi orang yang menginginkan kematian – itulah yang mereka cari’...dan ia memperingatkan para pemimpin Barat, ‘Kalian dapat membunuh bin Laden, tapi tidak fenomenanya – kalian tidak dapat menghancurkannya. Saudara-saudara Muslim kami dari luar negeri suatu hari akan datang dan menaklukkan tempat ini dan kemudian kami akan hidup di bawah Islam dalam kewibawaan,’ katanya”.17
Dr. Siddiqui dan Sheik Omar Bakri Mohammad tidaklah sendirian dalam menyerukan jihad Islam radikal terhadap kampung halaman mereka sendiri di Eropa:
“Abu Hamza, ulama yang dituduh mengajari Richard Reid sebelum ia mencoba meledakkan sebuah pesawat jet yang terbang dari Paris ke Miami dengan bahan peledak yang disembunyikan dalam sepatunya, mendesak sekitar 200 orang di luar mesjidnya di Finsbury Park untuk menerima kematian dan “budaya martir”.18
Maka tidaklah mengejutkan, ketika dalam perang dengan Afghanistan, diantara orang-orang yang ditawan oleh pasukan Amerika, setidaknya ada tiga orang berkewarganegaraan Inggris. Atau pada April 2003, ada dua warga negara Inggris yang bertanggung-jawab atas bom bunuh diri yang menewaskan tiga orang Inggris lainnya di sebuah kafe di Tel Aviv. Dan ketika reporter Wall Street Journal Daniel Pearl dipenggal di Pakistan, Omar Sheik Saeed yang adalah seorang yang telah mengenyam pendidikan yang baik di Inggris, dan pernah digambarkan sebagai “seorang Inggris yang sempurna”, karena telah menjadi seorang Muslim radikal, pada akhirnya ia adalah aktor intelektual dari penculikan dan merekam pemenggalan Pearl di video. Mestikah kita terkejut? Haruskah kita terkejut melihat dampak Islam yang seperti ini terhadap seseorang? Jika para pemimpin Muslim terkemuka di Eropa memuji Osama bin Laden secara terbuka, dan menyerukan jihad dan kemartiran, lalu mengapa kita terkejut ketika orang-orang muda Muslim yang mudah dipengaruhi, menjawab panggilan ini di seluruh dunia. Sementara 15 dari 19 orang pembajak yang melakukan serangan besar adalah orang Arab Saudi, akankah dunia terkejut ketika tindakan seperti itu dilakukan oleh orang-orang Muslim Inggris? Bagaimanakah dunia Barat akan bereaksi jika “kotak-kotak hitam” yang selamat dari puing-puing World Trade Center berisikan rekaman suara orang-orang muda yang meneriakkan “Allahu Akbar!” dengan aksen Inggris atau Amerika yang sangat jelas?
KESIMPULAN
Orang-orang Muslim di Barat secara reguler menyebut Islam sebagai “agama damai”, namun agama damai ini bertanggung-jawab atas lebih dari 90% peperangan yang ada di dunia saat ini. Pikirkanlah kenyataan ini. Mayoritas terorisme dunia, kekerasan dan perang secara religius dimotivasi oleh Islam.
“Ada sekitar 400 kelompok teroris di dunia yang telah diketahui. Lebih dari 90% dari kelompok-kelompok ini adalah kelompok-kelompok Islam (kelompok teroris Islam radikal). Lebih dari 90% peperangan dunia yang terjadi sekarang melibatkan gerakan-gerakan teror Islam”.19
Tujuan tak berkesudahan dari para apologis Muslim moderat adalah mengklaim bahwa kelompok-kelompok teroris radikal tidak bersikap sesuai dengan Islam. Sementara saya tidak meragukan bahwa banyak kaum Muslim moderat yang sangat jijik terhadap pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh banyak kelompok garis keras, para teroris sesungguhnya sedang melaksanakan sebuah aspek yang sangat sah dalam Islam seperti yang dikemukakan oleh teks-teks Islam, para sarjana dan representasi Islam. Sesungguhnya mereka sedang bersikap sesuai dengan jalan Islam. Mereka bersikap seperti Muhammad dan para penerusnya. Walau seringkali dikatakan bahwa para teroris telah “membajak” Islam, jika dinilai dari apa yang sesungguhnya diajarkan Islam, pada kenyataannya orang-orang yang disebut sebagai Muslim Moderat sebenarnya adalah orang-orang yang sedang berusaha untuk mengubah ajaran-ajaran Islam yang sejati.
Ketika kita memperhatikan rata-rata pertumbuhan Islam, dikombinasikan dengan konsep jihad dalam Islam, dan semakin populernya penfasiran radikal (terhadap teks-teks Islam-Red), bahkan di Barat, konsep dunia masa depan yang berada di bawah kediktatoran fasis Islam sangat mungkin terjadi. Hanya berdasarkan tren dan statistik saja tidaklah sulit melihat kemungkinan terwujudnya kenyataan itu dalam abad ini. Alkitab mengajarkan bahwa di masa yang akan datang, seseorang akan tampil, yang tujuan utamanya adalah untuk mencapai dominasi dunia secara komplet melalui kekaisaran politis-militer-religiusnya. Islam mempunyai tujuan yang sama persis dengan itu dan inheren sampai ke doktrin-doktrin mendasarnya. Dan hari ini, saat kita melihat panggilan jihad diserukan semakin keras lagi oleh para pemimpin Muslim radikal di seluruh dunia, Islam perlahan-lahan bergerak semakin dekat kepada tercapainya tujuannya yang tertinggi.
Setan selalu bertujuan agar semua penduduk dunia menyembahnya dan bukannya menyembah Tuhan. Maka Setan mempunyai rencana jangka panjang yang sangat spesifik untuk membangkitkan sebuah gerakan penyembahan kepadanya, yang secara literal akan meliputi seluruh muka bumi. Orang-orang yang percaya kepada Alkitab mengetahui bahwa hal ini benar adanya. Melalui Antikristus dan nabi Palsunya, Alkitab berkata bahwa Setan sedikit lagi akan mencapai tujuannya sebelum kedatangan Yesus yang kedua kali.
Binatang yang kulihat itu serupa dengan macan tutul, dan kakinya seperti kaki beruang dan mulutnya seperti mulut singa. Dan naga Setan itu memberikan kepadanya kekuatannya, dan takhtanya dan kekuasaannya yang besar. Dan mereka menyembah naga (Setan) itu, karena ia memberikan kekuasaan kepada binatang (Antikristus) itu. Dan mereka menyembah binatang itu, sambil berkata: "Siapakah yang sama seperti binatang ini? Dan siapakah yang dapat berperang melawan dia?" Dan kepada binatang itu diberikan mulut, yang penuh kesombongan dan hujat; kepadanya diberikan juga kuasa untuk melakukannya empat puluh dua bulan lamanya. Lalu ia membuka mulutnya untuk menghujat Tuhan, menghujat nama-Nya dan kemah kediaman-Nya dan semua mereka yang diam di sorga. Dan ia diperkenankan untuk berperang melawan orang-orang kudus dan untuk mengalahkan mereka; dan kepadanya diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa. Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih. (Wahyu 13:2, 4-8)
penekanan dalam kurung oleh Penulis
Deskripsi gerakan penyembahan di masa yang akan datang ini, secara literal akan menyentuh “semua suku, bangsa, bahasa dan bangsa”. Alkitab mengajarkan bahwa di jaman ini, barangsiapa yang tidak menyembah satu-satunya Tuhan Yang Benar dan Putra-Nya Yesus Kristus, pada akhirnya akan ditipu sehingga menyembah Setan, roh yang tidak kelihatan dibalik tipuan gerakan penyembahan pada akhir jaman. Seperti yang telah kita lihat, kendaraan yang digunakan Setan untuk meluncurkan gerakan penyembahan terhadap dirinya adalah Antikristus dan “kerajaan Binatang”-nya, yang akan merupakan sebuah kekaisaran yang sangat berkuasa dengan mesin-mesin militer yang juga sama kuatnya. Nabi Daniel menggambarkan kekaisaran dan kekuatan militer ini sebagai “kekuatan yang sangat menakutkan dan mengerikan” yang “akan memangsa seluruh bumi”.
Kemudian aku melihat dalam penglihatan malam itu, tampak seekor binatang yang keempat, yang menakutkan dan mendahsyatkan, dan ia sangat kuat. Ia bergigi besar dari besi; ia melahap dan meremukkan, dan sisanya diinjak-injaknya dengan kakinya; ia berbeda dengan segala binatang yang terdahulu; lagipula ia bertanduk sepuluh. Maka demikianlah katanya: Binatang yang keempat itu ialah kerajaan yang keempat yang akan ada di bumi, yang akan berbeda dengan segala kerajaan dan akan menelan seluruh bumi, menginjak-injaknya dan meremukkannya.
Daniel 7:7,23
Maka, Alkitab memberikan pada kita sebuah gambaran yang jelas mengenai natur dari nyanyian akhir Setan sebelum Yesus membuangnya ke dalam lautan api untuk selamanya. Alkitab dengan jelas memperingatkan kita akan kedatangan kekaisaran Setan yang tujuannya tidak lain daripada mendominasi dunia secara total. Tuntutan dari kekaisaran ini akan lebih dari sekedar persekutuan dengan pemerintahannya, tetapi juga tunduk secara total dan menyembah pemimpinnya, sang Anti Kristus dan tentu saja si Jahat. Sekali lagi, barangsiapa tidak tunduk kepada sistem keagamaan yang brutal ini akan menjadi targetnya.
ISLAM DAN TUJUANNYA UNTUK MENDOMINASI DUNIA
Agar dapat memahami Islam secara tepat, kita harus mengerti bagaimana Islam memahami dirinya sendiri. Islam memandang dirinya sebagai satu-satunya agama yang benar – dan sesungguhnya merupakan satu-satunya agama yang pantas untuk dipraktekkan. Maka salah satu tujuan Islam adalah mendominasi dunia secara total. Tujuan besar Islam adalah menghapus apa saja yang dipandangnya sebagai sesat dan menggantikan penyembahan dari semua agama lain. Hingga tiba harinya dimana semua orang akan berkata, “tidak ada yang lain yang boleh disembah selain Allah”, maka Islam akan terus memerangi orang-orang dan bangsa-bangsa yang tidak beriman. Kita telah menguji secara menyeluruh visi Islam mengenai dominasi global melalui eskatologinya, tetapi konsep itu tidak hanya sekedar sebuah gagasan futuristik bahwa orang Muslim bermimpi indah menantikan Mahdi dan bahwa Yesus yang islami akan menggenapkannya bagi mereka. Teks-teks dan para sarjana Islam mengajarkan bahwa dominasi global harus diperjuangkan oleh semua Muslim setiap waktu. Perjuangan akan keberlangsungan Islam dan pada akhirnya dominasi dunia secara global disebut jihad. Sesungguhnya jihad (perjuangan) adalah persyaratan dasar bagi semua Muslim dimanapun. Jihad adalah sebuah komponen dalam Islam yang merupakan kewajiban absolut.
Nah, para apologis dan propagandis pasti akan segera berargumentasi bahwa jihad bukanlah soal perjuangan untuk mendominasi dunia. Beberapa dari mereka akan membuat pernyataan yang menyesatkan seperti “jihad hanyalah soal mengatasi kesengsaraan”. Atau mereka akan mengemukakan bahwa “jihad yang terbesar” adalah perjuangan melawan diri sendiri. Walaupun perjuangan batin ini juga merupakan sebuah aspek yang sah dalam jihad, janganlah anda tertipu. Jihad yang wajib diperjuangkan bagi semua Muslim terhadap kelemahan batin seseorang tidaklah memperkecil sentralitas tuntutan Islam terhadap semua Muslim untuk mengobarkan jihad terhadap dunia kafir hingga Islam menjadi penguasa. Ini juga meliputi bentuk-bentuk peperangan lainnya seperti dalam bidang-bidang intelektual maupun politik. Namun dalam bidang apapun seorang Muslim terlibat, ia tetap akan mempunyai pandangan yang sama, yaitu berjuang hingga akhirnya tercapailah dominasi global dan supremasi Islam secara universal.
JIHAD
Kata “Jihad” berasal dari akar kata dalam bahasa Arab J-H-D, yang berarti “perjuangan”. Ada 5 jenis jihad:
a.Jihad al-nafs (perjuangan melawan hawa nafsu dalam diri sendiri)
b.Jihad al-Shaitan (perjuangan melawan Setan)
c.Jihad al-kuffaar (perjuangan melawan orang-orang kafir)
d.Jihad al-munafiqeen (perjuangan melawan orang-orang munafik)
e.Jihad al-faasiqeen (perjuangan melawan orang-orang Muslim yang bertabiat tidak baik)
Seperti yang telah dikemukakan, seluruh bentuk jihad di atas wajib dilaksanakan oleh semua Muslim. Jika anda memperhatikan diskusi mengenai jihad di media, anda akan menemukan banyak artikel dan klaim dari orang-orang Muslim yang salah menafsirkan jihad sebagai sesuatu yang lain dari apa yang sebenarnya. Namun juga telah dikemukakan bahwa mereka yang menyangkali aspek sentral dari penampakan luar jihad dalam Islam, mereka bersikap tidak peduli dan juga sebenarnya berdusta. Pada kenyataannya, berdusta atau menyembunyikan atau salah menafsirkan natur Islam yang sebenarnya terhadap dunia yang tidak beriman (kepada Islam) sesungguhnya adalah bagian atau merupakan parsel dari metode Islam untuk melaksanakan jihad terhadap non-Muslim. Selanjutnya kita akan memperhatikan doktrin Islam mengenai berdusta di pasal yang berikutnya.
Dibalik semua iklan yang ramah, perkataan Islam yang penuh damai itu, Muhammad dengan jelas mengklaim bahwa tugasnya adalah untuk memerangi orang-orang kafir hingga mereka tunduk kepada Islam dan menjadi penyembah-penyembah Allah. Sejak jaman Muhammad, dominasi global telah menjadi tujuan Islam.
“Rasul Allah (Muhammad) berkata, ‘Saya telah diperintahkan untuk memerangi orang sampai mereka berkata: ‘Tiada yang lain yang harus disembah selain Allah”.1
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”. Sura 9:29
“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. Sura 9:123
Tidak usah dipertanyakan lagi, kita telah melihat bagaimana Muhammad menganjurkan penyebaran agamanya dengan cara kekerasan. Mungkin ada orang yang berargumen bahwa kekristenan juga bertujuan menyebarkan ajarannya di seluruh muka bumi. Walau hal itu memang benar adanya, kekristenan tidak bertujuan untuk memerangi mereka yang bukan Kristen, namun lebih menghadirkan berita Injil, atau “kabar baik” kepada semua orang. Kekristenan menghargai pilihan bebas dalam diri manusia, baik menerima atau menolak tawaran pengampunan dan penerimaan Tuhan atas hidup mereka. Seperti yang pernah dikatakan oleh seseorang, “penginjilan” (mengkotbahkan ajaran Kristen kepada orang-orang non-Kristen) hanyalah semata-mata seperti seorang pengemis yang mengatakan kepada pengemis-pengemis lainnya dimana makanan itu ada.
Sedangkan Yesus, dalam memanggil orang-orang percaya baru untuk mengikuti-Nya dan melayani Tuhan, membuat sebuah pernyataan yang indah:
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan."
Matius11:28-30
Muhammad memanggil para pengikutnya kepada sesuatu yang terus terang teramat sangat membebani. Dengan sebuah bujukan yang berlebihan, ia berkata:
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesutu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Sura 2:216
Sangatlah mudah untuk mendaftarkan beberapa halaman ayat-ayat dari Qur’an dan Hadith yang merefleksikan pola pikir jihad dan memerangi orang-orang kafir agar segera tercapai keberlanjutan Islam. Sangatlah sulit untuk mengeluarkan ayat-ayat ini dari konteksnya. Namun demikian, seperti yang telah saya katakan, banyak orang Muslim Barat yang akan terus mengklaim bahwa ayat-ayat Qur’an yang mengatakan bahwa jihad hanyalah soal mengatasi kelemahan atau merupakan perang untuk mempertahankan diri, dan sebagainya. Namun, seperti yang dikatakan oleh seorang komentator Muslim:
“Janganlah percaya kepada orang-orang Muslim moderat di media Barat yang mengatakan pada anda bahwa jihad berarti ‘mengatasi kelemahan.” 2
Atau seperti yang dikatakan oleh seorang pengarang dan pengajar Muslim yang terkenal, Muhammad Saeed al-Qahtani:
“Jihad adalah sebuah tindakan ibadah, salah satu bentuk ibadah yang tertinggi kepada Allah...Mereka berkata bahwa jihad hanyalah untuk membela diri. Kebohongan ini harus disingkapkan...” 3
Alih-alih terperangkap dalam sebuah debat kusir mengenai Islam, kita akan menguji pendapat-pendapat dari beberapa sarjana Muslim terkemuka di sepanjang sejarah Islam, juga para pemimpin dan perwakilan-perwakilan Islam di negara-negara Barat dewasa ini untuk melihat apa yang sesungguhnya diajarkan Islam.
PENDAPAT PARA SARJANA MENGENAI JIHAD
Ibn Kathir mengemukakan peran penting jihad ofensif dalam masa-masa awal Islam ketika ia mengomentari Sura 9:123 tersebut diatas:
“Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk memerangi orang-orang kafir, dalam wilayah terdekat dengan negara Islam, kemudian hingga wilayah-wilayah terjauh. Inilah sebabnya mengapa Utusan Allah mulai memerangi para penyembah berhala di jazirah Arab. Ketika ia selesai dengan mereka...Kemudian ia mulai memerangi para ahli Kitab (orang Yahudi dan Kristen). Setelah kematian Muhammad, penerusnya, sahabat, dan Kalifah, Abu Bakr, menjadi pemimpin...atas nama Nabi, Abu Bakr...mulai menyiapkan tentara-tentara Islam untuk memerangi orang-orang Roma yang menyembah salib, dan orang-orang Persia yang menyembah api. Melalui berkat dari misinya, Allah membuka daerah-daerah baginya dan menjatuhkan Kaisar dan Kisra dan orang-orang yang menaati mereka diantara hamba-hamba. Abu Bakr menghabiskan harta mereka demi Allah, seperti yang telah dinubuatkan oleh utusan Allah. Misi ini (dominasi dunia) berlanjut setelah Abu Bakr di tangan orang yang ditunjuk Abu Bakr untuk menjadi penggantinya...Umar bin al-Khattab. Melalu Umar, Allah menghina orang-orang kafir, menindas tiran dan orang-orang munafik, dan membuka bagian-bagian Timur dan Barat dunia. Harta benda dari berbagai negeri dibawa kepada Umar dari propinsi-propinsi yang dekat dan jauh, dan ia membaginya berdasarkan metode yang sah dan dapat diterima. Kemudian Umar wafat...kemudian, para Sahabat diantara orang Muslim ...bersepakat untuk memilih Uthman bin Affan...menggantikan Umar. Selama pemerintahan Uthman, Islam mengalami kejayaan dalam penyebarannya dan bukti Allah yang tidak terbantahkan didirikan di berbagai belahan dunia diatas leher para hamba. Islam muncul di belahan timur dan barat dunia dan firman Allah ditinggikan dan agama-Nya jelas kelihatan. Agama yang murni ini mencapai cita-citanya yang terdalam terhadap musuh-musuh Allah, dan apabila kaum Muslim telah menaklukkan sebuah komunitas, mereka kemudian akan berpindah ke komunitas berikutnya, dan berikutnya lagi, menghancurkan pelaku-pelaku tiran yang jahat. Mereka melakukan hal ini sebagai ketaatan terhadap perkataan Allah, ‘wahai kamu orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang ada di dekatmu”. 4
Jelaslah bahwa Muhammad, dan juga para penerusnya, Kalifah Abu Bakar, Kalifah Umar, dan Kalifah Uthman, mereka semua menyerang bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya secara ofensif dalam rangka menyebarkan Islam. Ini bukanlah seperti yang diklaim oleh para sejarahwan revisionis sebagai perang defensif. Ini adalah perang-perang ofensif yang bertujuan untuk memaksa korban-korbannya untuk tunduk kepada Islam atau “dihancurkan”.
Ibn Khaldun, seorang sejarahwan Islam yang terkenal pada abad ke-14 dan filsuf dalam karya kalsik ternama, the Muqaddimah memberikan pandangannya mengenai jihad:
“Dalam komunitas Islam, perang suci adalah kewajiban agama, karena universalitas dari misi (Muslim) dan (kewajiban untuk) mentobatkan semua orang kepada Islam baik dengan bujukan maupun dengan paksaan. Oleh karena itu, otoritas Kalifah (spiritual), bangsawan (pemerintah dan militer) disatukan dalam Islam, sehingga orang yang berwenang dapat mengabdikan kekuatan sepenuhnya dari kedua belah pihak pada saat yang sama”. 5
Dalam bukunya, “Yurisprudensi dalam Biografi Muhammad”, Dr. Muhammad Sa’id Ramadan al-Buti, seorang sarjana Mesir kenamaan dari Universitas Al-Azhar, menuliskan bahwa perang ofensiflah yang merupakan “perang suci termulia” di dalam Islam, dan bukan perang defensif:
“Perang suci (jihad Islam), seperti yang dikenal dalam yurisprudensi Islam, pada dasarnya adalah perang ofensif. Inilah tugas Muslim di segala usia ketika kekuatan militer yang dibutuhkan tersedia bagi mereka. Inilah fase dimana makna dari perang suci telah mencapai bentuk finalnya. Maka rasul Allah berkata: ‘Saya diperintahkan untuk memerangi orang sampai mereka percaya kepada Allah dan pesan-pesan-Nya...Konsep Perang Suci (jihad) dalam Islam tidak mempertimbangkan apakah itu merupakan perang defensif ataukah perang ofensif. Tujuannya adalah peninggian Perkataan Allah dan konstruksi masyarakat islami dan pendirian Kerajaan Allah di bumi dengan cara apapun. Cara yang digunakan adalah peperangan ofensif. Inilah puncaknya, Perang suci yang termulia”. 6
Berdasarkan ensiklopedia Islam, “perjuangan itu diwajibkan bahkan sekalipun orang-orang kafir tidak memulai peperangan”.7 Konsep jihad, di dalam Islam secara literal artinya menyerang orang-orang kafir dengan tujuan untuk mentobatkan mereka kepada Islam “dengan bujukan maupun dengan paksaan”, ”sekalipun mereka tidak memulai peperangan itu”.
DOMINASI GLOBAL
Dilahirkan pada tahun 1905, Mawlana Sayid Abul Ala Mawdudi, adalah seorang sarjana Islam dari India. Ceramah-ceramahnya (khutbah) dan tulisan-tulisannya diakui oleh dunia. Di dalam dunia Islam ia dipandang sebagai salah satu sarjana Islam yang terbesar. Inilah pendapatnya mengenai Islam dan dominasi global:
“Islam bukanlah agama yang normal seperti agama-agama lainnya di dunia, dan bangsa-bangsa Muslim tidaklah sperti bangsa-bangsa normal lainnya. Bangsa-bangsa Muslim sangat istimewa karena mereka mempunyai perintah dari Allah untuk memerintah seluruh bumi dan mengatasi semua bangsa di dunia”. 8
Mawdudi menjelaskan tujuan-tujuan dan sasaran Islam sebagai berikut:
“Islam adalah sebuah iman yang revolusioner yang datang untuk menghancurkan pemerintahan apapun yang didirikan oleh manusia. Islam berusaha untuk menjadikan kondisi sebuah bangsa lebih baik daripada bangsa yang lain. Islam tidak peduli soal tanah atau siapa yang memiliki tanah itu. Tujuan Islam adalah untuk memerintah seluruh dunia dan menundukkan semua umat manusia kepada iman di dalam Islam. Bangsa atau kuasa apapun yang menghalangi tercapainya tujuan itu, akan diperangi dan dihancurkan oleh Islam. Untuk mencapai tujuan itu, Islam dapat menggunakan semua kekuatan yang ada dan cara apapun yang dapat digunakan untuk melakukan revolusi di seluruh dunia. Inilah jihad”. 9
Kita telah melihat apa yang dikemukakan oleh beberapa sarjana terkemuka mengenai jihad dan tujuan Islam untuk dominasi global. Sudut pandang mereka sangatlah jalas. Namun apakah pendapat dari para pemimpin Muslim Barat yang lebih modern mengenai hal ini?
PENDAPAT KAUM MUSLIM MODERN BARAT MENGENAI
TUJUAN ISLAM UNTUK MENDOMINASI DUNIA
Aduallah al-Araby dalam bukunya The Islamization of America mengutip sebuah surat yang menakutkan dari seorang Uskup Agung Katolik kepada Paus. Dalam surat terbukanya kepada Paus, Uskup Agung Izmir (Smyrna), Turki, Pendeta Guiseppe Germano Barnardini, menceritakan sebuah pertemuan orang Kristen dan Muslim baru-baru ini yang bertujuan untuk mengadakan dialog antar agama. Sebuah kutipan dari suratnya menceritakan bahwa selama pertemuan itu, seorang otoritas Muslim berdiri dan berbicara dengan tenang dan meyakinkan:
“Terimakasih untuk hukum-hukum anda yang demokratis, kami akan menginvasi anda. Terimakasih untuk hukum-hukum agama kami, kami akan mendominasi anda”.10
Jika anda mengunjungi situs hampir semua mesjid di Amerika, secara beragam anda akan melihat sebuah hubungan dengan Dewan Hubungan-hubungan Amerika-Islam (CAIR). CAIR, adalah sebuah kelompok islami di Washington yang suka menampilkan dirinya sebagai sebuah kelompok hak-hak sipil Islam moderat. “Kami sama dengan orang Muslim NAACP”, kata jurubicara Ibrahim Hooper. “Sejak berdirinya pada tahun 1994, CAIR telah mengumpulkan banyak sumbangan, mengirim undangan ke Gedung Putih, dan dengar pendapat yang serius dengan pihak pemerintah”.11
Namun, menurut Omar Ahmed, Ketua dewan CAIR:
“Islam di Amerika tidak boleh disamakan dengan agama-agama lain, tapi harus menjadi dominan. Quran harus menjadi otoritas yang tertinggi di Amerika, dan Islam harus menjadi satu-satunya agama yang diterima di bumi”. 12
Ini adalah Omar Ahmed yang sama yang menyerang Pendeta Franklin Graham karena menyebut Islam “sebuah agama yang jahat”. Ahmed menanggapi Graham dengan sebuah pernyataan terbuka:
“Pelajarilah Islam dan Muslim lebih dalam lagi sebelum anda mengulangi pernyataan-pernyataan anda yang penuh kesalahan dan memecah-belah tentang salah satu dari tiga agama Abrahamis yang besar yaitu Yudaisme, Kekristenan dan Islam. Pernyataan-pernyataan semacam itu hanya menaburkan kecurigaan dan permusuhan diantara orang-orang Amerika. Sebagai seorang pemimpin agama semestinya anda berupaya membangun kembali dasar nasional kita daripada berusaha merobohkannya”.13
Boleh jadi Pendeta Graham lebih memahami doktrin totalitarian yang sebenarnya dalam Islam daripada Ahmed. Boleh jadi Pendeta Graham telah membaca pernyataan Ahmed mengenai tujuan Islam untuk mendominasi Amerika dan dunia luar ketika Ahmed mengeluarkan pernyataannya. Bagaimanapun, melalui kedua pernyataan ini, mudah sekali kita melihat lidah Ahmed yang bercabang, dan juga ada banyak Muslim yang seperti beliau. Ketika berbicara secara tertutup kepada orang Muslim, Ahmed mengatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang sah, yang bertujuan menaklukkan Amerika. Tetapi ketika berbicara kepada Media, ia berbicara soal “tiga agama besar Abrahamis”, dan kemudian ia menuduh Graham sebagai “pemecah-belah”.
Daniel Pipes, seorang sarjana militan Islam dan direktur Forum Timur Tengah, mengemukakan perihal aspirasi terbuka dari seorang Muslim Amerika ternama, untuk mengambil alih Amerika. Pipes memperkenalkan Ismail Al-Faruqi:
“Ismail Al-Faruqi adalah seorang imigran Palestina yang mendirikan Institut Internasional Pemikiran Islam dan selama bertahun-tahun mengajar di Univesitas Temple di Philadelphia. “Tidak ada yang lebih besar”, tulis Al-Faruqi pada awal 1980-an, “daripada benua (Amerika Utara) yang kaya, awet muda dan penuh semangat ini saat ia berpaling dari kehidupan lamanya yang jahat dan melangkah maju di bawah panji-panji Allahu Akbar (Allah Maha Besar)”. 14
Di Inggris dan di seluruh Eropa, kekuatan Islam telah jauh lebih maju daripada di Amerika. Oleh karena itu, dalam konteks seperti ini, kita melihat bagaimana pernyataan-pernyataan agresif semakin dikemukakan secara terbuka. Sejak awal 1989, orang-orang Eropa dikejutkan ketika melihat ribuan orang Muslim melakukan protes secara terbuka di jalan-jalan di Inggris, Perancis, Jerman, Belgia, dan Belanda sambil membawa poster-poster dengan slogan yang provokatif, “Islam-agama kami hari ini, agama kalian esok hari”.15
Tertanggal 15 Juni 1990, The Muslim Manifesto, yang diterbitkan oleh almarhum Dr.Kalim Siddiqui, yang waktu itu adalah ketua dari Institut Muslim, (sekarang Parlemen Muslim di Inggris Raya) pada halaman 16 paragraf 7 menyatakan:
“Jihad adalah persyaratan dasar dalam Islam. Hidup di Inggris atau memiliki kewarganegaraan Inggris melalui kelahiran atau naturalisasi tidak membebaskan orang Muslim dari kewajibannya (baik laki-laki maupun perempuan) untuk berpartisipasi dalam Jihad”.16
Dr. Siddiqui tidak mengecualikan Inggris dari tempat-tempat yang harus “diperangi dengan senjata”. Jihad wajib dilaksanakan dimana pun. Dan dengan berlalunya waktu, panggilan untuk berjihad di Eropa telah mengalami kemajuan hingga pada titik diproklamirkan secara terbuka di jalan-jalan oleh para pemimpin Muslim radikal. Dalam New York Times tanggal 26 April 2004 kita membaca:
“Panggilan berjihad muncul di jalanan di Eropa... Di sebuah kota di utara London, yang dulunya adalah kota industri, sekelompok kecil orang-orang muda Inggris...mengatakan bahwa mereka ingin melihat Perdana Menteri Tony Blair mati atau bersumpah dan bendera Islam dikibarkan di Downing Street No.10. Mereka menyatakan persekutuan dengan Osama bin Laden dan bertujuan untuk merobohkan demokrasi Barat untuk mendirikan sebuah negara Islam super di bawah hukum Syariah, seperti Afghanistan di bawah pemerintahan Taliban. Mereka menyebut para pembajak dalam peristiwa 11 September sebagai “Magnificent 19” dan mengganggap pemboman kereta di Madrid sebagai sebuah cara yang cerdik untuk menyerang Eropa. Pemimpin mereka, Sheik Omar Bakri Mohammad, mengemukakan kesetiaannya kepada Osama bin Laden. Jika Eropa tidak mengindahkan tawaran gencatan senjata Laden – memutuskan semua pasukan asing ditarik dari Irak dalam waktu tiga bulan – orang Muslim tidak akan dihalangi dari menyerang negara-negara Barat yang mereka diami, ujar Sheik. ”Semua Muslim di Barat diwajibkan,” katanya, untuk ‘menjadi pedangnya’ dalam sebuah perang yang baru. Orang Eropa perhatikanlah, ditambahkan Sheik, ‘Adalah bodoh memerangi orang yang menginginkan kematian – itulah yang mereka cari’...dan ia memperingatkan para pemimpin Barat, ‘Kalian dapat membunuh bin Laden, tapi tidak fenomenanya – kalian tidak dapat menghancurkannya. Saudara-saudara Muslim kami dari luar negeri suatu hari akan datang dan menaklukkan tempat ini dan kemudian kami akan hidup di bawah Islam dalam kewibawaan,’ katanya”.17
Dr. Siddiqui dan Sheik Omar Bakri Mohammad tidaklah sendirian dalam menyerukan jihad Islam radikal terhadap kampung halaman mereka sendiri di Eropa:
“Abu Hamza, ulama yang dituduh mengajari Richard Reid sebelum ia mencoba meledakkan sebuah pesawat jet yang terbang dari Paris ke Miami dengan bahan peledak yang disembunyikan dalam sepatunya, mendesak sekitar 200 orang di luar mesjidnya di Finsbury Park untuk menerima kematian dan “budaya martir”.18
Maka tidaklah mengejutkan, ketika dalam perang dengan Afghanistan, diantara orang-orang yang ditawan oleh pasukan Amerika, setidaknya ada tiga orang berkewarganegaraan Inggris. Atau pada April 2003, ada dua warga negara Inggris yang bertanggung-jawab atas bom bunuh diri yang menewaskan tiga orang Inggris lainnya di sebuah kafe di Tel Aviv. Dan ketika reporter Wall Street Journal Daniel Pearl dipenggal di Pakistan, Omar Sheik Saeed yang adalah seorang yang telah mengenyam pendidikan yang baik di Inggris, dan pernah digambarkan sebagai “seorang Inggris yang sempurna”, karena telah menjadi seorang Muslim radikal, pada akhirnya ia adalah aktor intelektual dari penculikan dan merekam pemenggalan Pearl di video. Mestikah kita terkejut? Haruskah kita terkejut melihat dampak Islam yang seperti ini terhadap seseorang? Jika para pemimpin Muslim terkemuka di Eropa memuji Osama bin Laden secara terbuka, dan menyerukan jihad dan kemartiran, lalu mengapa kita terkejut ketika orang-orang muda Muslim yang mudah dipengaruhi, menjawab panggilan ini di seluruh dunia. Sementara 15 dari 19 orang pembajak yang melakukan serangan besar adalah orang Arab Saudi, akankah dunia terkejut ketika tindakan seperti itu dilakukan oleh orang-orang Muslim Inggris? Bagaimanakah dunia Barat akan bereaksi jika “kotak-kotak hitam” yang selamat dari puing-puing World Trade Center berisikan rekaman suara orang-orang muda yang meneriakkan “Allahu Akbar!” dengan aksen Inggris atau Amerika yang sangat jelas?
KESIMPULAN
Orang-orang Muslim di Barat secara reguler menyebut Islam sebagai “agama damai”, namun agama damai ini bertanggung-jawab atas lebih dari 90% peperangan yang ada di dunia saat ini. Pikirkanlah kenyataan ini. Mayoritas terorisme dunia, kekerasan dan perang secara religius dimotivasi oleh Islam.
“Ada sekitar 400 kelompok teroris di dunia yang telah diketahui. Lebih dari 90% dari kelompok-kelompok ini adalah kelompok-kelompok Islam (kelompok teroris Islam radikal). Lebih dari 90% peperangan dunia yang terjadi sekarang melibatkan gerakan-gerakan teror Islam”.19
Tujuan tak berkesudahan dari para apologis Muslim moderat adalah mengklaim bahwa kelompok-kelompok teroris radikal tidak bersikap sesuai dengan Islam. Sementara saya tidak meragukan bahwa banyak kaum Muslim moderat yang sangat jijik terhadap pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh banyak kelompok garis keras, para teroris sesungguhnya sedang melaksanakan sebuah aspek yang sangat sah dalam Islam seperti yang dikemukakan oleh teks-teks Islam, para sarjana dan representasi Islam. Sesungguhnya mereka sedang bersikap sesuai dengan jalan Islam. Mereka bersikap seperti Muhammad dan para penerusnya. Walau seringkali dikatakan bahwa para teroris telah “membajak” Islam, jika dinilai dari apa yang sesungguhnya diajarkan Islam, pada kenyataannya orang-orang yang disebut sebagai Muslim Moderat sebenarnya adalah orang-orang yang sedang berusaha untuk mengubah ajaran-ajaran Islam yang sejati.
Ketika kita memperhatikan rata-rata pertumbuhan Islam, dikombinasikan dengan konsep jihad dalam Islam, dan semakin populernya penfasiran radikal (terhadap teks-teks Islam-Red), bahkan di Barat, konsep dunia masa depan yang berada di bawah kediktatoran fasis Islam sangat mungkin terjadi. Hanya berdasarkan tren dan statistik saja tidaklah sulit melihat kemungkinan terwujudnya kenyataan itu dalam abad ini. Alkitab mengajarkan bahwa di masa yang akan datang, seseorang akan tampil, yang tujuan utamanya adalah untuk mencapai dominasi dunia secara komplet melalui kekaisaran politis-militer-religiusnya. Islam mempunyai tujuan yang sama persis dengan itu dan inheren sampai ke doktrin-doktrin mendasarnya. Dan hari ini, saat kita melihat panggilan jihad diserukan semakin keras lagi oleh para pemimpin Muslim radikal di seluruh dunia, Islam perlahan-lahan bergerak semakin dekat kepada tercapainya tujuannya yang tertinggi.
Pasal 16 - Memahami Ketidakjujuran dan Penipuan Dalam Islam
Diskusi berikut ini sangat penting karena dua alasan. Pertama, karena menonjolnya penipuan di akhir jaman, dan kedua, karena dahsyatnya implikasi penipuan itu demi tercapainya tujuan Islam, (dalam hal ini) penyebaran Islam di Barat.
Ketika seseorang mulai penasaran dan ingin mulai mempelajari Islam, pertama-tama penting baginya untuk memahami tingkatan dimana di dalam Islam, berbohong tidak hanya diijinkan, namun sebenarnya dianjurkan dan bahkan seringkali diperintahkan. Ketika seorang Kristen ingin mengajar orang lain mengenai kekristenan, mudah sekali memahami bahwa kejujuran adalah sebuah aspek esensial dari pengajaran itu. Namun dalam Islam, banyak orang Barat yang mengalami kesulitan mencerna kenyataan bahwa (ada) niat untuk melebih-lebihkan sesuatu, menutupi kebenaran dan kadangkala kebohongan yang jelas-jelas dilakukan adalah bagian inti dari agama Islam. Sebenarnya ada doktrin-doktrin dan tradisi-tradisi spesifik yang memupuk budaya ketidakjujuran dalam Islam. Kini tentunya, ada beberapa ayat dan tradisi dalam Islam yang tidak sepakat dengan dusta:
“Dan janganlah menutupi Kebenaran dengan kepalsuan, atau menutupi Kebenaran sedangkan kamu mengetahui (apa yang benar)”. Sura 2:42 (Yusuf Ali)
Namun sayangnya, seperti yang akan kita lihat, bagi banyak orang Muslim, pengecualian-pengecualian terhadap sebuah peraturan kemudian malah menjadi peraturan itu sendiri.
PENIPUAN DAN JIHAD
Agar dapat memahami bagaimana suatu agama dapat merasionalisasi dan membenarkan dusta, secara singkat pertama-tama kita harus kembali memperhatikan konsep jihad dan tujuan-tujuan Islam. Kita telah mendiskusikan hal ini dalam pasal terdahulu, tetapi saya akan mengemukakan lagi bahwa jihad pada dasarnya dipandang dalam Islam sebagai suatu perjuangan untuk membawa segala sesuatu untuk tunduk kepada Allah dan Islam. Medan pertempuran tempat jihad dilakukan dapat dilihat pada sebuah spektrum. Salah satu sisi dari spektrum itu adalah perjuangan batiniah seseorang. Perjuangan ini dilakukan oleh semua Muslim yang ingin mengatasi kelemahan-kelemahan pribadinya, atau setan-setan dalam dirinya. Ketika kita menyeberangi spektrum ini maka kita akan melihat adanya kebutuhan untuk mengobarkan jihad agar orang lain tunduk kepada Islam. Tentu inilah yang di dalam kekristenan disebut dengan penginjilan. Di dalam Islam hal ini disebut Dakwah. Beranjak turun dari spektrum itu ada perintah Islam agar Muslim menguasai suatu daerah dan pada akhirnya pemerintahan-pemerintahan nasional. Sayangnya, inilah titik dimana wajah Islam yang sebenarnya tampak, yaitu wajah Islam yang kejam dan seringkali ditunjukkan dengan jihad, yang biasanya mendatangkan pertumpahan darah. Kenyataan ini terlihat di seluruh dunia saat ini. Jadi, sementara banyak orang di Barat menyangka jihad hanyalah perjuangan melawan pemerintahan dan bangsa non-Muslim dan sebagainya, konsep dalam Islam sesungguhnya meliputi seluruh aspek kehidupan. Maka dalam pikiran Muslim, bahkan perjuangan untuk mentobatkan non-Muslim kepada Islam adalah bagian dari jihad. Penginjilan di dalam Islam adalah lebih daripada sekedar “mewartakan Kabar Baik”, melainkan sesungguhnya inilah perang. Dengan mengingat hal ini, penting untuk kita perhatikan perkataan Muhammad yang terkenal yaitu,”Perang adalah penipuan”.1 Maka, ketika berhadapan dengan non-Muslim, Islam menganjurkan orang Muslim untuk menggunakan mentalitas perang/jihad yang agresif yang secara literal berarti penipuan. Tentunya hingga seorang non-Muslim menyadari tingkatan dimana mentalitas ini berlaku ketika berhadapan dengan Muslim, akan sangat mudah untuk kehilangan penilaian obyektif yang sehat. Ketika berhadapan dengan seseorang yang berniat menipu, mempercayai seseorang – seperti yang banyak dilakukan oleh orang Barat dewasa ini, adalah seperti domba yang digiring ke pembantaian. Mentalitas penginjilan seperti jihad ini juga mendapatkan dukungannya di bawah kategori dua doktrin spesifik yang disebut Kithman dan Taqiya.
KITHMAN: MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN
Kithman adalah perintah untuk terang-terangan menutupi imannya. Ini adalah suatu bentuk dusta yang terutama sekali dipraktekkan oleh kaum minoritas Muslim Syiah. Doktrin ini dikemukakan oleh Imam Jafar Sadiq, Imam ke-6 dari Islam Syiah:
“Orang yang memperlihatkan sesuatu dari agama kita adalah seperti orang yang berniat untuk membunuh kita”. 2
“Anda adalah milik sebuah agama yang barangsiapa menutupinya, Allah akan menghormatinya dan barangsiapa menyingkapkannya, Allah akan mempermalukannya”.3
Jadi kaum Muslim Syiah diperintahkan untuk dengan sengaja menyembunyikan apa yang sungguh mereka percayai untuk menyesatkan pihak luar berkenaan dengan natur sebenarnya dari agama mereka. Kita pasti akan langsung teringat pada perkataan Yesus, ketika Ia mengatakan kepada para murid-Nya agar jangan pernah menyembunyikan agama mereka:
Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
Matius 5:14-16
Namun, orang-orang Muslim Syiah adalah “milik sebuah agama yang barangsiapa menutupinya, maka Allah akan menghormatinya dan barangsiapa menyatakannya, maka Allah akan mempermalukannya”. Itulah doktrin Kithman. Bagi kebanyakan orang Barat, konsep ini tidak terbayangkan dan sama sekali bertentangan dengan akal sehat. Jika anda memiliki sesuatu yang baik, maka bagikanlah. Jika anda mempunyai sesuatu yang ingin anda sembunyikan, maka kemungkinan besar saya pun tidak menginginkannya.
Secara esensial tidak ada perbedaan antara doktrin Kithman dan doktrin Taqiya. Taqiya, oleh seorang komentator Muslim Syiah, didefinisikan sebagai berikut:
“Kata ‘al-Taqiya’ secara literal berarti: ‘menutupi atau menyamarkan iman seseorang, keyakinan, gagasan, perasaan, pendapat dan/atau strategi dalam suatu keadaan bahaya/darurat, baik sekarang maupun nanti, untuk menyelamatkan diri dari luka/sakit secara fisik dan/atau mental’. Satu kata saja untuk menterjemahkannya: penipuan”. 4
Namun, komentator yang sama dari sebuah artikel dalam A Shite Encyclopedia, menyatakan bahwa , “Roh ‘al-Taqiyya’ yang sebenarnya berarti ‘diplomasi’”. Memang, diplomasi adalah sebuah definisi yang sangat “diplomatif”.
Doktrin Kithman dan Taqiya seringkali dikatakan semata-mata sebagai doktrin Syiah. Orang Muslim Sunni menyangkali kedua doktrin tersebut sebagai bagian dari tradisi mereka. Sayangnya, hal itu sendiri juga semata-mata hanyalah sebuah penipuan lain lagi. Berikut ini, kita akan membahas beberapa tradisi Sunni yang membuktikan aplikasi universal Taqiya dalam Islam.
TAQIYA: DASAR UNTUK PENIPUAN
Qur’an secara literal mengajarkan bahwa Muslim diijinkan untuk menyangkali iman mereka untuk melindungi diri. Orang Muslim yang menyangkali iman mereka akan diampuni selama iman mereka yang sesungguhnya tidak tergoyahkan (Misalnya, penyangkalan mereka adalah kebohongan yang murni); dan hanya jika penyangkalan iman mereka bertujuan untuk menghindari masalah (terutama jika hidup diantara orang non-Muslim):
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dada untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar”. Sura 16:106
Sarjana Sunni, Ibn Kathir, menguraikan makna ayat ini dalam komentari klasiknya tentang Qur’an:
“Ini adalah mengenai sekelompok orang yang tertindas di Mekkah dan orang-orang yang berada dalam posisi lemah terhadap bangsanya sendiri, sehingga mereka bersepakat dengan orang-orang itu ketika mereka dicobai oleh orang sebangsanya...Allah mengatakan kepada mereka bahwa setelah ini, artinya setelah mereka menyerah (kepada orang non-Muslim dengan menyangkali iman mereka) ketika dicobai, Ia akan mengampuni mereka dan menunjukkan kemurahan kepada mereka ketika mereka dibangkitkan kembali”.5
Selama seorang Muslim tinggal di sebuah negara dimana Islam adalah minoritas, dalam “sebuah negara yang dilemahkan”, maka penipuan diijinkan. Ketika ditantang oleh orang non-Muslim untuk menghujat Allah, mereka “bersepakat dengan mereka”. Kisah nyata tentang bagaimana ayat diatas “diwahyukan” kepada Muhammad adalah sebagai berikut:
“Orang-orang kafir menangkap ‘Ammar Ibn Yasir dan menyiksanya hingga ia mengucapkan kata-kata kotor tentang Nabi (Muhammad), dan memuji dewa-dewa dan berhala-berhala mereka; dan ketika mereka melepaskannya, ia langsung menemui Nabi. Nabi berkata: ‘Apakah yang kau pikirkan?’ ‘Ammar Ibn Yasir berkata: ‘Kabar buruk! Mereka tidak mau melepaskan saya sampai saya menistamu dan memuji dewa-dewa mereka!’ Nabi berkata: ‘Bagaimana dengan isi hatimu?’ ‘Ammar menjawab: ‘Tetap beriman’. Maka nabi berkata: ‘Jika mereka mencarimu lagi, maka lakukanlah lagi hal yang sama’. Pada saat itu Allah mewahyukan ayat ini:’...kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman...” Sura 16:106. 6
Jadi Muhammad benar-benar menganjurkan orang Muslim untuk berdusta dan menghujat dan menyangkali iman mereka jika hal itu akan melindungi mereka, asal mereka “tetap tenang dalam beriman”. Ibn Abbas, seorang narator tradisi yang sangat terkenal dan diakui oleh golongan Sunni mengkonfirmasi gagasan ini:
“Taqiya (hanyalah) ucapan lidah, sedangkan hati tetap dalam iman”. 7
Hal ini tentunya sangat berbeda dengan jutaan orang Kristen di sepanjang sejarah yang menolak menyangkali Kristus, dan oleh karena itu menerima kematian dan menjadi martir. Qur’an juga memerintahkan orang Muslim agar tidak bersahabat dengan siapapun yang bukan Muslim – dan sekali lagi, kecuali jika hal itu dapat melindungi orang Muslim dari kesulitan:
“Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai sahabat atau penolong dan bukannya orang-orang beriman: jika kamu melakukannya maka tidak ada pertolongan dari Allah: kecuali kamu menjaga dirimu sepenuhnya terhadap mereka”.
Sura 3:28
Ibn Kathir kembali berkomentar:
“Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman agar tidak menjadi penyokong orang-orang kafir, atau mengambil mereka sebagai sahabat dan membangun persahabatan dengan mereka...Allah memperingatkan tingkah-laku seperti itu ketika Ia berkata, ‘Wahai kamu yang beriman! Janganlah mengambil musuh-musuh-Ku dan musuh-musuhmu sebagai sahabat, menunjukkan kebaikan kepada mereka. Dan barangsiapa melakukannya, maka sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus’. Dan, ‘Wahai kamu yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang Yahudi dan orang Kristen sebagai sahabat, mereka adalah sahabat bagi satu sama lain. Dan barangsiapa bersahabat dengan mereka, maka sesungguhnya, ia adalah salah-satu dari mereka’. Allah kemudian berkata, ‘Kecuali kamu takut akan bahaya dari mereka,’ artinya, kecuali mereka (orang Muslim) yang ada di wilayah-wilayah atau di suatu waktu mengkuatirkan keamanan mereka terancam oleh orang-orang kafir. Dalam hal ini, orang beriman semacam itu diijinkan untuk menunjukkan (di permukaan) persahabatan kepada orang-orang kafir, namun tidak dengan tulus hati. Sebagai contoh, Al-Bukhari mencatat bahwa Abu Ad-Darda’ berkata, ‘Kami tersenyum di hadapan orang sedangkan hati kami mengutuki mereka”. 8
penekanan oleh Penulis
Ibn Kathir kemudian terus menyangkali, bahwa gagasan mengenai Taqiya hanya berlaku di kalangan Muslim Syiah ketika ia berkata, “Taqiya diijinkan hingga Hari Kebangkitan”. Kita melihat bahwa Taqiya sesungguhnya adalah doktrin bagi semua Muslim yang secara literal mengijinkan mereka untuk menyangkali aspek apapun dari iman mereka dan untuk melindungi mereka dari marabahaya. Namun persoalannya, dalam prakteknya, istilah “marabahaya” juga mencakup (semata-mata) mengganggu reputasi seseorang yang merupakan representasi Islam, dan seperti yang akan kita lihat, tradisi Islam mengijinkan penipuan digunakan untuk beberapa tujuan lainnya juga.
PENIPUAN DIBENARKAN UNTUK MEMPEROLEH KEKAYAAN
Namun, di samping komentar Ibn Kathir, banyak orang akan mengklaim (kemungkinan besar ini juga adalah sebuah taktik penipuan) bahwa Taqiya hanya dapat digunakan untuk melindungi hidup seseorang. Jauh daripada itu. Muhammad bahkan mengijinkan untuk berdusta untuk memperoleh kekayaan:
“Setelah orang-orang Muslim menaklukkan kota Khaybar, nabi didekati oleh Hajaj Ibn ‘Aalat dan berkata: ‘Wahai nabi Allah: di Mekkah saya mempunyai kelebihan harta dan beberapa kerabat, dan saya menginginkannya kembali; apakah saya akan diampuni jika saya menjelek-jelekkanmu agar terhindar dari penganiayaan?’ Nabi memakluminya dan berkata: ‘Katakanlah apa saja yang harus kau katakan”.9
Pendekatan “tujuan menghalalkan cara” terhadap kehidupan dan agama, yang diteladankan Muhammad nampak sangat jelas disini. Dan ada banyak contoh lain lagi yang menceritakan bagaimana Muhammad menganjurkan para pengikutnya untuk berdusta sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir dari keberlanjutan Islam.
PENIPUAN DIBENARKAN UNTUK MEMBUNUH
MUSUH-MUSUH ISLAM
“Rasul Allah berkata, ‘Siapakah yang ingin membunuh Ka’b bin al-Ashraf yang telah menyakiti Allah dan rasul-Nya?’ Lalu Muhammad bin Maslama berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasul Allah! Apakah anda menghendaki agar saya membunuhnya?’ Nabi berkata, ‘Ya’. Muhammad bin Maslama berkata, ‘Maka ijinkanlah saya untuk mengatakan sesuatu (yang jahat) (Misalnya untuk menipu Kab)’. Nabi berkata, ‘kamu boleh mengatakannya”. 10
Abdullah al-Araby seorang otoritas Islam kelahiran Timur Tengah, dalam sebuah artikel berjudul Berbohong dalam Islam, menceritakan sebuah kisah mengenai sikap permisif Muhammad terhadap dusta agar dapat membunuh musuh-musuhnya. Kali ini korbannya bernama Shaaban Ibn Khalid al-Hazly:
“Ada kabar burung bahwa Shaaban mengumpulkan pasukan untuk memerangi Muhammad. Muhammad membalas dendam dengan memerintahkan Abdullah Ibn Anis untuk membunuh Shaaban. Calon pembunuh ini meminta ijin kepada Muhammad untuk berbohong. Muhammad menyetujuinya dan kemudian memerintahkan si pembunuh ini untuk berbohong dengan mengatakan bahwa ia adalah anggota dari klan Khazaa. Ketika Shaaban melihat Abdullah datang, ia bertanya padanya, ‘Anda berasal dari suku apa?’ Abdullah menjawab, ‘dari Khazaa’. Kemudian ia menambahkan, ‘Saya mendengar bahwa anda mengumpulkan pasukan untuk memerangi Muhammad dan saya ingin bergabung dengan anda’. Abdullah lalu berjalan dengan Shaaban dan menceritakan padanya bagaimana Muhammad mendatangi mereka dan memberikan ajaran-ajaran Islam yang menyesatkan, dan mengeluh bagaimana Muhammad telah menjelek-jelekkan para partriarkh Arab dan menghancurkan pengharapan-pengharapan Arab. Mereka terus berbincang hingga mereka tiba di kemah Shaaban. Pengikut-pengikut Shaaban sudah pergi dan Shaaban mengundang Abdullah untuk masuk ke dalam kemah dan beristirahat. Abdullah duduk disana hingga keadaan menjadi tenang dan yakin bahwa semua orang sudah tertidur. Abdullah memenggal kepala Shaaban dan membawanya kepada Muhammad sebagai sebuah trofi. Ketika Muhammad melihat Abdullah, dengan girang ia berteriak, ‘Wajahmu penuh dengan kemenangan (Aflaha al-wajho)’. Abdullah membalas salam nabi dengan berkata, ‘Wajahmulah Rasul Allah, yang penuh kemenangan. (Aflaka wajhoka, ye rasoul Allah)”.
Sekali lagi kita lihat, berbohong diijinkan untuk berbagai alasan. Selama tujuannya adalah untuk mendukung cita-cita Muhammad atau Islam, dusta diijinkan dan itu mengabaikan semua larangan penting terhadap dusta. Dalam hal ini dusta diijinkan untuk dapat membunuh seseorang yang kematiannya diinginkan Muhammad. Sayangnya, oleh karena Islam menjunjung Muhammad sebagai teladan tertinggi bagi semua Muslim dalam bertingkah-laku, sikap yang sama ini dilakukan oleh banyak pengikut Muhammad pada jaman sekarang.
PENIPUAN UNTUK MENCAPAI TUJUAN DAN KEMAKMURAN
Imam al-Ghazali, salah seorang teolog Muslim dan juga seorang filsuf yang sangat ternama, bahkan lebih melonggarkan lagi ijin untuk berdusta. Menurut Ghazali, berdusta diijinkan selama ada tujuan positif yang nyata atau menguntungkan yang dapat diperoleh:
“Berbicara adalah sarana untuk mencapai sesuatu. Jika sebuah tujuan yang baik dapat dicapai baik dengan berkata jujur maupun berdusta, tidaklah sah untuk mendapatkannya dengan berdusta karena itu tidak perlu. Jika ada kemungkinan untuk mencapai tujuan semacam itu dengan berdusta tetapi tidak dengan berkata jujur, maka dusta diijinkan jika mencapai tujuan itu dimungkinkan. 12
penekanan oleh Penulis
“Ketahuilah bahwa dusta itu sendiri bukanlah dosa, tetapi jika itu mencelakai anda maka itu adalah sesuatu yang buruk. Namun, anda dapat berdusta jika itu akan menjaga anda terhadap yang jahat atau akan membawa kemakmuran”. 13
penekanan oleh Penulis
Sangatlah mustahil untuk menyangkali bahwa penipuan telah mendapatkan tempat yang empuk dalam Islam untuk menanamkan akarnya, dan menyebut (Islam) sebagai rumahnya. Kita lihat bahwa Islam sebagai sebuah sistem keagamaan mengijinkan dan bahkan menganjurkan dusta dan penipuan sebagai sebuah aspek spesifik dalam kehidupan religius keagamaan. Pembauran yang tidak lazim antara agama dan penipuan telah menghasilkan implikasi besar baik dalam hal penyebaran Islam di Barat maupun dalam diskusi kita mengenai akhir jaman.
IMPLIKASI-IMPLIKASI BAGI ISLAM DI BARAT
Berkenaan dengan implikasi-implikasi pada jaman ini, Abdullah Al-Araby berkomentar:
“Prinsip memberlakukan dusta bagi tujuan Islam mendatangkan implikasi besar dalam hal penyebaran agama Islam di Barat. Para aktivis Muslim melakukan taktik-taktik yang menipu dalam usaha mereka untuk memoles citra Islam dan membuatnya menjadi lebih menarik untuk mendapatkan para pengikut baru”. 14
Secara pribadi saya telah menyaksikan dinamika ini hingga pada titik jenuh. Dan yang juga memusingkan adalah kenyataan bahwa ada begitu banyak orang Kristen, yang entah karena kurang pengetahuan atau tidak ingin terlihat terlalu bertentangan (dengan Islam), mengijinkan penipuan terjadi tanpa adanya pemeriksaan. Sebagai contoh, ketika orang-orang Amerika menyaksikan banyak orang yang disebut sebagai Muslim moderat membuat pidato-pidato untuk membela natur jinak dari “agama damai”, setelah peristiwa 11 September; kebanyakan dari para pembicara ini ketahuan telah salah mempresentasikan natur Islam yang sejati. Kami telah memberikan contoh mengenai Omar Ahmed, Ketua Dewan CAIR dalam pasal terdahulu. Orang-orang Muslim ini, bersikap seperti orang yang “moderat” membenarkan kekeliruan mereka dalam menghadirkan Islam karena dalam pikiran mereka, mereka sedang melindungi Islam dan juga orang Muslim Amerika dari “petaka”. Sebenarnya ini adalah bentuk “kontrol kerusakan”. Sayangnya, orang-orang Kristen dan orang Amerika bahkan para pemimpin politis pada umumnya, entah sangat ingin percaya akan sisi baik orang lain untuk menenteramkan diri mereka sendiri dalam masa ketidapastian yang besar ini, atau melalui pembodohan Barat yang tak terelakkan melalui pencekokan relativitas moral yang konstan dan kebijakan-kebijakan politis, memakan mentah-mentah penipuan ini – seperti ikan yang melahap umpan, mata kail dan pancingnya sekaligus. Mereka yang bersikeras untuk menyampaikan kebenaran tentang natur Islam yang sebenarnya dipandang sebagai tidak bertoleransi atau penuh kebencian, atau kedua-duanya. Inilah pola yang diikuti ketika ada sebuah kejahatan besar dilakukan oleh Islam. Perhatikanlah, dan anda akan melihatnya lagi, dan lagi.
IMPLIKASI-IMPLIKASI TERHADAP AKHIR JAMAN
Tentu saja implikasi-implikasi dari doktrin berdusta dalam Islam sangat jelas terlihat sehubungan dengan diskusi kita mengenai akhir jaman. Gambaran Alkitab mengenai akhir jaman adalah gambaran mengenai penipuan yang memerintah dunia secara absolut. Jelas terlihat dalam teks-teks Perjanjian Baru yang berbicara mengenai akhir jaman, para penulisnya menekankan bahwa orang percaya harus berhati-hati agar tidak tertipu. Berikut ini ada beberapa contoh peringatan semacam itu.
Sesaat sebelum Yesus dibawa untuk disalibkan, Ia berdiskusi dengan para murid-Nya mengenai akhir jaman. Peringatan pertama-Nya adalah bahwa mereka harus berhati-hati agar tidak tertipu.
Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?" Jawab Yesus kepada mereka: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!
Matius 24:3-4
Yesus juga mengingatkan mereka akan kuasa penipuan ini:
dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang.
Matius 24:10-11
Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu.
Matius 24:24-25
Demikian pula Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika, ia mengingatkan gereja akan pentingnya kewaspadaan menghadapi penipuan:
Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba. Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa,
Paulus kemudian menjelaskan penipuan yang akan datang sebagai “delusi yang sangat kuat”.
2 Tesalonika 2:1-3
Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. Dan itulah sebabnya Tuhan mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, 12 supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan.
2 Tesalonika 2:9-12
KESIMPULAN
Saya mengerti bahwa menuduh orang sebagai pendusta adalah sebuah penghinaan. Namun menurut saya adalah penting untuk menunjukkan secara keseluruhan kenyataan bahwa Muhammad, Qur’an dan Hadith, demikian pula para sarjana Islam yang terkemuka, semuanya mengijinkan berdusta sebagai satu sarana untuk mencapai sejumlah tujuan. Saya telah mendokumentasikan fakta ini dengan jelas, tidak mengada-ada. Ini bukanlah sebuah tuduhan tak berdasar yang dibuat oleh “orang-orang sesat” (julukan yang secara ironis diberikan Qur’an kepada non-Muslim), tetapi sungguh itu adalah sebuah doktrin dan praktek yang kuat di dalam Islam. Sementara saya memahami bahwa hal ini terasa seperti sebuah pernyataan yang keras, kebenarannya (secara sederhana) adalah: Islam sebagai sebuah sistem keagamaan adalah putra dari Sang Bapa Segala Dusta, yaitu Iblis. Makhluk demonis yang secara terang-terangan menyiksa Muhammad di gua Hira adalah makhluk yang sama yang menginspirasikan doktrin-doktrin penipuan yang kotor, dan yang telah dengan sangat jelas mempengaruhi agama Islam sebagaimana yang kita kenal sekarang. Sementara saya sangat yakin bahwa komentar-komentar ini akan menghina banyak orang Muslim, tanggapan saya adalah meminta mereka agar tidak sakit hati pada saya karena saya melaporkan informasi ini, namun saya meminta mereka agar menunjukkan kemarahan mereka terhadap tradisi-tradisi Muhammad dan para sarjana Islam yang bukan hanya memaklumi, namun menganjurkan untuk melakukan perbuatan seperti itu (berdusta, menipu). Itu adalah tingkah-laku yang mestinya tidak ditemukan di kalangan orang-orang yang menyebut dirinya sebagai orang-orang yang saleh. Alkitab mengajak semua orang untuk berjuang meneladani Bapa Sorgawi mereka yang benar, sang Pencipta semua terang dan sumber segala kebenaran.
Sementara banyak orangsetuju bahwa agama dan penipuan tidak dapat berbaur menjadi satu, sudah jelas bahwa dalam Islam penipuan dan agama saling mendukung satu sama lain dan mengembangkan hubungan mutualisme. Demikian pula kita dapat yakin bahwa di akhir jaman penipuan dan agama akan terjalin dengan sangat erat sehingga akan menyulitkan bahkan “orang-orang pilihan” untuk menilai apa itu kebenaran. Sekali lagi, Islam menemukan dirinya menggenapi sebuah gambaran utama lainnya mengenai sistem yang dimiliki Anti Kristus di akhir jaman.
Ketika seseorang mulai penasaran dan ingin mulai mempelajari Islam, pertama-tama penting baginya untuk memahami tingkatan dimana di dalam Islam, berbohong tidak hanya diijinkan, namun sebenarnya dianjurkan dan bahkan seringkali diperintahkan. Ketika seorang Kristen ingin mengajar orang lain mengenai kekristenan, mudah sekali memahami bahwa kejujuran adalah sebuah aspek esensial dari pengajaran itu. Namun dalam Islam, banyak orang Barat yang mengalami kesulitan mencerna kenyataan bahwa (ada) niat untuk melebih-lebihkan sesuatu, menutupi kebenaran dan kadangkala kebohongan yang jelas-jelas dilakukan adalah bagian inti dari agama Islam. Sebenarnya ada doktrin-doktrin dan tradisi-tradisi spesifik yang memupuk budaya ketidakjujuran dalam Islam. Kini tentunya, ada beberapa ayat dan tradisi dalam Islam yang tidak sepakat dengan dusta:
“Dan janganlah menutupi Kebenaran dengan kepalsuan, atau menutupi Kebenaran sedangkan kamu mengetahui (apa yang benar)”. Sura 2:42 (Yusuf Ali)
Namun sayangnya, seperti yang akan kita lihat, bagi banyak orang Muslim, pengecualian-pengecualian terhadap sebuah peraturan kemudian malah menjadi peraturan itu sendiri.
PENIPUAN DAN JIHAD
Agar dapat memahami bagaimana suatu agama dapat merasionalisasi dan membenarkan dusta, secara singkat pertama-tama kita harus kembali memperhatikan konsep jihad dan tujuan-tujuan Islam. Kita telah mendiskusikan hal ini dalam pasal terdahulu, tetapi saya akan mengemukakan lagi bahwa jihad pada dasarnya dipandang dalam Islam sebagai suatu perjuangan untuk membawa segala sesuatu untuk tunduk kepada Allah dan Islam. Medan pertempuran tempat jihad dilakukan dapat dilihat pada sebuah spektrum. Salah satu sisi dari spektrum itu adalah perjuangan batiniah seseorang. Perjuangan ini dilakukan oleh semua Muslim yang ingin mengatasi kelemahan-kelemahan pribadinya, atau setan-setan dalam dirinya. Ketika kita menyeberangi spektrum ini maka kita akan melihat adanya kebutuhan untuk mengobarkan jihad agar orang lain tunduk kepada Islam. Tentu inilah yang di dalam kekristenan disebut dengan penginjilan. Di dalam Islam hal ini disebut Dakwah. Beranjak turun dari spektrum itu ada perintah Islam agar Muslim menguasai suatu daerah dan pada akhirnya pemerintahan-pemerintahan nasional. Sayangnya, inilah titik dimana wajah Islam yang sebenarnya tampak, yaitu wajah Islam yang kejam dan seringkali ditunjukkan dengan jihad, yang biasanya mendatangkan pertumpahan darah. Kenyataan ini terlihat di seluruh dunia saat ini. Jadi, sementara banyak orang di Barat menyangka jihad hanyalah perjuangan melawan pemerintahan dan bangsa non-Muslim dan sebagainya, konsep dalam Islam sesungguhnya meliputi seluruh aspek kehidupan. Maka dalam pikiran Muslim, bahkan perjuangan untuk mentobatkan non-Muslim kepada Islam adalah bagian dari jihad. Penginjilan di dalam Islam adalah lebih daripada sekedar “mewartakan Kabar Baik”, melainkan sesungguhnya inilah perang. Dengan mengingat hal ini, penting untuk kita perhatikan perkataan Muhammad yang terkenal yaitu,”Perang adalah penipuan”.1 Maka, ketika berhadapan dengan non-Muslim, Islam menganjurkan orang Muslim untuk menggunakan mentalitas perang/jihad yang agresif yang secara literal berarti penipuan. Tentunya hingga seorang non-Muslim menyadari tingkatan dimana mentalitas ini berlaku ketika berhadapan dengan Muslim, akan sangat mudah untuk kehilangan penilaian obyektif yang sehat. Ketika berhadapan dengan seseorang yang berniat menipu, mempercayai seseorang – seperti yang banyak dilakukan oleh orang Barat dewasa ini, adalah seperti domba yang digiring ke pembantaian. Mentalitas penginjilan seperti jihad ini juga mendapatkan dukungannya di bawah kategori dua doktrin spesifik yang disebut Kithman dan Taqiya.
KITHMAN: MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN
Kithman adalah perintah untuk terang-terangan menutupi imannya. Ini adalah suatu bentuk dusta yang terutama sekali dipraktekkan oleh kaum minoritas Muslim Syiah. Doktrin ini dikemukakan oleh Imam Jafar Sadiq, Imam ke-6 dari Islam Syiah:
“Orang yang memperlihatkan sesuatu dari agama kita adalah seperti orang yang berniat untuk membunuh kita”. 2
“Anda adalah milik sebuah agama yang barangsiapa menutupinya, Allah akan menghormatinya dan barangsiapa menyingkapkannya, Allah akan mempermalukannya”.3
Jadi kaum Muslim Syiah diperintahkan untuk dengan sengaja menyembunyikan apa yang sungguh mereka percayai untuk menyesatkan pihak luar berkenaan dengan natur sebenarnya dari agama mereka. Kita pasti akan langsung teringat pada perkataan Yesus, ketika Ia mengatakan kepada para murid-Nya agar jangan pernah menyembunyikan agama mereka:
Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
Matius 5:14-16
Namun, orang-orang Muslim Syiah adalah “milik sebuah agama yang barangsiapa menutupinya, maka Allah akan menghormatinya dan barangsiapa menyatakannya, maka Allah akan mempermalukannya”. Itulah doktrin Kithman. Bagi kebanyakan orang Barat, konsep ini tidak terbayangkan dan sama sekali bertentangan dengan akal sehat. Jika anda memiliki sesuatu yang baik, maka bagikanlah. Jika anda mempunyai sesuatu yang ingin anda sembunyikan, maka kemungkinan besar saya pun tidak menginginkannya.
Secara esensial tidak ada perbedaan antara doktrin Kithman dan doktrin Taqiya. Taqiya, oleh seorang komentator Muslim Syiah, didefinisikan sebagai berikut:
“Kata ‘al-Taqiya’ secara literal berarti: ‘menutupi atau menyamarkan iman seseorang, keyakinan, gagasan, perasaan, pendapat dan/atau strategi dalam suatu keadaan bahaya/darurat, baik sekarang maupun nanti, untuk menyelamatkan diri dari luka/sakit secara fisik dan/atau mental’. Satu kata saja untuk menterjemahkannya: penipuan”. 4
Namun, komentator yang sama dari sebuah artikel dalam A Shite Encyclopedia, menyatakan bahwa , “Roh ‘al-Taqiyya’ yang sebenarnya berarti ‘diplomasi’”. Memang, diplomasi adalah sebuah definisi yang sangat “diplomatif”.
Doktrin Kithman dan Taqiya seringkali dikatakan semata-mata sebagai doktrin Syiah. Orang Muslim Sunni menyangkali kedua doktrin tersebut sebagai bagian dari tradisi mereka. Sayangnya, hal itu sendiri juga semata-mata hanyalah sebuah penipuan lain lagi. Berikut ini, kita akan membahas beberapa tradisi Sunni yang membuktikan aplikasi universal Taqiya dalam Islam.
TAQIYA: DASAR UNTUK PENIPUAN
Qur’an secara literal mengajarkan bahwa Muslim diijinkan untuk menyangkali iman mereka untuk melindungi diri. Orang Muslim yang menyangkali iman mereka akan diampuni selama iman mereka yang sesungguhnya tidak tergoyahkan (Misalnya, penyangkalan mereka adalah kebohongan yang murni); dan hanya jika penyangkalan iman mereka bertujuan untuk menghindari masalah (terutama jika hidup diantara orang non-Muslim):
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dada untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar”. Sura 16:106
Sarjana Sunni, Ibn Kathir, menguraikan makna ayat ini dalam komentari klasiknya tentang Qur’an:
“Ini adalah mengenai sekelompok orang yang tertindas di Mekkah dan orang-orang yang berada dalam posisi lemah terhadap bangsanya sendiri, sehingga mereka bersepakat dengan orang-orang itu ketika mereka dicobai oleh orang sebangsanya...Allah mengatakan kepada mereka bahwa setelah ini, artinya setelah mereka menyerah (kepada orang non-Muslim dengan menyangkali iman mereka) ketika dicobai, Ia akan mengampuni mereka dan menunjukkan kemurahan kepada mereka ketika mereka dibangkitkan kembali”.5
Selama seorang Muslim tinggal di sebuah negara dimana Islam adalah minoritas, dalam “sebuah negara yang dilemahkan”, maka penipuan diijinkan. Ketika ditantang oleh orang non-Muslim untuk menghujat Allah, mereka “bersepakat dengan mereka”. Kisah nyata tentang bagaimana ayat diatas “diwahyukan” kepada Muhammad adalah sebagai berikut:
“Orang-orang kafir menangkap ‘Ammar Ibn Yasir dan menyiksanya hingga ia mengucapkan kata-kata kotor tentang Nabi (Muhammad), dan memuji dewa-dewa dan berhala-berhala mereka; dan ketika mereka melepaskannya, ia langsung menemui Nabi. Nabi berkata: ‘Apakah yang kau pikirkan?’ ‘Ammar Ibn Yasir berkata: ‘Kabar buruk! Mereka tidak mau melepaskan saya sampai saya menistamu dan memuji dewa-dewa mereka!’ Nabi berkata: ‘Bagaimana dengan isi hatimu?’ ‘Ammar menjawab: ‘Tetap beriman’. Maka nabi berkata: ‘Jika mereka mencarimu lagi, maka lakukanlah lagi hal yang sama’. Pada saat itu Allah mewahyukan ayat ini:’...kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman...” Sura 16:106. 6
Jadi Muhammad benar-benar menganjurkan orang Muslim untuk berdusta dan menghujat dan menyangkali iman mereka jika hal itu akan melindungi mereka, asal mereka “tetap tenang dalam beriman”. Ibn Abbas, seorang narator tradisi yang sangat terkenal dan diakui oleh golongan Sunni mengkonfirmasi gagasan ini:
“Taqiya (hanyalah) ucapan lidah, sedangkan hati tetap dalam iman”. 7
Hal ini tentunya sangat berbeda dengan jutaan orang Kristen di sepanjang sejarah yang menolak menyangkali Kristus, dan oleh karena itu menerima kematian dan menjadi martir. Qur’an juga memerintahkan orang Muslim agar tidak bersahabat dengan siapapun yang bukan Muslim – dan sekali lagi, kecuali jika hal itu dapat melindungi orang Muslim dari kesulitan:
“Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai sahabat atau penolong dan bukannya orang-orang beriman: jika kamu melakukannya maka tidak ada pertolongan dari Allah: kecuali kamu menjaga dirimu sepenuhnya terhadap mereka”.
Sura 3:28
Ibn Kathir kembali berkomentar:
“Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman agar tidak menjadi penyokong orang-orang kafir, atau mengambil mereka sebagai sahabat dan membangun persahabatan dengan mereka...Allah memperingatkan tingkah-laku seperti itu ketika Ia berkata, ‘Wahai kamu yang beriman! Janganlah mengambil musuh-musuh-Ku dan musuh-musuhmu sebagai sahabat, menunjukkan kebaikan kepada mereka. Dan barangsiapa melakukannya, maka sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus’. Dan, ‘Wahai kamu yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang Yahudi dan orang Kristen sebagai sahabat, mereka adalah sahabat bagi satu sama lain. Dan barangsiapa bersahabat dengan mereka, maka sesungguhnya, ia adalah salah-satu dari mereka’. Allah kemudian berkata, ‘Kecuali kamu takut akan bahaya dari mereka,’ artinya, kecuali mereka (orang Muslim) yang ada di wilayah-wilayah atau di suatu waktu mengkuatirkan keamanan mereka terancam oleh orang-orang kafir. Dalam hal ini, orang beriman semacam itu diijinkan untuk menunjukkan (di permukaan) persahabatan kepada orang-orang kafir, namun tidak dengan tulus hati. Sebagai contoh, Al-Bukhari mencatat bahwa Abu Ad-Darda’ berkata, ‘Kami tersenyum di hadapan orang sedangkan hati kami mengutuki mereka”. 8
penekanan oleh Penulis
Ibn Kathir kemudian terus menyangkali, bahwa gagasan mengenai Taqiya hanya berlaku di kalangan Muslim Syiah ketika ia berkata, “Taqiya diijinkan hingga Hari Kebangkitan”. Kita melihat bahwa Taqiya sesungguhnya adalah doktrin bagi semua Muslim yang secara literal mengijinkan mereka untuk menyangkali aspek apapun dari iman mereka dan untuk melindungi mereka dari marabahaya. Namun persoalannya, dalam prakteknya, istilah “marabahaya” juga mencakup (semata-mata) mengganggu reputasi seseorang yang merupakan representasi Islam, dan seperti yang akan kita lihat, tradisi Islam mengijinkan penipuan digunakan untuk beberapa tujuan lainnya juga.
PENIPUAN DIBENARKAN UNTUK MEMPEROLEH KEKAYAAN
Namun, di samping komentar Ibn Kathir, banyak orang akan mengklaim (kemungkinan besar ini juga adalah sebuah taktik penipuan) bahwa Taqiya hanya dapat digunakan untuk melindungi hidup seseorang. Jauh daripada itu. Muhammad bahkan mengijinkan untuk berdusta untuk memperoleh kekayaan:
“Setelah orang-orang Muslim menaklukkan kota Khaybar, nabi didekati oleh Hajaj Ibn ‘Aalat dan berkata: ‘Wahai nabi Allah: di Mekkah saya mempunyai kelebihan harta dan beberapa kerabat, dan saya menginginkannya kembali; apakah saya akan diampuni jika saya menjelek-jelekkanmu agar terhindar dari penganiayaan?’ Nabi memakluminya dan berkata: ‘Katakanlah apa saja yang harus kau katakan”.9
Pendekatan “tujuan menghalalkan cara” terhadap kehidupan dan agama, yang diteladankan Muhammad nampak sangat jelas disini. Dan ada banyak contoh lain lagi yang menceritakan bagaimana Muhammad menganjurkan para pengikutnya untuk berdusta sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir dari keberlanjutan Islam.
PENIPUAN DIBENARKAN UNTUK MEMBUNUH
MUSUH-MUSUH ISLAM
“Rasul Allah berkata, ‘Siapakah yang ingin membunuh Ka’b bin al-Ashraf yang telah menyakiti Allah dan rasul-Nya?’ Lalu Muhammad bin Maslama berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasul Allah! Apakah anda menghendaki agar saya membunuhnya?’ Nabi berkata, ‘Ya’. Muhammad bin Maslama berkata, ‘Maka ijinkanlah saya untuk mengatakan sesuatu (yang jahat) (Misalnya untuk menipu Kab)’. Nabi berkata, ‘kamu boleh mengatakannya”. 10
Abdullah al-Araby seorang otoritas Islam kelahiran Timur Tengah, dalam sebuah artikel berjudul Berbohong dalam Islam, menceritakan sebuah kisah mengenai sikap permisif Muhammad terhadap dusta agar dapat membunuh musuh-musuhnya. Kali ini korbannya bernama Shaaban Ibn Khalid al-Hazly:
“Ada kabar burung bahwa Shaaban mengumpulkan pasukan untuk memerangi Muhammad. Muhammad membalas dendam dengan memerintahkan Abdullah Ibn Anis untuk membunuh Shaaban. Calon pembunuh ini meminta ijin kepada Muhammad untuk berbohong. Muhammad menyetujuinya dan kemudian memerintahkan si pembunuh ini untuk berbohong dengan mengatakan bahwa ia adalah anggota dari klan Khazaa. Ketika Shaaban melihat Abdullah datang, ia bertanya padanya, ‘Anda berasal dari suku apa?’ Abdullah menjawab, ‘dari Khazaa’. Kemudian ia menambahkan, ‘Saya mendengar bahwa anda mengumpulkan pasukan untuk memerangi Muhammad dan saya ingin bergabung dengan anda’. Abdullah lalu berjalan dengan Shaaban dan menceritakan padanya bagaimana Muhammad mendatangi mereka dan memberikan ajaran-ajaran Islam yang menyesatkan, dan mengeluh bagaimana Muhammad telah menjelek-jelekkan para partriarkh Arab dan menghancurkan pengharapan-pengharapan Arab. Mereka terus berbincang hingga mereka tiba di kemah Shaaban. Pengikut-pengikut Shaaban sudah pergi dan Shaaban mengundang Abdullah untuk masuk ke dalam kemah dan beristirahat. Abdullah duduk disana hingga keadaan menjadi tenang dan yakin bahwa semua orang sudah tertidur. Abdullah memenggal kepala Shaaban dan membawanya kepada Muhammad sebagai sebuah trofi. Ketika Muhammad melihat Abdullah, dengan girang ia berteriak, ‘Wajahmu penuh dengan kemenangan (Aflaha al-wajho)’. Abdullah membalas salam nabi dengan berkata, ‘Wajahmulah Rasul Allah, yang penuh kemenangan. (Aflaka wajhoka, ye rasoul Allah)”.
Sekali lagi kita lihat, berbohong diijinkan untuk berbagai alasan. Selama tujuannya adalah untuk mendukung cita-cita Muhammad atau Islam, dusta diijinkan dan itu mengabaikan semua larangan penting terhadap dusta. Dalam hal ini dusta diijinkan untuk dapat membunuh seseorang yang kematiannya diinginkan Muhammad. Sayangnya, oleh karena Islam menjunjung Muhammad sebagai teladan tertinggi bagi semua Muslim dalam bertingkah-laku, sikap yang sama ini dilakukan oleh banyak pengikut Muhammad pada jaman sekarang.
PENIPUAN UNTUK MENCAPAI TUJUAN DAN KEMAKMURAN
Imam al-Ghazali, salah seorang teolog Muslim dan juga seorang filsuf yang sangat ternama, bahkan lebih melonggarkan lagi ijin untuk berdusta. Menurut Ghazali, berdusta diijinkan selama ada tujuan positif yang nyata atau menguntungkan yang dapat diperoleh:
“Berbicara adalah sarana untuk mencapai sesuatu. Jika sebuah tujuan yang baik dapat dicapai baik dengan berkata jujur maupun berdusta, tidaklah sah untuk mendapatkannya dengan berdusta karena itu tidak perlu. Jika ada kemungkinan untuk mencapai tujuan semacam itu dengan berdusta tetapi tidak dengan berkata jujur, maka dusta diijinkan jika mencapai tujuan itu dimungkinkan. 12
penekanan oleh Penulis
“Ketahuilah bahwa dusta itu sendiri bukanlah dosa, tetapi jika itu mencelakai anda maka itu adalah sesuatu yang buruk. Namun, anda dapat berdusta jika itu akan menjaga anda terhadap yang jahat atau akan membawa kemakmuran”. 13
penekanan oleh Penulis
Sangatlah mustahil untuk menyangkali bahwa penipuan telah mendapatkan tempat yang empuk dalam Islam untuk menanamkan akarnya, dan menyebut (Islam) sebagai rumahnya. Kita lihat bahwa Islam sebagai sebuah sistem keagamaan mengijinkan dan bahkan menganjurkan dusta dan penipuan sebagai sebuah aspek spesifik dalam kehidupan religius keagamaan. Pembauran yang tidak lazim antara agama dan penipuan telah menghasilkan implikasi besar baik dalam hal penyebaran Islam di Barat maupun dalam diskusi kita mengenai akhir jaman.
IMPLIKASI-IMPLIKASI BAGI ISLAM DI BARAT
Berkenaan dengan implikasi-implikasi pada jaman ini, Abdullah Al-Araby berkomentar:
“Prinsip memberlakukan dusta bagi tujuan Islam mendatangkan implikasi besar dalam hal penyebaran agama Islam di Barat. Para aktivis Muslim melakukan taktik-taktik yang menipu dalam usaha mereka untuk memoles citra Islam dan membuatnya menjadi lebih menarik untuk mendapatkan para pengikut baru”. 14
Secara pribadi saya telah menyaksikan dinamika ini hingga pada titik jenuh. Dan yang juga memusingkan adalah kenyataan bahwa ada begitu banyak orang Kristen, yang entah karena kurang pengetahuan atau tidak ingin terlihat terlalu bertentangan (dengan Islam), mengijinkan penipuan terjadi tanpa adanya pemeriksaan. Sebagai contoh, ketika orang-orang Amerika menyaksikan banyak orang yang disebut sebagai Muslim moderat membuat pidato-pidato untuk membela natur jinak dari “agama damai”, setelah peristiwa 11 September; kebanyakan dari para pembicara ini ketahuan telah salah mempresentasikan natur Islam yang sejati. Kami telah memberikan contoh mengenai Omar Ahmed, Ketua Dewan CAIR dalam pasal terdahulu. Orang-orang Muslim ini, bersikap seperti orang yang “moderat” membenarkan kekeliruan mereka dalam menghadirkan Islam karena dalam pikiran mereka, mereka sedang melindungi Islam dan juga orang Muslim Amerika dari “petaka”. Sebenarnya ini adalah bentuk “kontrol kerusakan”. Sayangnya, orang-orang Kristen dan orang Amerika bahkan para pemimpin politis pada umumnya, entah sangat ingin percaya akan sisi baik orang lain untuk menenteramkan diri mereka sendiri dalam masa ketidapastian yang besar ini, atau melalui pembodohan Barat yang tak terelakkan melalui pencekokan relativitas moral yang konstan dan kebijakan-kebijakan politis, memakan mentah-mentah penipuan ini – seperti ikan yang melahap umpan, mata kail dan pancingnya sekaligus. Mereka yang bersikeras untuk menyampaikan kebenaran tentang natur Islam yang sebenarnya dipandang sebagai tidak bertoleransi atau penuh kebencian, atau kedua-duanya. Inilah pola yang diikuti ketika ada sebuah kejahatan besar dilakukan oleh Islam. Perhatikanlah, dan anda akan melihatnya lagi, dan lagi.
IMPLIKASI-IMPLIKASI TERHADAP AKHIR JAMAN
Tentu saja implikasi-implikasi dari doktrin berdusta dalam Islam sangat jelas terlihat sehubungan dengan diskusi kita mengenai akhir jaman. Gambaran Alkitab mengenai akhir jaman adalah gambaran mengenai penipuan yang memerintah dunia secara absolut. Jelas terlihat dalam teks-teks Perjanjian Baru yang berbicara mengenai akhir jaman, para penulisnya menekankan bahwa orang percaya harus berhati-hati agar tidak tertipu. Berikut ini ada beberapa contoh peringatan semacam itu.
Sesaat sebelum Yesus dibawa untuk disalibkan, Ia berdiskusi dengan para murid-Nya mengenai akhir jaman. Peringatan pertama-Nya adalah bahwa mereka harus berhati-hati agar tidak tertipu.
Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?" Jawab Yesus kepada mereka: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!
Matius 24:3-4
Yesus juga mengingatkan mereka akan kuasa penipuan ini:
dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang.
Matius 24:10-11
Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu.
Matius 24:24-25
Demikian pula Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika, ia mengingatkan gereja akan pentingnya kewaspadaan menghadapi penipuan:
Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba. Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa,
Paulus kemudian menjelaskan penipuan yang akan datang sebagai “delusi yang sangat kuat”.
2 Tesalonika 2:1-3
Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. Dan itulah sebabnya Tuhan mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, 12 supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan.
2 Tesalonika 2:9-12
KESIMPULAN
Saya mengerti bahwa menuduh orang sebagai pendusta adalah sebuah penghinaan. Namun menurut saya adalah penting untuk menunjukkan secara keseluruhan kenyataan bahwa Muhammad, Qur’an dan Hadith, demikian pula para sarjana Islam yang terkemuka, semuanya mengijinkan berdusta sebagai satu sarana untuk mencapai sejumlah tujuan. Saya telah mendokumentasikan fakta ini dengan jelas, tidak mengada-ada. Ini bukanlah sebuah tuduhan tak berdasar yang dibuat oleh “orang-orang sesat” (julukan yang secara ironis diberikan Qur’an kepada non-Muslim), tetapi sungguh itu adalah sebuah doktrin dan praktek yang kuat di dalam Islam. Sementara saya memahami bahwa hal ini terasa seperti sebuah pernyataan yang keras, kebenarannya (secara sederhana) adalah: Islam sebagai sebuah sistem keagamaan adalah putra dari Sang Bapa Segala Dusta, yaitu Iblis. Makhluk demonis yang secara terang-terangan menyiksa Muhammad di gua Hira adalah makhluk yang sama yang menginspirasikan doktrin-doktrin penipuan yang kotor, dan yang telah dengan sangat jelas mempengaruhi agama Islam sebagaimana yang kita kenal sekarang. Sementara saya sangat yakin bahwa komentar-komentar ini akan menghina banyak orang Muslim, tanggapan saya adalah meminta mereka agar tidak sakit hati pada saya karena saya melaporkan informasi ini, namun saya meminta mereka agar menunjukkan kemarahan mereka terhadap tradisi-tradisi Muhammad dan para sarjana Islam yang bukan hanya memaklumi, namun menganjurkan untuk melakukan perbuatan seperti itu (berdusta, menipu). Itu adalah tingkah-laku yang mestinya tidak ditemukan di kalangan orang-orang yang menyebut dirinya sebagai orang-orang yang saleh. Alkitab mengajak semua orang untuk berjuang meneladani Bapa Sorgawi mereka yang benar, sang Pencipta semua terang dan sumber segala kebenaran.
Sementara banyak orangsetuju bahwa agama dan penipuan tidak dapat berbaur menjadi satu, sudah jelas bahwa dalam Islam penipuan dan agama saling mendukung satu sama lain dan mengembangkan hubungan mutualisme. Demikian pula kita dapat yakin bahwa di akhir jaman penipuan dan agama akan terjalin dengan sangat erat sehingga akan menyulitkan bahkan “orang-orang pilihan” untuk menilai apa itu kebenaran. Sekali lagi, Islam menemukan dirinya menggenapi sebuah gambaran utama lainnya mengenai sistem yang dimiliki Anti Kristus di akhir jaman.
Langganan:
Postingan (Atom)